BERITA TERKINI
Ketegangan Iran–Israel-AS Picu Gejolak Energi, Harga Minyak Dunia Melonjak hingga 17 Persen

Ketegangan Iran–Israel-AS Picu Gejolak Energi, Harga Minyak Dunia Melonjak hingga 17 Persen

Pasar energi global bergejolak setelah Iran mengumumkan Mojtaba Khamenei, putra kedua Ali Khamenei, sebagai pemimpin tertinggi baru. Perkembangan ini memicu kekhawatiran investor bahwa konflik di Timur Tengah berpotensi berlanjut dan mengganggu pasokan minyak dunia.

Ketegangan meningkat sejak 28 Februari 2026, ketika Israel—dengan dukungan Amerika Serikat—melancarkan serangan udara ke sejumlah kota strategis di Iran, termasuk Teheran, Isfahan, dan Qom. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan Ali Khamenei. Iran kemudian menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai pengganti.

Mojtaba disebut memiliki hubungan erat dengan pasukan elit Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC). Karena itu, kepemimpinannya dipandang dapat memperkuat sikap keras Iran terhadap Amerika Serikat dan Israel, sekaligus menambah ketidakpastian politik yang diperhitungkan pasar.

Data pasar menunjukkan lonjakan tajam harga minyak. Minyak Brent naik 17 persen menjadi 108,77 dolar AS per barel, sementara minyak mentah AS melonjak 18 persen menjadi 107,56 dolar AS per barel. Kenaikan ini disebut sebagai lonjakan harian terbesar sejak awal pandemi pada 2020.

Selain pergantian kepemimpinan, situasi di Selat Hormuz turut memperkuat tekanan pada harga. Jalur laut strategis tersebut dilalui sekitar 20 juta barel minyak per hari, atau sekitar seperlima perdagangan minyak dunia.

Dalam rangkaian konflik yang berawal dari serangan udara pada 28 Februari 2026, Iran dilaporkan menutup akses Selat Hormuz dan memperingatkan kapal komersial agar tidak melintas. Langkah ini meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan distribusi energi global.

Dampak ekonomi langsung diperkirakan menjalar ke berbagai negara, terutama importir energi. Kenaikan harga bahan bakar berisiko mendorong inflasi, meningkatkan biaya produksi dan distribusi, serta menekan pertumbuhan ekonomi—terutama di negara berkembang. Di sisi lain, perusahaan energi dapat mencari jalur alternatif yang lebih mahal, memicu volatilitas harga.

Tekanan juga dirasakan di pasar keuangan. Ketidakpastian geopolitik dan kenaikan biaya energi berpotensi menekan pasar saham internasional, mengurangi laba perusahaan, serta melemahkan nilai mata uang negara-negara pengimpor energi.

Sejumlah analis memperkirakan harga minyak masih berpeluang naik dan dapat menembus kisaran 120–128 dolar AS per barel dalam waktu dekat, seiring meningkatnya ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global.