Sylvia Lazuarni, Direktur PT Home Credit Indonesia, dinobatkan sebagai The Most Outstanding Women in Multifinance Industry dalam ajang “Infobank 500 Most Outstanding Women 2026” yang digelar di Solo, Jawa Tengah, Jumat (17/4). Penghargaan tersebut menempatkannya sebagai salah satu figur kepemimpinan perempuan di industri multifinance yang kian strategis.
Bagi Sylvia, pencapaian karier tidak semata diukur dari jabatan. Ia menekankan pentingnya makna dan dampak nyata dari perjalanan profesional, termasuk kontribusi terhadap masyarakat. Dalam pandangannya, perempuan masa kini bukan sekadar pelengkap, melainkan penggerak ekonomi.
Sejak Februari 2022, Sylvia menjabat Direktur sekaligus Chief Financial and Operations Officer (CFO & COO) Home Credit Indonesia. Dalam peran itu, ia mengawal stabilitas keuangan dan memastikan operasional perusahaan selaras dengan strategi bisnis, termasuk pada masa transisi perusahaan setelah akuisisi oleh Mitsubishi UFJ Financial Group (MUFG).
Rekam jejak karier Sylvia terbentuk dari pengalaman lintas industri. Lulusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia ini mengawali karier melalui program Officer Development Program di perbankan. Ia kemudian berkarier lebih dari delapan tahun di IBM, sebelum melanjutkan kiprah di Microsoft Indonesia, Philips Healthcare sebagai CFO, hingga KONE Corporation.
Di luar peran korporasi, Sylvia menaruh perhatian pada literasi keuangan dan pemberdayaan UMKM perempuan. Salah satunya melalui edukasi kepada ratusan pelaku UMKM perempuan di Solo yang digelar Infobank. Menurutnya, akses pembiayaan tanpa pemahaman yang memadai dapat menjadi risiko bagi pelaku usaha.
Ia juga menyoroti tantangan era digital yang menghadirkan peluang sekaligus ancaman. Di satu sisi, teknologi memperluas akses pembiayaan dan kesempatan berusaha. Di sisi lain, risiko seperti penipuan, pinjaman ilegal, hingga judi online dapat menjerat mereka yang tidak memiliki kesiapan dan pengetahuan yang cukup. Karena itu, ia menekankan perlunya literasi, kesadaran, dan keberanian mengambil keputusan finansial secara bijak.
Dalam kesempatan itu, Sylvia memaparkan data yang menunjukkan besarnya potensi UMKM di Solo. Dari puluhan ribu UMKM di Indonesia, sekitar 12.000 pelaku usaha berada di Solo, dengan mayoritas pelaku disebut berasal dari kalangan perempuan. Menurutnya, angka tersebut bukan sekadar statistik, melainkan potensi ekonomi yang perlu diperkuat agar tidak tertinggal dalam arus digitalisasi.
Di internal perusahaan, Sylvia mendorong pemerataan literasi keuangan lintas generasi melalui program “Duit Cerdas”. Program ini ditujukan untuk membangun pemahaman finansial yang inklusif dan relevan bagi berbagai kelompok usia, dari baby boomers hingga Gen Z. Materinya mencakup edukasi pengelolaan keuangan, pemahaman kredit yang sehat, pengelolaan utang secara bijak, serta kewaspadaan terhadap risiko digital seperti pinjaman ilegal, fraud, dan jebakan konsumsi instan.
“Duit Cerdas” dirancang sebagai gerakan literasi yang menjangkau karyawan, mitra, hingga masyarakat luas, melalui pelatihan langsung, sesi interaktif, maupun kampanye edukasi berbasis digital. Tujuannya tidak hanya meningkatkan pengetahuan, tetapi juga membentuk perilaku finansial yang lebih bertanggung jawab dan berkelanjutan.
Di tengah tuntutan profesi, Sylvia menyampaikan pandangannya tentang pendekatan work-life integration. Ia menilai narasi work-life balance tidak selalu cukup menggambarkan kompleksitas kehidupan modern. Menurutnya, ada masa ketika pekerjaan membutuhkan fokus penuh, namun ada pula fase ketika keluarga menjadi prioritas. Baginya, yang utama adalah menyelaraskan peran secara utuh.
Sylvia juga menekankan bahwa kesuksesan tidak berhenti pada pencapaian pribadi. Ia melihat nilai kontribusi sebagai ukuran penting, yakni sejauh mana seseorang memberi manfaat bagi orang lain, memperkuat lingkungan, dan berkontribusi bagi bangsa.
Di hadapan ratusan pelaku UMKM perempuan di Solo, Sylvia menyampaikan keyakinannya bahwa pemberdayaan perempuan, terutama melalui pendidikan dan literasi keuangan, dapat memberi efek berlipat ganda dari tingkat keluarga hingga ekonomi nasional. Ia menilai kegiatan literasi keuangan yang diselenggarakan Infobank sebagai langkah positif dan bermanfaat, serta mendorong agar misi edukasi bagi perempuan Indonesia terus dijalankan.