BERITA TERKINI
Harga Minyak Melonjak di Atas US$115, Pasar Obligasi Global Tertekan

Harga Minyak Melonjak di Atas US$115, Pasar Obligasi Global Tertekan

Pasar obligasi global tertekan pada awal pekan ini seiring memburuknya konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang mendorong harga minyak melonjak tajam. Kenaikan harga energi memicu kekhawatiran investor terhadap potensi peningkatan inflasi dan dampaknya terhadap arah kebijakan suku bunga ke depan.

Harga minyak dunia tercatat naik lebih dari 20% hingga melampaui US$115 per barel pada Senin (9/3). Kenaikan ini disebut sebagai yang tertinggi sejak Juli 2022 dan terjadi di tengah perang yang telah berlangsung selama sepekan di Timur Tengah.

Konflik tersebut membuat sejumlah produsen minyak utama di kawasan mengurangi pasokan. Pada saat yang sama, kekhawatiran atas potensi gangguan pengiriman melalui Selat Hormuz turut meningkatkan kecemasan pelaku pasar.

Head of Research K2 Asset Management George Boubouras menyampaikan bahwa lonjakan harga minyak mencerminkan ketidakpastian mengenai berapa lama konflik akan berlangsung. Ia menilai harga minyak yang tinggi berpotensi menjadi hambatan bagi pertumbuhan ekonomi global sekaligus menambah tekanan inflasi.

Kekhawatiran inflasi yang meningkat memunculkan spekulasi bahwa bank sentral dunia mungkin harus mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, bahkan berpotensi kembali menaikkannya. Kondisi ini mengurangi daya tarik obligasi sebagai aset aman, sehingga investor mulai menyesuaikan ekspektasi kebijakan moneter dalam waktu dekat.

Pelaku pasar kini memperkirakan pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve baru akan terjadi pada September, mundur dari perkiraan sebelumnya di kisaran Juni atau Juli.

Imbal hasil obligasi naik

Di kawasan Asia-Pasifik, imbal hasil obligasi pemerintah Australia tenor tiga tahun melonjak 16 basis poin menjadi 4,592%, level tertinggi sejak pertengahan 2011. Imbal hasil obligasi pemerintah Australia tenor 10 tahun naik 13 basis poin menjadi 4,977%. Dalam pasar obligasi, kenaikan imbal hasil umumnya terjadi ketika harga obligasi turun.

Di Tokyo, imbal hasil obligasi pemerintah Jepang meningkat di seluruh tenor. Nilai tukar yen turut tertekan karena lonjakan harga minyak memperbesar kekhawatiran terhadap perekonomian Jepang yang sangat bergantung pada impor energi.

Di pasar keuangan yang lebih luas, investor juga melakukan aksi jual pada saham dan logam mulia, mencerminkan sikap menghindari risiko. Dalam situasi tersebut, dolar Amerika Serikat menjadi aset yang lebih diminati.

Ed Yardeni dari Yardeni Research menilai gejolak pasar keuangan saat ini sangat terkait dengan ketidakpastian di Selat Hormuz. Ia berpendapat guncangan harga minyak tidak akan mereda sampai jalur pelayaran melalui selat strategis tersebut kembali aman.

Menurut Yardeni, pasar keuangan berpotensi semakin khawatir terhadap skenario stagflasi seperti era 1970-an, yakni kondisi ketika pertumbuhan ekonomi melambat namun inflasi tetap tinggi.

Tekanan meluas ke AS dan Eropa

Di Amerika Serikat, imbal hasil obligasi pemerintah tenor dua tahun—yang sensitif terhadap ekspektasi kebijakan bank sentral—naik 5,9 basis poin menjadi 3,6146%. Pada pekan sebelumnya, imbal hasil obligasi tersebut telah meningkat lebih dari 17 basis poin.

Di Eropa, kontrak berjangka obligasi pemerintah Jerman dan Prancis turun pada Senin, mengindikasikan tekanan jual yang berpotensi meluas di kawasan tersebut. Kontrak berjangka obligasi Bund Jerman turun 0,46%, sementara kontrak berjangka obligasi OAT Prancis melemah 0,67%.

Perkembangan geopolitik Iran

Dari sisi geopolitik, Iran pada Senin menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai penerus ayahnya, Ali Khamenei, sebagai pemimpin tertinggi Iran. Langkah ini dipandang sebagai sinyal bahwa kelompok garis keras tetap memegang kendali.

Chief Investment Strategist Saxo Charu Chanana mengatakan pasar menilai pemimpin baru Iran memiliki kedekatan dengan Garda Revolusi, yang menandakan kesinambungan kebijakan keras serta potensi meningkatnya risiko konfrontasi.

Chanana menambahkan, harga minyak menjadi kekhawatiran serius ketika kenaikannya tidak lagi bersifat sementara dan mulai memengaruhi inflasi, margin perusahaan, serta ekspektasi kebijakan ekonomi. Ia menyebut minyak mentah menjadi risiko makro yang nyata bagi investor ketika kenaikannya mulai menekan inflasi, profitabilitas, dan arah kebijakan.