Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran berpotensi menimbulkan dampak lebih luas terhadap perekonomian global maupun domestik apabila berlangsung dalam jangka waktu lama. Eskalasi konflik dinilai telah memicu tekanan di pasar keuangan global serta meningkatkan ketidakpastian ekonomi.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan ketegangan geopolitik global menjadi perhatian industri keuangan karena dapat memicu inflasi, pelemahan nilai tukar, dan gejolak pasar keuangan. Ia menyebut tensi meningkat seiring eskalasi konflik setelah Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan ke Teheran.
Menurut Dian, dampak konflik telah terlihat pada pasar saham di Asia yang anjlok akibat aksi panic-selling, di tengah kekhawatiran konflik akan memicu inflasi dan menekan ekonomi global. “Dampak lebih luas terhadap perekonomian global dan domestik mungkin terjadi apabila perang ini berlangsung lama,” kata Dian dalam keterangan resmi di Jakarta, Senin (9/3/2026).
Pernyataan itu disampaikan bersamaan dengan rilis Survei Orientasi Bisnis Perbankan OJK (SBPO) triwulan I-2026. Survei tersebut menunjukkan kinerja perbankan nasional masih berada dalam kondisi solid meski ketidakpastian global meningkat.
Survei yang dilakukan pada Januari 2026 melibatkan 93 bank responden, dengan porsi total aset mencapai 94,17% dari total aset bank umum berdasarkan data Desember 2025. Hasilnya, Indeks Orientasi Bisnis Perbankan (IBP) pada triwulan I-2026 tercatat 56 atau berada di zona optimistis, mencerminkan keyakinan industri bahwa perbankan masih mampu menjaga kinerja dan mengelola risiko di tengah tekanan global.
“Optimisme tersebut didorong oleh proyeksi pertumbuhan kinerja perbankan, dan keyakinan bahwa bank masih akan cukup mampu mengelola risiko di tengah ekspektasi peningkatan inflasi dan pelemahan nilai tukar,” ujar Dian.
Namun, ekspektasi terhadap kondisi makroekonomi menurun. Indeks Ekspektasi Kondisi Makroekonomi (IKM) tercatat 45 atau berada di zona pesimistis. Dian menjelaskan, peningkatan inflasi dipengaruhi faktor musiman seperti Ramadan, Idulfitri, serta Tahun Baru Imlek yang mendorong kenaikan harga barang dan jasa.
Selain faktor musiman, inflasi juga dipengaruhi low based effect dari tahun sebelumnya, ketika diskon tarif listrik diberlakukan dan tidak lagi terjadi pada triwulan I-2026. Di saat yang sama, nilai tukar rupiah diperkirakan menghadapi tekanan seiring tingginya tensi geopolitik global.
Meski demikian, mayoritas responden menilai risiko sektor perbankan masih dapat dikendalikan. Hal itu tercermin dari Indeks Persepsi Risiko (IPR) sebesar 57 yang berada di zona optimistis. OJK juga mencatat kualitas kredit diperkirakan tetap terjaga dengan Posisi Devisa Neto (PDN) berada pada level rendah, didukung posisi aset dan tagihan valuta asing yang lebih besar dibandingkan kewajiban valas.
Dari sisi likuiditas, industri perbankan diperkirakan tetap stabil seiring proyeksi pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang lebih tinggi dibandingkan penyaluran kredit. Kondisi ini diperkirakan meningkatkan arus kas bersih (net cashflow) pada triwulan I-2026. “Selain itu, cash inflow juga diperkirakan meningkat seiring dengan adanya dana Pemerintah Daerah yang mulai masuk pada triwulan I-2026,” kata Dian.
Ekspektasi positif terhadap kinerja perbankan juga tampak pada Indeks Ekspektasi Kinerja (IEK) yang mencapai 67 atau berada pada zona optimistis. Pertumbuhan kredit diperkirakan berlanjut, didorong meningkatnya permintaan pembiayaan serta ekspansi kredit dari bank.
OJK mencatat sektor industri pengolahan masih menjadi kontributor terbesar penyaluran kredit perbankan dengan pertumbuhan 6,60% secara tahunan (year on year/yoy) pada Januari 2026. Dian menambahkan, hasil survei menunjukkan responden memiliki perhatian besar terhadap kemungkinan kondisi global berkepanjangan dan memburuk, serta implikasinya terhadap kinerja ekonomi Indonesia.
“Meskipun berbagai indikator perbankan saat ini dalam posisi yang resilience, perbankan masih sangat membutuhkan ekosistem bisnis yang vibrant untuk dapat tumbuh dengan baik,” ujar Dian.
Ke depan, OJK memperkirakan ekonomi Indonesia pada 2026 tetap tumbuh solid, didukung stimulus fiskal dan kebijakan moneter yang akomodatif. Konsumsi rumah tangga dan sektor manufaktur diproyeksikan tetap menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi nasional.

