BERITA TERKINI
Ribuan Santri Lirboyo Ikuti Pelatihan Literasi Keuangan Syariah, Diminta Waspadai Pinjol Ilegal dan Investasi Bodong

Ribuan Santri Lirboyo Ikuti Pelatihan Literasi Keuangan Syariah, Diminta Waspadai Pinjol Ilegal dan Investasi Bodong

Ribuan santri Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, mengikuti pelatihan literasi keuangan syariah yang digelar Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) melalui program Santri Cakap Literasi Keuangan Syariah (SAKINAH). Kegiatan ini ditujukan untuk memperkuat pemahaman pengelolaan keuangan sekaligus meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai modus kejahatan finansial.

Pelatihan tersebut menyoroti ancaman yang kian menyasar kalangan muda, termasuk santri, seperti investasi bodong, pinjaman online (pinjol) ilegal, dan penipuan digital. Kepala OJK Kediri, Ismirani Saputri, menyebut peningkatan literasi keuangan syariah sebagai langkah strategis untuk melindungi masyarakat dari risiko kejahatan keuangan.

Ismirani menilai santri memiliki peran penting sebagai agen perubahan. Melalui program SAKINAH, OJK berharap para santri tidak hanya memahami prinsip keuangan syariah, tetapi juga dapat menyebarkan edukasi tersebut kepada masyarakat.

Dalam pemaparannya, OJK mengingatkan sejumlah ciri penipuan yang perlu diwaspadai. Di antaranya tawaran investasi dengan imbal hasil tinggi dalam waktu singkat tanpa risiko, penggunaan nama tokoh atau lembaga untuk meyakinkan korban, serta layanan pinjol ilegal yang menawarkan pencairan instan tanpa transparansi.

Santri juga dibekali pemahaman terkait ancaman kejahatan siber, termasuk pencurian data pribadi dan penyalahgunaan kode OTP. Materi ini disampaikan agar santri tidak mudah terjebak dalam praktik keuangan ilegal.

OJK turut memaparkan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 yang menunjukkan adanya peningkatan literasi keuangan syariah. Meski demikian, tingkat inklusi yang dinilai belum optimal disebut masih membuka celah yang dapat dimanfaatkan pelaku kejahatan.

Menurut Ismirani, tantangan yang dihadapi antara lain mendorong keuangan syariah menjadi pilihan utama masyarakat. Selain itu, akses yang belum merata serta inovasi produk yang dinilai belum sepenuhnya sesuai kebutuhan juga menjadi perhatian.

Selain kewaspadaan terhadap penipuan, pelatihan ini membekali santri kemampuan dasar pengelolaan keuangan, mulai dari menyusun anggaran, membedakan kebutuhan dan keinginan, hingga pentingnya menabung dan berinvestasi. OJK berharap bekal tersebut dapat memperkuat ketahanan finansial santri sekaligus meminimalkan risiko menjadi korban penipuan.

OJK Kediri menargetkan para santri dapat menjadi garda terdepan dalam menyebarkan literasi keuangan dan meningkatkan kewaspadaan masyarakat. Ismirani menyatakan pihaknya ingin membentuk generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga bijak dalam mengambil keputusan keuangan.

Sementara itu, Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, KH Abdullah Kafabihi Mahrus, menegaskan pesantren memiliki peran strategis sebagai pilar pembentukan karakter generasi bangsa. Ia menyebut Lirboyo sebagai salah satu pesantren besar dengan santri yang datang dari berbagai daerah di Indonesia hingga mancanegara, seperti Malaysia dan Thailand.

Menurutnya, tidak sedikit alumni Lirboyo yang melanjutkan studi ke Timur Tengah, antara lain ke Mesir, Yaman, dan Maroko. Ia juga menilai di tengah tantangan sosial yang semakin kompleks, pesantren tetap menjadi benteng moral bagi generasi muda.

KH Abdullah Kafabihi Mahrus menambahkan, di luar lingkungan pesantren terdapat berbagai persoalan sosial yang dapat memengaruhi generasi muda. Namun, ia menilai lingkungan pesantren, khususnya di Lirboyo, tetap terjaga dan menjadi harapan bagi masa depan bangsa.