Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memicu kekhawatiran terhadap ekonomi global. Lonjakan harga minyak yang dipengaruhi konflik yang melibatkan Iran dinilai berpotensi meningkatkan risiko resesi di Amerika Serikat, seiring kemungkinan naiknya inflasi dan melemahnya pertumbuhan.
Konflik yang melibatkan Iran dipandang dapat memicu guncangan pada harga energi dunia. Ketika pasokan minyak terganggu, biaya transportasi, logistik, dan produksi cenderung meningkat. Dampak lanjutan dari kenaikan biaya tersebut dapat terasa pada inflasi, sekaligus menekan aktivitas ekonomi jika berlangsung berkepanjangan.
Survei stabilitas keuangan Federal Reserve menunjukkan sekitar 38–46% responden kini menilai konflik di Timur Tengah sebagai risiko sistemik utama. Penilaian ini disebut melampaui kekhawatiran terhadap inflasi, menandakan meningkatnya perhatian pelaku pasar pada potensi dampak geopolitik terhadap stabilitas ekonomi dan keuangan.
Minyak memiliki peran besar dalam rantai pasok global. Kenaikan harga energi dapat menyebar cepat ke berbagai sektor, mulai dari transportasi dan listrik hingga biaya bahan baku industri. Analisis Capital Economics yang dilaporkan Investing.com memperkirakan lonjakan harga minyak dapat menambah sekitar 0,6–0,7% pada inflasi apabila konflik berlangsung lama.
Tekanan inflasi yang meningkat dapat menempatkan bank sentral dalam posisi sulit. Di satu sisi, inflasi perlu dikendalikan, namun di sisi lain kebijakan moneter yang terlalu ketat dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi serta menekan investasi.
Di pasar kripto, Bitcoin tercatat mengalami koreksi setelah sebelumnya dinilai berada dalam kondisi overbought. Analisis JPMorgan yang dilaporkan CoinDesk menyebut Bitcoin masih tergolong overbought meski sudah mengalami penurunan harga baru-baru ini. Kondisi tersebut mengindikasikan sebagian investor mulai melakukan aksi ambil untung setelah reli sebelumnya.
Data pasar juga menunjukkan arus masuk ETF Bitcoin spot masih menjadi faktor penting yang memengaruhi sentimen investor. Namun, jika arus dana tersebut melambat, volatilitas harga berpotensi meningkat.
Secara keseluruhan, lonjakan harga minyak akibat ketegangan yang melibatkan Iran menambah ketidakpastian bagi ekonomi global. Jika gangguan pasokan energi berlanjut, inflasi dapat meningkat dan risiko resesi di Amerika Serikat bisa menguat. Dalam situasi seperti ini, aset berisiko—termasuk Bitcoin—berpotensi menghadapi tekanan dalam jangka pendek, meski sebagian analis menilai penurunan terbaru lebih mencerminkan koreksi setelah fase overbought daripada sinyal perubahan tren yang lebih besar.

