Rangkaian kegiatan “Road to Pekan Reksa Dana 2026” kembali digelar sebagai upaya meningkatkan literasi dan inklusi keuangan di Indonesia. Program ini diinisiasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Bursa Efek Indonesia (BEI) dan pelaku industri pasar modal.
Kegiatan tersebut berlangsung di sejumlah kota, antara lain Surabaya, Semarang, Bandung, Medan, dan Makassar. Agenda ini diposisikan sebagai momentum untuk mendorong masyarakat memahami instrumen investasi, khususnya reksa dana, sebagai bagian dari perencanaan keuangan jangka panjang.
Dengan semangat edukasi dan inklusi, “Road to Pekan Reksa Dana 2026” menekankan pentingnya investasi yang mudah diakses, aman, serta sesuai profil risiko masyarakat. Sejumlah kampanye turut dihadirkan, seperti #ReksaDanaAja dan PINTAR Reksa Dana, untuk menyederhanakan pemahaman publik terhadap investasi reksa dana.
Sejalan dengan gerakan tersebut, Bibit.id menegaskan perannya dalam mendorong program Systematic Investment Plan (SIP) atau Nabung Rutin. Program ini mengajak masyarakat berinvestasi secara konsisten dan disiplin tanpa harus menunggu modal besar. Bibit juga menyebut telah lama mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya investasi berkala sebagai strategi membangun kekayaan secara berkelanjutan.
Head of PR & Corporate Communication Bibit.id, William, mengatakan pihaknya menyambut baik ketika gerakan yang didorong sejak lama kini menjadi agenda bersama regulator dan pelaku industri. “Terima kasih kepada OJK, BEI, teman-teman di industri, dan rekan-rekan media. Bersama kita perkuat industri reksa dana dan membantu masyarakat Indonesia membangun masa depan keuangan yang lebih baik,” ujarnya, Rabu (15/4/2026).
Pekan Reksa Dana 2026 diharapkan tidak berhenti sebagai kampanye sesaat, melainkan menjadi katalis perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola keuangan. Kolaborasi regulator, pelaku industri, dan platform digital disebut menjadi faktor penting untuk mempercepat transformasi literasi keuangan di Indonesia.
Dalam penjelasan terkait tema gerakan ini, SIP disebut menggabungkan strategi power of compounding dan dollar cost averaging. Melalui SIP, investor menyetorkan dana ke reksa dana dalam jumlah yang sama, terjadwal, dan mengikuti horizon waktu sesuai tujuan keuangan. Contohnya, apabila seseorang menargetkan membeli hunian dalam 10 tahun, strategi SIP dinilai dapat membantu berinvestasi secara disiplin, fleksibel, dan dalam portofolio yang terdiversifikasi.
Dede Suryanto, praktisi perencana investasi sekaligus dosen Universitas Indonesia pada Program Studi Administrasi Keuangan dan Perbankan serta Ketua Digital Financial Center (DFC) Universitas Indonesia, menilai makna menabung saat ini telah berubah. Menurutnya, dulu menabung identik dengan menyisihkan uang rutin dan menyimpannya di tabungan atau deposito. Namun, ia mengatakan, dewasa ini fungsi menabung bergeser karena nilai uang dapat tergerus biaya administrasi, pajak, dan inflasi, sehingga sebagian masyarakat memilih menyimpannya dalam instrumen investasi yang relatif aman dan lebih menguntungkan, seperti reksa dana.
Dede menekankan bahwa disiplin berinvestasi dan ketepatan memilih instrumen merupakan kunci untuk mencapai tujuan keuangan. Ia menjelaskan, SIP pada dasarnya adalah menyisihkan dana secara rutin dalam periode tertentu, berkomitmen pada tujuan keuangan, serta menahan dorongan untuk menjual reksa dana sebelum target tercapai. Ia juga menegaskan esensi SIP bukan menganjurkan investasi dalam jumlah besar, melainkan mendorong kebiasaan investasi yang rutin dan terencana, disertai diversifikasi untuk mengurangi risiko berinvestasi pada satu instrumen saja.