Universitas Surabaya (Ubaya) memperkuat peran sebagai penghubung antara dunia akademik dan industri melalui upaya peningkatan literasi keuangan serta kesiapan kerja mahasiswa, terutama di sektor perdagangan. Inisiatif ini dijalankan melalui Fakultas Bisnis dan Ekonomi (FBE) Ubaya.
FBE Ubaya menjalin kolaborasi strategis dengan PT Valbury Asia Futures dan Jakarta Futures Exchange (JFX) dalam program Futures Trading Learning Program (FTLP). Program tersebut dirancang untuk memberikan pemahaman komprehensif mengenai industri perdagangan berjangka komoditi.
Dekan FBE Ubaya, Prof. Putu Anom Mahadwartha, menekankan pentingnya sinergi kampus dan pelaku industri agar pembelajaran selaras dengan kebutuhan dunia kerja. Menurutnya, materi dari praktisi akan menjadi bagian dari proses belajar, sehingga mahasiswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga realitas di lapangan.
Ia menjelaskan, FTLP tidak hanya berfokus pada aspek teoritis. Program ini juga memberi pengalaman praktis melalui simulasi trading dan interaksi langsung dengan pelaku industri. Dengan pendekatan tersebut, mahasiswa diharapkan mampu membedakan investasi yang sehat dari praktik spekulatif berisiko tinggi.
Selain itu, Prof. Putu menyebut mahasiswa juga ditargetkan memiliki pemahaman mengenai standar profesionalisme di industri keuangan agar siap membawa kompetensi aplikatif saat memasuki dunia kerja.
Branch Manager PT Valbury Asia Futures Semarang, Ronald Chandra, menyatakan kerja sama ini membuka akses lebih luas bagi mahasiswa untuk memahami pasar keuangan berbasis praktik. Ia juga menyebut mahasiswa berkesempatan mengikuti program magang di industri Perdagangan Berjangka Komoditi (PBK) sebagai bekal untuk meningkatkan kesiapan karier.
Implementasi FTLP direncanakan berlangsung berkelanjutan, dimulai dari pembentukan program di lingkungan kampus hingga penyelenggaraan seminar, workshop, dan kelas trading dengan pendampingan praktisi dari Valbury dan JFX.
Kolaborasi tersebut turut dirangkaikan dengan seminar bertajuk “Introduction to the Futures Industry” yang menghadirkan Investment Research Analyst Miftah Faridh Nasir serta Direktur Utama JFX, Yazid Kanca Surya.
Dalam paparannya, Yazid menyoroti pentingnya pemahaman risiko di tengah maraknya tren investasi digital di kalangan generasi muda. Ia mengingatkan bahwa investasi bukan cara instan untuk memperoleh keuntungan, melainkan proses jangka panjang yang memerlukan pemahaman, disiplin, dan pengelolaan risiko yang baik.
Yazid juga mengingatkan mahasiswa agar tidak terjebak fenomena fear of missing out (FOMO) dan mampu mengambil keputusan investasi secara rasional berdasarkan literasi serta analisis yang matang.
Melalui kerja sama ini, Ubaya berharap dapat melahirkan talenta muda yang profesional dan kompeten, sekaligus berkontribusi bagi pengembangan industri keuangan nasional, khususnya di sektor perdagangan berjangka komoditi.