Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu menggandeng Hannah Asa Indonesia untuk memperkuat peran dosen dan tenaga kependidikan sebagai agen edukasi keuangan di lingkungan kampus.
Rektor UIN Datokarama Palu Lukman Thahir mengatakan transformasi peran dosen menjadi kunci untuk menjawab tantangan sosial dan ekonomi yang terus berubah. Menurut dia, dosen tidak lagi hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai educator, mentor, dan advisor.
Ia menilai kemampuan membimbing aspek kehidupan nyata, termasuk pengelolaan keuangan, semakin relevan. Dalam konteks itu, Lukman menyebut institusi pendidikan memiliki peran strategis untuk menjembatani kesenjangan antara pengetahuan dan praktik, terutama terkait literasi keuangan.
Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui pelatihan enterpreneurship program Associate Wealth Planner Syariah (AWPS). Peserta pelatihan berasal dari dosen dan tenaga kependidikan Fakultas Sains dan Teknologi (FSAINTEK) serta Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam (FDKI).
Program AWPS merupakan intervensi berbasis praktik dengan materi yang mencakup perencanaan keuangan syariah, manajemen utang dan pengelolaan zakat, perencanaan tujuan hidup seperti haji, pendidikan, dan pensiun, simulasi keuangan berbasis aplikasi, serta literasi pasar modal.
Founder Hannah Asa Indonesia Mardiyah menekankan bahwa pendekatan literasi keuangan perlu mengalami transformasi. Ia merujuk Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 yang mencatat tingkat literasi keuangan Indonesia sebesar 66,46 persen, sementara tingkat inklusi keuangan mencapai 80,51 persen.
Menurut Mardiyah, peningkatan inklusi keuangan perlu diikuti kemampuan masyarakat dalam mengambil keputusan finansial yang tepat. Ia menyebut literasi tidak cukup berhenti pada pengetahuan, tetapi harus menjadi sistem dan perilaku.
Ia juga menyoroti kondisi di wilayah Indonesia Timur yang tingkat literasi keuangannya masih berada di bawah rata-rata nasional. Karena itu, ia menilai pendekatan literasi perlu lebih kontekstual, berbasis wilayah, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Melalui AWPS, Mardiyah mengatakan pelatihan menekankan implementasi langsung, bukan sekadar pemahaman teoritis. Dengan pendekatan tersebut, peserta diharapkan mampu menerapkan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari sekaligus mengedukasi mahasiswa dan masyarakat luas.