BERITA TERKINI
Konflik AS-Iran-Israel Dorong Harga Minyak Melonjak, Pasar Khawatir Gangguan Pasokan Global

Konflik AS-Iran-Israel Dorong Harga Minyak Melonjak, Pasar Khawatir Gangguan Pasokan Global

Konflik bersenjata yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Iran, dan Israel di Timur Tengah mengguncang pasar energi global. Dalam beberapa hari terakhir, harga minyak mentah dunia melonjak tajam seiring meningkatnya kekhawatiran akan gangguan pasokan, terutama dari kawasan Teluk yang merupakan pusat produksi energi dunia.

Lonjakan harga ini memunculkan kekhawatiran baru terhadap stabilitas ekonomi global. Para analis menilai, jika konflik berlarut-larut dan mengganggu jalur distribusi energi strategis, harga minyak berpotensi bertahan di level tinggi dalam waktu lama. Dampaknya tidak hanya pada pasar energi, tetapi juga berisiko memicu inflasi global, menekan pertumbuhan ekonomi, dan meningkatkan gejolak di pasar keuangan.

Pergerakan harga minyak segera mencerminkan eskalasi konflik di kawasan tersebut. Acuan minyak Brent dan West Texas Intermediate (WTI) sama-sama menguat tajam karena pasar mengantisipasi kemungkinan terganggunya pasokan dari Timur Tengah.

Laporan Reuters pada Senin (9/3/2026) menyebut harga minyak dunia hari itu melonjak lebih dari 25 persen dan mencapai level tertinggi sejak 2022 setelah konflik meluas. Harga minyak mentah Brent bahkan sempat menembus sekitar 119,50 dollar AS per barel.

Dalam periode yang sangat singkat, volatilitas juga meningkat. Dalam satu minggu, harga minyak WTI dilaporkan naik lebih dari 35 persen, sementara Brent meningkat sekitar 27 persen. Sejumlah analis menilai pasar minyak saat ini sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik, sehingga setiap eskalasi dapat memicu kenaikan harga yang lebih besar.

Salah satu faktor utama yang membuat pasar bergejolak adalah risiko gangguan di Selat Hormuz, jalur pelayaran penting bagi perdagangan energi dunia. Sekitar seperlima pasokan minyak global dikirim melalui jalur laut sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan pasar global.

Ketika ketegangan meningkat, aktivitas pengiriman minyak dilaporkan ikut terganggu. Sejumlah perusahaan pelayaran dan perusahaan energi menunda pengiriman melalui jalur tersebut karena alasan keamanan. Analis energi ICIS, Ajay Parmar, menilai dampak terhadap harga minyak sangat bergantung pada kondisi jalur pelayaran itu. “Faktor kuncinya di sini adalah penutupan Selat Hormuz,” kata Parmar, dikutip dari Global Banking & Finance Review.

Selain ancaman terhadap jalur distribusi, beberapa negara produsen minyak di kawasan Teluk juga disebut mulai mengurangi produksi sebagai respons terhadap konflik. Langkah ini memperketat pasokan minyak global dan mempercepat kenaikan harga.

Di luar sektor energi, pasar global mulai menunjukkan tekanan yang lebih luas. Di pasar keuangan, saham-saham global mengalami penurunan seiring meningkatnya ketidakpastian. Negara-negara Asia disebut menjadi salah satu wilayah yang paling terdampak karena ketergantungan tinggi terhadap impor energi.

Kenaikan harga energi juga memicu kekhawatiran terhadap inflasi global. Kalangan ekonom memperingatkan lonjakan harga minyak dapat meningkatkan biaya produksi dan transportasi di berbagai sektor, yang pada akhirnya berpotensi menekan aktivitas ekonomi lebih luas.