Nilai tukar rupiah kembali melemah dan menembus level Rp 17.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Tekanan pada rupiah disebut dipengaruhi kombinasi faktor ekonomi makro dan dinamika global.
Berdasarkan data Google Finance, pada Rabu (15/4/2026) pukul 15.27 WIB, rupiah tercatat berada di level Rp 17.147 per dolar AS. Posisi ini lebih lemah dibandingkan penutupan hari sebelumnya yang berada di Rp 17.135,75 per dolar AS.
Ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM) Eddy Junarsin menjelaskan, dari sisi ekonomi makro, salah satu pemicu pelemahan rupiah dapat berasal dari inflasi domestik yang lebih tinggi dibandingkan inflasi di AS.
“Secara umum, negara dengan tingkat inflasi yang lebih tinggi cenderung mengalami depresiasi mata uang,” ujar Eddy saat dihubungi pada Rabu.
Menurut Eddy, pelemahan rupiah yang menembus Rp 17.000 tidak terlepas dari perpaduan tekanan ekonomi makro dan perkembangan situasi global.