Jumlah miliarder dunia terus meningkat, diikuti akumulasi kekayaan yang mereka kuasai. Pada 2025, lebih dari 3.000 miliarder mengendalikan hampir USD 15 triliun, setara sekitar 13% dari total kekayaan pribadi global.
Data Oxfam dan Credit Suisse menunjukkan nilai tersebut bahkan melampaui gabungan Produk Domestik Bruto (PDB) negara besar seperti Jepang, Jerman, dan India. Dalam satu tahun terakhir, tercatat ada 340 miliarder baru, menandakan pertumbuhan kelompok ultra-kaya berlangsung cepat.
Perkembangan ini memperlihatkan ketimpangan ekonomi global yang kian melebar. Selain karena kelompok superkaya semakin kaya, mereka juga dinilai memiliki pengaruh besar dalam pembentukan aturan ekonomi yang turut menjaga laju pertumbuhan kekayaan mereka.
Sejak 2020, kelompok 1% orang terkaya di dunia disebut menguasai hampir dua pertiga dari seluruh kekayaan baru yang tercipta secara global. Di sisi lain, sekitar 800 juta pekerja di berbagai negara mengalami pertumbuhan upah yang lebih rendah daripada inflasi. Dampaknya, daya beli menurun dan nilainya setara dengan kehilangan satu bulan gaji setiap tahun.
Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa pertumbuhan kekayaan global tidak dinikmati secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat.
Pengaruh politik dan strategi perusahaan
Konsentrasi kekayaan juga disebut berdampak pada kebijakan politik dan ekonomi. Sejumlah perusahaan besar yang dimiliki atau didukung miliarder diketahui aktif melakukan lobi politik untuk melindungi kepentingan bisnis mereka. Pada 2024, perusahaan yang terkait dengan 10 orang terkaya di dunia menghabiskan sekitar USD 88 juta untuk kegiatan lobi politik di Washington, Amerika Serikat, yang umumnya berfokus pada upaya mempertahankan aturan pajak yang menguntungkan.
Dalam beberapa kasus, tokoh dari kalangan miliarder juga masuk langsung ke lingkaran kekuasaan. Sejumlah anggota kabinet di berbagai negara berasal dari kelompok ultra-kaya atau memiliki kekayaan dari industri yang mereka awasi. Situasi ini membuat kekayaan tidak hanya menjadi sumber daya ekonomi, tetapi juga bertransformasi menjadi pengaruh politik.
Selain itu, perusahaan besar dinilai memperkuat konsentrasi kekayaan melalui strategi bisnis seperti mendorong deregulasi, memanfaatkan pemotongan pajak, serta membagikan keuntungan kepada pemegang saham melalui pembelian kembali saham (stock buyback) alih-alih menaikkan upah pekerja. Akibatnya, sebagian besar keuntungan perusahaan kembali mengalir kepada kelompok investor yang mayoritas berasal dari kalangan terkaya.
Dampak pada pekerja dan seruan pajak kekayaan
Ketimpangan ekonomi tidak hanya berpengaruh pada distribusi kekayaan, tetapi juga pada kondisi kerja dan kesejahteraan. Data World Benchmarking Alliance menunjukkan hanya sekitar 0,4% perusahaan besar yang secara terbuka berkomitmen membayar upah layak. Sementara itu, International Trade Union Confederation mencatat meningkatnya kasus kekerasan terhadap pekerja dan pemimpin serikat buruh di berbagai negara.
Masih menurut data yang sama, sekitar 17,3 juta pekerja di sektor swasta bekerja dalam kondisi yang masuk kategori kerja paksa dalam rantai pasok perusahaan global.
Direktur Eksekutif Oxfam International, Amitabh Behar, menilai pengaruh besar kelompok superkaya terhadap politik dan ekonomi telah memperdalam ketimpangan global. “The outsized influence that the super-rich have over our politicians, economies, and media has deepened inequality and led us far off track on tackling poverty,” ujar Behar.
Di tengah situasi tersebut, sejumlah ekonom mendorong penerapan pajak kekayaan (wealth tax) bagi kelompok ultra-kaya sebagai salah satu opsi untuk mengurangi ketimpangan. Survei terhadap sekitar 4.000 jutawan di negara-negara G20 menunjukkan hampir 65% responden mendukung pajak yang lebih tinggi bagi kelompok superkaya.
Jika sebagian kecil kekayaan miliarder dialihkan melalui pajak, dana itu berpotensi digunakan untuk membiayai program kesehatan, pendidikan, dan pembangunan infrastruktur. Namun, tantangan utamanya adalah apakah sistem politik global mampu menerapkan kebijakan tersebut di tengah kuatnya pengaruh kelompok ultra-kaya.
Saat ini, keputusan besar mengenai arah ekonomi dunia disebut masih sangat dipengaruhi oleh sekitar 3.000 orang terkaya di planet ini.

