BERITA TERKINI
Ketergantungan Dunia pada Chip Taiwan Jadi Titik Rawan Ekonomi Global

Ketergantungan Dunia pada Chip Taiwan Jadi Titik Rawan Ekonomi Global

Taiwan, pulau dengan luas sekitar 36.000 kilometer persegi, menempati posisi yang semakin menentukan dalam ekonomi global modern. Mulai dari ponsel pintar, mobil listrik, hingga percepatan pengembangan kecerdasan buatan (AI), banyak kemajuan teknologi saat ini sangat bergantung pada pasokan semikonduktor dari pabrik-pabrik di Taiwan. Konsentrasi produksi yang sangat tinggi itu sekaligus menjadikan Taiwan salah satu kerentanan terbesar bagi rantai pasok dunia.

Secara global, Taiwan memproduksi lebih dari 60% semikonduktor dunia dan menguasai sekitar 92% kapasitas manufaktur chip logika canggih dengan ukuran fitur 10 nanometer atau lebih kecil. Dominasi ini terbentuk melalui investasi strategis selama puluhan tahun, kepemimpinan teknologi, serta ekosistem industri yang sulit ditiru di negara lain.

Di pusat ekosistem tersebut berdiri Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC). Pada kuartal kedua 2025, TSMC mencatat pangsa 70,2% pasar foundry murni global, naik dari 53,4% pada kuartal kedua 2022. Pesaing terdekatnya, Samsung, berada di kisaran 8%, sementara Intel tertinggal lebih jauh. Kepemimpinan TSMC tidak hanya terkait volume produksi, tetapi juga proses manufaktur tercanggih yang dibutuhkan untuk chip berperforma tinggi, termasuk akselerator AI dan prosesor ponsel.

Ketergantungan industri teknologi global terhadap TSMC meluas ke banyak perusahaan besar. Nvidia memesan desain GPU di sana, Apple memproduksi prosesor seri M melalui TSMC, dan sejumlah perancang chip lain seperti AMD, Qualcomm, serta Broadcom juga bergantung pada fasilitas manufaktur di Taiwan. Ketergantungan serupa juga terjadi pada perusahaan yang membangun infrastruktur AI—baik secara langsung maupun tidak langsung—termasuk Google, Amazon Web Services, Meta, dan Microsoft. Dampaknya merembet ke sektor otomotif, teknologi medis, hingga pertahanan.

Konsentrasi tersebut membuat Taiwan menjadi “titik kegagalan tunggal” bagi banyak industri. Nilai produksi industri IC Taiwan mencapai 165 miliar dolar AS pada 2024, naik 22% dibanding tahun sebelumnya. Sektor semikonduktor menyumbang sekitar 40% total ekspor Taiwan. Karena chip Taiwan digunakan di berbagai perangkat dan sistem modern, gangguan produksi—baik akibat bencana alam, konflik militer, maupun blokade ekonomi—berpotensi memicu konsekuensi luas di luar sektor teknologi.

RAND Corporation menilai bahwa jika Tiongkok menyerang Taiwan, pabrik chip bisa jatuh di bawah kendali Tiongkok atau hancur akibat konflik. Kedua skenario itu dinilai akan mengguncang perekonomian global. Dalam perkiraan RAND, industri semikonduktor Taiwan dapat kehilangan pendapatan tahunan hingga 1,6 triliun dolar AS jika terjadi invasi, sementara industri hilir seperti teknologi, elektronik konsumen, dan otomotif berpotensi mengalami penundaan besar serta lonjakan harga.

Di sisi geopolitik, Beijing telah lama menganggap Taiwan sebagai provinsi yang memisahkan diri dan tetap mengusung klaim reunifikasi. Aktivitas militer di sekitar Selat Taiwan meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Sejumlah analisis skenario dan latihan simulasi menyebut karantina atau blokade parsial laut dan udara sebagai bentuk eskalasi yang dinilai paling mungkin terjadi sebelum 2027 karena biaya mobilisasi yang lebih rendah namun berpotensi menimbulkan gangguan besar.

Dalam skenario blokade, salah satu kerentanan utama Taiwan adalah ketergantungan energinya. Pada 2021, sekitar 97,7% energi Taiwan berasal dari impor bahan bakar fosil. Cadangan energi disebut cukup untuk sekitar 39 hari batubara, 146 hari minyak, dan hanya 11 hari gas alam. Jika pasokan energi terhenti akibat blokade angkatan laut yang efektif, produksi chip berisiko terganggu dalam hitungan minggu.

Situasi ini juga memuat saling ketergantungan yang rumit. Tiongkok sendiri mengimpor sekitar 60% chipnya dari Taiwan. Ekspor semikonduktor Taiwan ke Tiongkok daratan dan Hong Kong tercatat mencapai 85 miliar dolar AS pada 2024. Karena itu, konflik besar juga diperkirakan akan merugikan perekonomian Tiongkok. Namun, kekhawatiran muncul bahwa isolasi teknologi akibat sanksi Barat dapat meningkatkan insentif bagi langkah agresif, karena akses terhadap chip canggih menjadi semakin strategis.

Kerentanan rantai pasok turut disorot lewat kasus yang melibatkan Huawei. Laporan Center for Strategic and International Studies menyebut Huawei memperoleh lebih dari dua juta chip AI Ascend 910B dari TSMC melalui perusahaan cangkang, meski Huawei masuk daftar sanksi AS sejak 2020. Dalam skema yang diuraikan, desain chip Huawei disalurkan ke perusahaan Sophgo, yang kemudian memesan chip dari TSMC menggunakan desainnya sendiri. TSMC disebut baru mencurigai pola tersebut ketika Sophgo memesan chip yang sangat mirip dengan Ascend 910B, lalu melaporkannya kepada otoritas AS. Departemen Perdagangan AS kemudian meluncurkan penyelidikan yang dapat berujung pada denda sebesar 1 miliar dolar AS atau lebih bagi TSMC.

Taiwan merespons dengan memperketat kontrol ekspor. Negara itu melarang ekspor chip dan chiplet ke Huawei dan SMIC serta memberlakukan persyaratan lisensi baru untuk transaksi terkait. Dalam konteks ini, chiplet—komponen semikonduktor modular yang dapat menggabungkan berbagai bagian khusus—menjadi perhatian karena dinilai dimanfaatkan untuk menghindari pembatasan yang ada.

Di tengah risiko geopolitik, AS dan sejumlah negara lain mendorong diversifikasi produksi chip. Dalam dua tahun terakhir, TSMC menerima sekitar 4,7 miliar dolar AS subsidi dari pemerintah Amerika Serikat, Jepang, Jerman, dan Tiongkok untuk memperluas operasi manufakturnya secara geografis.

Ekspansi terbesar berlangsung di Arizona, AS, dengan total investasi 165 miliar dolar AS untuk enam pabrik, dua fasilitas pengemasan chip canggih, dan sebuah pusat riset. Pabrik pertama di Arizona memulai produksi massal dengan proses N4 pada kuartal keempat 2024 dan mencapai tingkat hasil 92%, yang disebut melampaui hasil fasilitas serupa di Taiwan. Pabrik kedua untuk proses 3 nanometer telah selesai dibangun, dengan produksi massal dimajukan ke paruh kedua 2027. Pabrik ketiga untuk proses 2 nanometer sedang dibangun, sementara pabrik keempat berada pada tahap perizinan.

Di Jepang, pabrik khusus pertama di Kumamoto memulai produksi massal pada akhir 2024 dan pabrik kedua sedang dibangun. Sementara di Dresden, Jerman, pembangunan pabrik untuk teknologi khusus masih berlangsung, dengan jadwal produksi bergantung pada permintaan pasar.

Namun, diversifikasi dinilai belum cukup untuk mengatasi risiko inti dalam waktu dekat. Bahkan jika semua proyek berjalan sesuai rencana, hanya sekitar 30% kapasitas TSMC untuk proses 2 nanometer dan yang lebih canggih diperkirakan akan berada di Arizona. Artinya, sebagian besar produksi chip tercanggih masih akan tetap terkonsentrasi di Taiwan. Selain itu, biaya pembangunan di AS disebut sekitar 50% lebih tinggi dari perkiraan awal, dan kekurangan tenaga kerja terampil turut menyebabkan penundaan.

Dampak ekonomi dari konflik Taiwan juga diperkirakan meluas ke jalur logistik. Negara-negara yang sangat bergantung pada rantai nilai semikonduktor—termasuk Tiongkok, AS, Jepang, Jerman, dan banyak negara Asia Tenggara—berpotensi mengalami penurunan produksi serta tekanan ekonomi. Konflik juga dapat mengganggu rute pelayaran dan penerbangan melalui Selat Taiwan serta Laut Cina Selatan dan Timur, yang berisiko mendorong kenaikan biaya logistik global.

Dalam skenario serangan skala penuh, dunia diperkirakan menghadapi krisis ekonomi berat. Sanksi perdagangan global dan risiko reputasi dapat mendorong perusahaan multinasional menarik diri dari Tiongkok, yang berpotensi mengganggu arus perdagangan bernilai sekitar 3 triliun dolar AS. Dalam skenario terburuk, dampaknya dinilai hampir melumpuhkan perdagangan global.

Isu Taiwan pun kian dipandang bukan sekadar masalah regional atau teknologi, melainkan tantangan geopolitik utama abad ke-21. Di tengah lonjakan permintaan chip canggih akibat revolusi AI, taruhan ekonomi dan politik ikut meningkat. TSMC memperkirakan peningkatan produksi mesin 2 nanometer pada 2026 karena permintaan yang kuat, meski kenaikan biaya depresiasi berpotensi menekan margin kotor dua hingga tiga poin persentase.

Dengan keterbatasan untuk memindahkan produksi chip secara menyeluruh dalam lima hingga sepuluh tahun, strategi yang tersisa adalah pengurangan risiko melalui diversifikasi bertahap, disertai langkah pencegahan diplomatik dan militer. Investasi pabrik di Arizona, Jepang, dan Dresden dipandang sebagai perlindungan jangka panjang—sementara dinamika geopolitik di Selat Taiwan terus menempatkan ekonomi global dalam perlombaan antara diversifikasi teknologi dan eskalasi konflik yang hasilnya masih belum pasti.