Harga minyak dunia melonjak tajam hingga menembus USD 100 per barel untuk pertama kalinya sejak 2022, seiring meningkatnya konflik di Timur Tengah yang mengganggu jalur distribusi minyak global dan menambah ketidakpastian di pasar keuangan.
Minyak mentah jenis Brent tercatat naik sekitar 18% ke kisaran USD 109 per barel. Kenaikan ini melanjutkan lonjakan besar pada pekan sebelumnya yang mencapai sekitar 28%.
Pelaku pasar kini bersiap menghadapi potensi gejolak lanjutan karena konflik yang melibatkan Iran telah memasuki minggu kedua. Situasi disebut kian rumit setelah beberapa produsen mulai mengurangi produksi minyak serta adanya gangguan lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz, jalur strategis bagi perdagangan energi dunia.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan kenaikan harga minyak dalam jangka pendek merupakan konsekuensi yang harus dihadapi demi menjaga stabilitas keamanan global. Dalam unggahan di platform Truth Social, Trump mengatakan, “Dalam jangka pendek harga minyak akan naik, tetapi akan turun dengan cepat setelah ancaman nuklir Iran berhasil dihentikan. Itu adalah harga kecil yang harus dibayar demi keamanan dan perdamaian Amerika Serikat serta dunia.”
Ketegangan geopolitik tersebut segera merembet ke pasar keuangan global. Saham-saham di kawasan Asia dilaporkan turun lebih dari 3%, sementara kontrak berjangka indeks Nasdaq 100 melemah sekitar 2%. Aset kripto juga mengalami penurunan.
Di sisi lain, dolar AS menguat terhadap hampir seluruh mata uang utama dunia karena dipandang sebagai aset aman di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
Lonjakan harga minyak turut memicu kekhawatiran baru terhadap inflasi global. Kondisi ini menekan pasar obligasi pemerintah AS (Treasuries) setelah sebelumnya sempat menguat menyusul laporan ketenagakerjaan AS yang melemah.
Imbal hasil obligasi acuan AS tenor 10 tahun tercatat meningkat sepanjang tahun ini. Di Australia, imbal hasil obligasi tiga tahun yang sensitif terhadap kebijakan suku bunga melonjak ke level tertinggi sejak 2011. Sementara itu, kontrak berjangka obligasi pemerintah Jerman merosot mendekati level terendah dalam hampir 15 tahun.

