BERITA TERKINI
Kementerian Ekonomi Kreatif dan RMIT University Teken MoU Penguatan SDM Ekraf Indonesia-Australia

Kementerian Ekonomi Kreatif dan RMIT University Teken MoU Penguatan SDM Ekraf Indonesia-Australia

Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan RMIT University untuk memperkuat pengembangan sumber daya manusia (SDM) ekonomi kreatif antara Indonesia dan Australia. Penandatanganan berlangsung di Kantor Kementerian Ekraf, Jakarta, Selasa, 31 Maret 2026.

Menteri Ekraf Teuku Riefky Harsya mengatakan MoU tersebut mencerminkan komitmen kedua pihak dalam membangun ekosistem kreatif yang lebih kuat melalui dorongan inovasi, pembinaan talenta, serta persiapan SDM menghadapi masa depan. Ia menilai, di tengah dinamika ekonomi global, sektor kreatif terbukti tangguh sekaligus menjadi salah satu sumber utama pertumbuhan.

Kesepakatan ini berlaku selama tiga tahun sejak ditandatangani dan dapat diperpanjang berdasarkan persetujuan kedua pihak. Teuku Riefky menyebut kerja sama ini sebagai langkah maju penguatan kolaborasi di sektor ekonomi kreatif yang terus menghubungkan ide, talenta, dan peluang lintas negara. Ia juga menyoroti rekam jejak RMIT University dalam pendidikan vokasi dan kreatif, termasuk di bidang desain, arsitektur, teknologi digital, dan seni.

Melalui MoU tersebut, kedua pihak menyepakati lima bidang utama kerja sama. Pertama, pengembangan SDM dan mobilitas melalui pelatihan vokasi, sertifikasi, serta program pertukaran di subsektor gim, film, animasi, musik, teknologi digital, seni budaya, dan desain. Kedua, penguatan kewirausahaan dan inovasi melalui pengembangan inkubator, creative hub, serta program akselerasi dan pendampingan bagi pelaku usaha kreatif.

Ketiga, kerja sama riset dan dialog strategis yang mencakup penelitian bersama terkait tren industri serta partisipasi dalam forum kebijakan, simposium, dan diskusi internasional. Keempat, kolaborasi lintas budaya dan sektor melalui penyelenggaraan pameran, showcase, serta ko-produksi yang mendorong pertukaran budaya dan pertumbuhan ekonomi. Kelima, pengembangan bentuk kerja sama lain yang disepakati secara tertulis oleh kedua pihak.

Dalam kesempatan itu, Kementerian Ekraf menyebut ekonomi kreatif saat ini berkontribusi sekitar 7,3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional dengan dukungan lebih dari 27,4 juta tenaga kerja. Teuku Riefky menegaskan peran pemerintah adalah memastikan talenta di sektor tersebut memperoleh dukungan, pengembangan, serta akses terhadap peluang yang lebih luas.

Ia juga berharap kolaborasi dapat berkembang dalam bentuk program bersama, pertukaran, dan inisiatif peningkatan kapasitas, sekaligus membuka peluang lebih luas bagi talenta Indonesia untuk belajar dan berkembang dalam ekosistem global. Pada saat yang sama, Kementerian Ekraf menyatakan menyambut kehadiran RMIT yang lebih kuat di Indonesia sebagai bagian dari upaya mendorong visi Asta Cita, khususnya untuk mengembangkan ekonomi kreatif yang inovatif, kompetitif, dan inklusif.

Dari sisi tata kelola, kesepakatan ini menegaskan pentingnya perlindungan kekayaan intelektual. Masing-masing pihak tetap memiliki hak atas kekayaan intelektualnya, sementara penggunaan oleh pihak lain harus melalui persetujuan tertulis. Selain itu, informasi yang dipertukarkan bersifat rahasia dan publikasi hanya dilakukan berdasarkan kesepakatan bersama.

Duta Besar Australia untuk Indonesia Roderick Brazier mengatakan Indonesia dan Australia memiliki komitmen kuat untuk memajukan sektor ekonomi kreatif melalui kolaborasi. Menurut dia, kemitraan itu didasarkan pada kesamaan visi ekonomi dan keyakinan bahwa kreativitas dapat mendekatkan masyarakat lintas negara, dengan dampak yang telah dirasakan di berbagai wilayah Indonesia.

Brazier mencontohkan Festival Sinema Australia Indonesia yang disebut akan diluncurkan pada bulan berikutnya. Memasuki tahun ke-11, festival itu menampilkan kolaborasi kreatif Australia-Indonesia di bidang film, dengan pemutaran di 11 kota di Indonesia.

Vice President International RMIT University Layton Pike menyatakan kemitraan ini mencerminkan komitmen bersama dalam mendorong kreativitas, pengembangan talenta, serta kolaborasi berkelanjutan. Ia menambahkan forum diskusi yang digelar setelah penandatanganan menjadi bukti komitmen tersebut sekaligus kelanjutan dari berbagai kerja sama praktis yang telah berjalan. Pike juga menyampaikan komitmen RMIT untuk memperluas kehadirannya di Jakarta.

Usai penandatanganan MoU, kegiatan dilanjutkan dengan roundtable bertema “Tenaga Kerja Masa Depan dalam Gim dan Animasi”. Diskusi dimoderatori oleh Mish Eastman, RMIT University Deputy Vice Chancellor College of Vocational Education, dan Muhammad Neil El Himam, Deputi Bidang Digital dan Technology Creativity, Ministry of Creative Economy. Forum ini mempertemukan pembuat kebijakan, perwakilan industri, dan mitra pendidikan untuk bertukar pandangan serta membahas peluang kolaborasi.

Sejumlah pihak turut hadir, antara lain Perwakilan Public Affairs Australian Embassy in Jakarta Chloe Ashbolt, perwakilan Austrade Elise Terrell dan Nico Alexander, perwakilan RMIT University Mish Eastman dan Prashil Singh, serta Southeast Asia Commissioner Victorian Government Naïla Mazzucco. Dari Kementerian Ekraf, Menteri didampingi Sekretaris Menteri/Sekretaris Utama Dessy Ruhati, Deputi Bidang Digital dan Teknologi Ekonomi Kreatif Muhammad Neil El Himam, Deputi Bidang Kreatifitas Media Agustini Rahayu, serta sejumlah direktur terkait.

Kementerian Ekraf menyatakan kerja sama lintas negara ini diharapkan dapat mempercepat pengembangan talenta, memperkuat inovasi, dan meningkatkan daya saing ekonomi kreatif Indonesia di tingkat global.