Token AI—unit dasar yang dipakai model bahasa untuk memproses teks—kian dipandang sebagai komoditas strategis dalam ekonomi digital. Di tengah ketatnya kontrol ekspor chip AI oleh Amerika Serikat (AS) dan perdebatan regulasi data di Eropa, China mendorong pendekatan berbeda: menjadikan token AI sebagai produk layanan komputasi yang dipasarkan secara massal ke dunia, dengan harga jauh lebih murah dibanding penyedia AS.
Perubahan ini membuat keputusan memilih penyedia model AI tak lagi semata urusan teknis atau biaya, melainkan menyentuh isu ketergantungan infrastruktur, lokasi pusat data, serta arsitektur teknologi yang menopang layanan AI global. Model-model China seperti DeepSeek dan Qwen (Alibaba) disebut menawarkan harga 20 hingga 40 kali lebih rendah daripada sebagian model Amerika, sehingga mempercepat adopsi di berbagai pasar, terutama di negara-negara Global South.
Apa itu token dan mengapa menjadi penting
Dalam model bahasa, teks dipecah menjadi token—fragmen yang kira-kira setara dengan tiga perempat kata—lalu diproses berurutan untuk menghasilkan jawaban. Dalam skema layanan API, pelanggan umumnya membayar berdasarkan jumlah token yang diproses, baik token input maupun output. Karena itu, token tidak hanya menjadi ukuran teknis, tetapi juga satuan transaksi yang membentuk ekonomi layanan AI.
Selama ini, pasar token secara implisit banyak ditentukan oleh perusahaan AS seperti OpenAI, Anthropic, dan Google, baik dari sisi harga maupun infrastruktur. Namun, masuknya model-model China dengan harga rendah menggeser struktur pasar: pemilihan model AI mulai berkaitan dengan pertanyaan “pusat data siapa” dan “infrastruktur siapa” yang memproses permintaan dunia.
Alibaba membentuk Token Hub dan memperbesar investasi
Pada 16 Maret 2026, CEO Alibaba Eddie Wu mengumumkan pembentukan unit bisnis baru bernama Alibaba Token Hub melalui memo internal. Unit ini menggabungkan lima bagian yang sebelumnya terpisah: Laboratorium Tongyi (riset), platform MaaS (Model-as-a-Service) sebagai infrastruktur distribusi, lini produk Qwen untuk konsumen, penawaran AI perusahaan Wukong, serta unit inovasi AI.
Wu menyebut misi unit tersebut sebagai “menciptakan token, mendistribusikan token, dan menggunakan token.” Ia menggambarkan struktur baru itu seperti jaringan listrik: Tongyi Lab sebagai “pembangkit”, MaaS sebagai “jaringan transmisi”, dan produk akhir sebagai “perangkat konsumen”. Dalam kerangka ini, Alibaba menempatkan diri bukan sekadar sebagai konglomerat dengan divisi AI, melainkan penyedia infrastruktur AI.
Alibaba juga mengumumkan rencana investasi sekitar US$53 miliar dalam tiga tahun untuk infrastruktur AI dan cloud. Perusahaan menyatakan angka tersebut melampaui total belanja modal grup selama satu dekade terakhir, dan pada saat pengumuman Wu mengindikasikan investasi itu bisa meningkat seiring lonjakan permintaan.
Perang harga token: selisih puluhan kali lipat
Salah satu pendorong utama ekspansi model China adalah perbedaan harga. Analisis Bernstein menyebut DeepSeek menawarkan harga 20 hingga 40 kali lebih rendah daripada model AS. Dalam contoh yang dikutip, model Reasoner DeepSeek diperkirakan sekitar US$0,55 untuk satu juta token input, sementara model-model OpenAI seperti GPT-4.5 dan o1 termasuk yang paling mahal di pasar. Secara praktis, layanan yang bisa bernilai sekitar US$50 per satu juta token di infrastruktur OpenAI disebut tersedia di DeepSeek sekitar US$1 hingga US$2.
Menurut uraian dalam materi referensi, selisih ini dikaitkan dengan efisiensi struktural: pelatihan model DeepSeek R1 disebut hanya menghabiskan US$294.000, sementara model sebanding di AS bisa menelan biaya puluhan juta dolar. Strategi teknis yang disebut berperan adalah penggunaan arsitektur “campuran pakar” (mixture of experts) yang tidak mengaktifkan seluruh parameter untuk setiap kueri. Faktor lain yang disebut turut menekan biaya adalah subsidi pemerintah untuk infrastruktur AI, tingkat gaji teknik yang lebih rendah dibanding Silicon Valley (disebut 50–60% lebih rendah), serta insentif pajak untuk riset dan pengembangan.
Dengan jarak harga sebesar itu, pemilihan penyedia AI bagi perusahaan rintisan dan pelanggan korporasi di berbagai negara cenderung menjadi keputusan bisnis. Kondisi ini memperkuat posisi model China dalam merebut volume penggunaan.
Lonjakan konsumsi token dan pergeseran penggunaan global
Skala pertumbuhan ekonomi token di China digambarkan meningkat sangat cepat. Rata-rata konsumsi token harian disebut naik dari 100 miliar pada awal 2024 menjadi 100 triliun pada akhir 2025. Pada Maret 2026, Biro Statistik Nasional China melaporkan angka lebih dari 140 triliun token per hari. Wakil direktur biro statistik tersebut, Mao Shengyong, menafsirkan lonjakan ini sebagai indikasi adopsi luas aplikasi AI di industri.
Di tingkat internasional, platform agregasi API OpenRouter mencatat model-model China mencapai volume token mingguan 7,36 triliun token pada pekan 15 Maret 2026, melampaui model AS untuk minggu ketiga berturut-turut. Pada periode itu, empat dari lima model paling banyak digunakan berdasarkan volume token disebut berasal dari China. Total volume token mingguan global di OpenRouter tercatat 20,4 triliun token, dengan pertumbuhan lebih dari 20% per minggu.
JPMorgan, menurut referensi yang sama, memperkirakan konsumsi token inferensi AI di China meningkat dari sekitar 10 kuadriliun pada 2025 menjadi sekitar 3.900 kuadriliun pada 2030, atau naik 370 kali lipat dalam lima tahun.
Dimensi geopolitik: ketergantungan baru lewat pusat data
Di balik ekspor token, terdapat logika geopolitik yang lebih luas. Skema yang digambarkan adalah: pengguna di luar negeri memanggil model AI China, permintaan diproses di pusat data China menggunakan chip dan listrik di China, lalu hasilnya dikirim kembali sebagai token dan ditagihkan. Selain pendapatan, pola ini membentuk ketergantungan teknis dan ekonomi terhadap infrastruktur yang berada dalam yurisdiksi China.
Pendekatan ini dikaitkan dengan konsep Jalur Sutra Digital, termasuk upaya membangun kemitraan melalui investasi infrastruktur digital, inisiatif pendidikan, dan solusi tata kelola cerdas. Materi referensi juga menyebut pembentukan Organisasi Data Dunia pada 2026 yang memiliki 200 anggota dari lebih 40 negara, dengan tujuan menetapkan standar internasional terkait data.
Open-source dan ekspansi pangsa pasar
Strategi sumber terbuka disebut menjadi alat penting untuk menurunkan hambatan adopsi. DeepSeek dan Qwen dipaparkan membuka akses model secara luas. Pangsa pasar DeepSeek di pasar chatbot global disebut mencapai 4%. Keluarga model Qwen disebut telah diunduh lebih dari 700 juta kali pada Januari 2026 dan digambarkan sebagai sistem AI sumber terbuka yang paling banyak digunakan. Secara keseluruhan, model AI China disebut mencapai pangsa pasar global sekitar 15% pada November 2025, naik dari hampir nol setahun sebelumnya.
Dalam beberapa negara, angka yang dikutip lebih tinggi: pangsa pasar DeepSeek disebut 89% di China, 56% di Belarus, 49% di Kuba, dan sekitar 43% di Rusia.
Isu chip: titik lemah dan upaya substitusi
Meski ekspansi token berjalan cepat, referensi menekankan isu semikonduktor sebagai kerentanan utama. Sejak Oktober 2022, AS melarang penjualan chip AI berkinerja setara Nvidia A100 ke China, dan pembatasan diperluas serta diperketat. Pada Mei 2025, Departemen Perdagangan AS memperingatkan bahwa penggunaan chip Ascend Huawei dapat berpotensi melanggar aturan kontrol ekspor AS karena pengembangan dan produksinya dikaitkan dengan proses serta peralatan AS.
Huawei disebut merencanakan produksi sekitar 600.000 unit Ascend 910C pada 2026. Alibaba, ByteDance, dan Tencent dilaporkan memesan dalam jumlah besar, dan DeepSeek disebut mengembangkan model V4 sepenuhnya menggunakan perangkat keras Huawei sebagai bukti konsep. Namun, Council on Foreign Relations memperkirakan bahwa bahkan dengan proyeksi optimistis hingga 2027, Huawei hanya menghasilkan sekitar 4% dari total daya komputasi AI yang dihasilkan Nvidia.
Di sisi lain, analisis CSIS yang dikutip menyimpulkan kontrol ekspor AS justru mengoordinasikan permintaan chip domestik dengan produsen China, sehingga produsen semikonduktor China kini menguasai 41% pasar domestik. Pembatasan ekspor dinilai memengaruhi ketergantungan pada perangkat keras Barat, tetapi tidak memutus “siklus fisik” yang terkait basis manufaktur China dan data dunia nyata dari aplikasi industri.
Global South sebagai pasar prioritas
Strategi ekspor token China digambarkan memprioritaskan negara berkembang dan Global South, yang cenderung lebih sensitif harga dan memiliki infrastruktur digital yang lebih lemah. Asia Tenggara disebut menjadi contoh penting: pada 2026, Malaysia dikatakan menjadi negara pertama di luar China yang mengaktifkan ekosistem AI “sepenuhnya berdaulat” berbasis chip Huawei Ascend.
Afrika juga disebut sebagai kawasan kunci. Pangsa pasar DeepSeek di beberapa negara seperti Ethiopia dan Uganda dikutip berada pada kisaran 11–14%. Meski masih satu digit atau belasan persen, arah pertumbuhan dinilai signifikan dalam konteks kelangkaan akses AI yang terjangkau.
Data sebagai nilai strategis yang tidak terlihat
Selain pendapatan token, referensi menyoroti nilai lain: data penggunaan yang tercipta dari setiap permintaan. Permintaan API menghasilkan pola interaksi dan sampel bahasa yang tetap berada di pusat data, menjadi bahan pelatihan untuk model generasi berikutnya. Dalam ekosistem manufaktur besar, data produksi real-time dari aplikasi industri di China juga disebut menjadi keunggulan yang sulit direplikasi.
Analisis USCC menggambarkan dua lingkaran umpan balik: lingkaran digital (model terbuka mendorong adopsi global dan pengembangan) dan lingkaran fisik (basis manufaktur menghasilkan data dunia nyata eksklusif). Kontrol ekspor dinilai memengaruhi lingkaran digital, tetapi tidak menghentikan lingkaran fisik.
Respons Barat dan dilema Eropa
Respons Barat digambarkan belum padu. AS memperketat kontrol ekspor chip, tetapi referensi juga menyebut pada Desember 2025 pemerintahan Trump menyetujui penjualan chip Nvidia H200 ke China. Pada saat yang sama, Kongres AS membahas Undang-Undang MATCH yang akan membatasi penjualan peralatan litografi imersi ASML lama ke China—menciptakan kebijakan paralel yang disebut tidak selalu searah.
Eropa disebut lebih banyak menjadi pengamat. Fokus regulasi pada perlindungan data dan standar keamanan AI dinilai tidak menjawab pertanyaan tentang infrastruktur komputasi mana yang akan menopang layanan AI Eropa. Dalam konteks ini, keputusan perusahaan—misalnya memilih API untuk otomasi dokumen atau layanan pelanggan—disebut berpotensi membawa implikasi geopolitik karena menyangkut pusat data dan yurisdiksi pengolahan data.
Batasan strategi token dan pertanyaan profitabilitas
Referensi menilai strategi token China tetap memiliki batasan: ketergantungan pada chip berperforma tinggi, risiko kedaulatan data bagi pengguna asing, serta pertanyaan apakah harga rendah dapat menghasilkan profit yang cukup untuk menutup investasi infrastruktur besar. Persaingan harga domestik yang ketat disebut menekan margin. Namun, proyeksi pertumbuhan konsumsi token yang besar dipandang menunjukkan pasar yang berpotensi luas.
Token sebagai “minyak” baru—dengan karakter berbeda
Perbandingan token dengan minyak disebut tidak sepenuhnya tepat, tetapi dianggap membantu memahami sifatnya sebagai komoditas yang nilainya bertumpu pada infrastruktur produksi dan distribusi: pusat data, chip, model, dan platform. Bedanya, token dapat direproduksi tanpa batas dan nilainya meningkat seiring kualitas model serta akumulasi data penggunaan.
Dengan konsumsi token harian China yang disebut menembus 140 triliun, pangsa pasar global model China sekitar 15%, dan rencana investasi Alibaba US$53 miliar, pergeseran ini digambarkan bukan sekadar taktik pemasaran jangka pendek, melainkan strategi industri jangka panjang. Dampaknya, pada akhirnya, akan banyak ditentukan oleh pilihan para pengembang dan perusahaan di berbagai negara saat mengintegrasikan API model AI ke dalam produk dan layanan mereka.