Harga minyak mentah dunia berbalik turun tajam setelah sempat melonjak dalam beberapa pekan terakhir. Pada penutupan perdagangan Senin, 9 Maret 2026, harga minyak Brent dan West Texas Intermediate (WTI) dilaporkan merosot hingga di bawah 90 dolar AS per barel, dari level tertinggi sebelumnya yang sempat menyentuh 119 dolar AS per barel.
Penurunan ini terjadi menyusul pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang memberi sinyal deeskalasi konflik. Dalam sebuah wawancara, Trump menilai tensi militer dengan Iran sudah berada pada posisi yang “sangat lengkap”, yang dipandang sebagai indikasi bahwa Amerika Serikat kemungkinan tidak akan memperpanjang serangan fisik.
Meski turun, harga minyak saat ini masih tergolong tinggi dibandingkan periode sebelum serangan gabungan AS-Israel ke Iran pada akhir Februari. Situasi ini dinilai tetap menimbulkan guncangan besar pada pasokan energi global.
Peneliti Cornell University, Nicholas Mulder, menyebut krisis tersebut masih berpotensi menjadi guncangan pasokan energi paling signifikan dalam sejarah modern. Ia menilai gangguan yang terjadi dapat menjadi guncangan pasokan minyak terbesar, dengan jumlah minyak yang hilang dari pasar global disebut mencapai tiga hingga empat kali lebih besar dibandingkan krisis 1973.
Salah satu faktor utama yang memengaruhi pasokan adalah tersumbatnya Selat Hormuz. Sekitar 15 juta barel minyak, atau sekitar 20% pasokan dunia, biasanya melewati jalur ini setiap hari. Jika penutupan berlanjut, pemulihan teknis diperkirakan memerlukan waktu berminggu-minggu, sehingga risiko inflasi jangka panjang dinilai masih membayangi.
Sebelumnya, lonjakan harga bahan bakar telah menekan daya beli masyarakat, mulai dari harga bensin hingga tarif listrik. Di tengah kondisi tersebut, ekonomi Asia dipandang sebagai kawasan yang paling rentan karena ketergantungan tinggi pada impor energi dari Timur Tengah, terutama China yang disebut menjadi tujuan utama ekspor minyak Iran.

