BERITA TERKINI
Konflik Timur Tengah Guncang Energi dan Pasar Global, G7 Masih Tahan Cadangan Minyak

Konflik Timur Tengah Guncang Energi dan Pasar Global, G7 Masih Tahan Cadangan Minyak

Gejolak di Timur Tengah pada 9 Maret 2026 memicu tekanan berantai pada pasar energi, asuransi maritim, komoditas pertanian, hingga sentimen di sejumlah pasar keuangan. Di tengah lonjakan harga minyak dan gangguan pelayaran di Selat Hormuz, negara-negara G7 memilih belum melepas cadangan minyak strategis secara global, sambil menyatakan kesiapan untuk bertindak bila stabilitas pasar terancam.

Para menteri keuangan Kelompok Tujuh (G7) menggelar pertemuan darurat untuk membahas dampak konflik di Iran terhadap pasar energi. Hasilnya, G7 menyatakan akan memantau situasi secara ketat dan siap mengambil semua langkah yang diperlukan, termasuk penggunaan cadangan minyak strategis, apabila diperlukan untuk menstabilkan pasar. Namun, pada tahap ini, mereka belum siap melakukan pelepasan cadangan minyak dalam skala global.

Tekanan di pasar minyak menguat setelah harga minyak dunia menembus level psikologis US$100 per barel untuk pertama kalinya sejak 2022. Kenaikan dipicu pengurangan produksi oleh produsen utama di Timur Tengah, kemacetan di Selat Hormuz, serta peringatan dari Amerika Serikat mengenai potensi meluasnya konflik yang dapat mengganggu pasokan energi. Sesaat setelah pembukaan perdagangan 9 Maret, minyak mentah Brent melonjak 20% ke US$111,04 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) naik 22%.

Di sisi pelayaran, pemerintahan Presiden AS Donald Trump mengumumkan program reasuransi senilai US$20 miliar untuk membantu memulihkan aktivitas maritim melalui Selat Hormuz yang disebut hampir lumpuh akibat meningkatnya ketegangan antara AS, Israel, dan Iran. Menurut US Development Finance Corporation (DFC), skema ini menyediakan asuransi maritim, termasuk risiko perang, bagi kapal yang beroperasi di wilayah Teluk Persia. Mekanisme tersebut memungkinkan cakupan asuransi atas kerugian total sekitar US$20 miliar secara bergilir, yang pada tahap awal berlaku untuk kapal.

Peran industri asuransi juga menjadi sorotan karena memengaruhi kelancaran arus minyak global. Dalam perkembangan terbaru, tujuh perusahaan asuransi maritim besar dilaporkan menarik seluruh pertanggungan asuransi risiko perang bagi kapal yang melintasi Teluk Persia. Kondisi ini membuat perusahaan asuransi menentukan kapal tanker mana yang dapat melanjutkan perjalanan melalui Selat Hormuz dan mana yang harus berhenti.

Di Eropa, pemerintah Prancis menyiapkan langkah pengawasan untuk mencegah lonjakan harga bahan bakar yang dinilai tidak wajar. Perdana Menteri Prancis, Sébastien Lecornu, pada 8 Maret mengumumkan penerapan “rencana inspeksi khusus” di SPBU di seluruh negeri. Pemerintah akan melakukan 500 inspeksi selama tiga hari, 9–11 Maret, melalui Direktorat Jenderal Persaingan Usaha, Urusan Konsumen, dan Pengendalian Penipuan (DGCCRF) di bawah Kementerian Ekonomi Prancis.

Di Amerika Serikat, lonjakan harga energi tetap terasa meski negara itu merupakan produsen minyak mentah terbesar di dunia dengan produksi lebih dari 13 juta barel per hari. Konflik di Timur Tengah mendorong kenaikan harga bensin eceran. Menurut American Automobile Association (AAA), per 9 Maret harga rata-rata bensin nasional mencapai US$3,32 per galon, naik sekitar US$0,38 dari US$2,98 per galon pada pekan sebelumnya.

Kenaikan biaya energi dan pupuk juga merembet ke pasar pertanian global. Pada 9 Maret, harga minyak kedelai naik lebih dari 4%, sementara harga gandum mendekati level tertinggi dalam dua tahun. Di Chicago pada pukul 10.06 waktu Singapura, harga kedelai naik 2,5% menjadi US$12,31 per bushel; gandum naik 3,1% menjadi US$6,36 per bushel setelah mencatat penguatan terbesar sejak 2024 pada 6 Maret. Jagung turut naik 2,6% menjadi US$4,72 per bushel.

Sementara itu, pasar properti AS menghadapi sinyal yang beragam menjelang musim puncak pembelian rumah pada musim semi dan awal musim panas 2026. Pasar diperkirakan mulai “mencair” setelah tiga tahun stagnasi, didukung meningkatnya jumlah rumah yang dijual dan membaiknya keterjangkauan di sejumlah wilayah seiring turunnya suku bunga hipotek, pertumbuhan upah yang stabil, serta perlambatan kenaikan harga rumah. Namun, fluktuasi ekonomi dan geopolitik terbaru dinilai menambah tantangan bagi pemulihan tersebut.

Di Asia, Korea Selatan mengaktifkan mekanisme penghentian perdagangan otomatis untuk indeks KOSPI setelah tekanan jual kuat pada saham-saham teknologi, termasuk Samsung Electronics dan SK hynix, menyeret indeks turun tajam. Langkah ini diambil regulator untuk meredam volatilitas pasar.

Di sisi lain, Uni Eropa dilaporkan mengimpor LNG dalam jumlah rekor dari pabrik Yamal Rusia pada paruh pertama tahun ini, berdasarkan angka yang dirilis UE pada 13 Juli. Lonjakan impor terjadi menjelang larangan pasokan Rusia yang secara resmi berlaku tahun depan.

Rangkaian perkembangan ini menegaskan bagaimana eskalasi konflik di Timur Tengah dapat cepat menyebar ke berbagai sektor—dari harga minyak dan biaya logistik hingga harga pangan, stabilitas pasar keuangan, dan kebijakan pemerintah di berbagai negara.