Harga minyak dunia resmi melampaui 100 dolar AS per barel dalam perdagangan 8 Maret, sekitar 10 hari setelah pecahnya konflik AS-Israel-Iran pada 28 Februari. Level ini menjadi yang tertinggi sejak pecahnya perang Rusia-Ukraina pada Februari 2022.
Kenaikan harga terjadi ketika konflik memasuki pekan kedua dan diiringi eskalasi serangan terhadap infrastruktur energi. Situasi memburuk setelah Israel menyerang kilang minyak Iran, disusul serangan balasan Teheran terhadap negara-negara penghasil minyak di kawasan Teluk. Pada saat yang sama, pengiriman melalui Selat Hormuz—jalur yang dilalui sekitar 20% minyak dan gas dunia—ditangguhkan sejak konflik dimulai.
Sejak 28 Februari, harga minyak WTI naik lebih dari 75%, sedangkan Brent meningkat lebih dari 60% hingga 9 Maret. Tren kenaikan tajam ini dinilai belum menunjukkan tanda-tanda mereda dalam waktu dekat, memicu kekhawatiran akan krisis energi global.
Saul Kavonic, Direktur Riset Energi di MST Marquee (Australia), menilai harga minyak berpotensi terus naik setiap hari selama Selat Hormuz tetap ditutup. Ia mengatakan, meski AS dan negara-negara Barat mengerahkan kapal perang untuk mengawal kapal tanker melalui selat tersebut dapat mengurangi dampak, kondisi normal dinilai sulit kembali dalam waktu dekat.
Menurut Kavonic, bahkan dengan pengawalan, arus energi tetap akan terganggu karena konvoi kapal cenderung bergerak lebih lambat. Ia menambahkan, gas diperkirakan jauh lebih terdampak dibanding minyak, karena sebagian minyak dari Arab Saudi dan Uni Emirat Arab masih dapat diangkut tanpa melewati Selat Hormuz. Sementara itu, gas alam cair (LNG) disebut 100% bergantung pada jalur tersebut.
Di tengah situasi ini, pemerintah AS disebut memberikan jaminan bahwa kenaikan harga minyak akan segera berakhir. Sejumlah langkah juga muncul, termasuk rencana Kelompok Negara-Negara Industri untuk melepaskan tambahan 400 juta barel minyak dari cadangan mereka. Namun, risiko jangka menengah dinilai tetap meningkat.
Richard Tullis, CEO perusahaan riset strategi investasi AS WTR, mengatakan faktor yang akan memengaruhi harga minyak dalam jangka menengah adalah aktivitas pengiriman melalui Selat Hormuz dan efek psikologis di sekitarnya. Ia juga menyoroti potensi kerusakan yang meluas pada fasilitas energi di seluruh Timur Tengah sebagai faktor kedua yang dapat menekan pasar.
Dampak ekonomi yang lebih luas mulai dimodelkan para ekonom, terutama terhadap pertumbuhan global. Di Eropa, wilayah yang dinilai sangat rentan terhadap guncangan energi, harga gas berjangka naik 60% dalam sepekan terakhir. Dalam skenario harga gas melampaui 100 euro/MWh (115 dolar AS), beberapa pembangkit listrik di Eropa disebut berpotensi harus tutup dan memindahkan produksi ke Amerika Serikat.
Di Asia, kekhawatiran terkait pasokan minyak juga meningkat, baik dalam hitungan bulan maupun bahkan minggu, karena sebagian besar minyak yang melewati Selat Hormuz ditujukan ke kawasan tersebut. Francis Lun, CEO Venturesmart Asia yang berbasis di Hong Kong, menilai negara-negara Asia Timur—kecuali Malaysia dan Indonesia—merupakan importir minyak bersih. Menurutnya, kondisi ini meningkatkan tekanan inflasi, merusak aktivitas ekonomi, serta memperlambat pertumbuhan.
Dalam penilaian yang dirilis pekan lalu, Bank Pembangunan Asia (ADB) menyatakan bahwa jika konflik Timur Tengah tidak berlangsung lebih dari satu bulan, dampaknya terhadap perekonomian Asia cenderung relatif kecil. Kepala ekonom ADB Albert Park memperkirakan bahwa bahkan dalam skenario terburuk, pertumbuhan rata-rata ekonomi Asia tahun ini kemungkinan tidak turun lebih dari 1 poin persentase.
Namun, ADB menilai semakin lama konflik berlangsung, semakin besar kerusakan yang akan ditanggung perekonomian Asia dibandingkan Eropa atau AS. Maurice Obstfeld, mantan kepala ekonom Dana Moneter Internasional (IMF), juga menekankan bahwa ketergantungan Asia yang tinggi pada impor energi serta kedekatannya dengan zona konflik membuat kawasan ini lebih rentan terhadap guncangan.

