Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan kinerja perbankan diperkirakan tetap solid dengan risiko yang terjaga pada triwulan I 2026. Keyakinan tersebut tercermin dari hasil Survei Orientasi Bisnis Perbankan OJK (SBPO) yang mencatat Indeks Orientasi Bisnis Perbankan (IBP) sebesar 56 atau berada di zona optimis.
Optimisme itu didorong proyeksi pertumbuhan kinerja perbankan dan keyakinan bahwa bank masih mampu mengelola risiko di tengah ekspektasi kenaikan inflasi serta pelemahan nilai tukar. Namun, OJK mencatat responden survei menaruh perhatian besar pada kondisi global yang dinilai berpotensi berlangsung lama dan bahkan memburuk, serta dampaknya terhadap kinerja ekonomi Indonesia.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan, meski sejumlah indikator perbankan saat ini berada dalam posisi yang resilien, industri perbankan tetap membutuhkan ekosistem bisnis yang dinamis agar dapat tumbuh dengan baik.
Di sisi makroekonomi, prediksi melemahnya nilai tukar dan meningkatnya inflasi menekan Indeks Ekspektasi Kondisi Makroekonomi (IKM) pada triwulan I 2026 ke angka 45, yang masuk zona pesimis. Ekspektasi inflasi dipengaruhi faktor musiman seperti Ramadan, Idulfitri, dan perayaan Tahun Baru Imlek yang dinilai mendorong kenaikan harga barang dan jasa.
Selain itu, terdapat faktor low base effect dari tahun sebelumnya, ketika diskon tarif listrik yang sempat diberlakukan tidak kembali diterapkan pada triwulan I 2026. Sementara nilai tukar diperkirakan melemah seiring masih tingginya tensi geopolitik global.
Meski demikian, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan terakselerasi, didorong perkiraan meningkatnya konsumsi masyarakat pada triwulan I 2026.
Dari sisi risiko, mayoritas responden meyakini risiko perbankan pada triwulan I 2026 masih dapat terjaga dan terkendali. Hal itu tercermin dari Indeks Persepsi Risiko (IPR) sebesar 57 atau berada di zona optimis, sejalan dengan keyakinan kualitas kredit tetap terjaga serta Posisi Devisa Netto (PDN) berada pada level rendah, dengan aset dan tagihan valuta asing lebih besar dibandingkan kewajiban valuta asing (long position).
Risiko likuiditas juga diperkirakan tetap terjaga, didukung ekspektasi pertumbuhan alat likuid perbankan dan dana pihak ketiga (DPK). Seiring perkiraan pertumbuhan DPK yang lebih tinggi dibanding pertumbuhan penyaluran kredit, net cashflow pada triwulan I 2026 diperkirakan meningkat. Cash inflow juga diproyeksikan bertambah seiring masuknya dana pemerintah daerah pada triwulan I 2026.
Adapun ekspektasi kinerja perbankan pada triwulan I 2026 berada pada level optimis dengan Indeks Ekspektasi Kinerja (IEK) sebesar 67. Optimisme tersebut ditopang perkiraan kredit tetap tumbuh seiring meningkatnya permintaan, serta upaya bank melakukan ekspansi kredit berdasarkan pipeline yang tersedia.
Industri pengolahan, yang disebut sebagai sektor ekonomi paling mendominasi penyaluran kredit perbankan, pada Januari 2026 tumbuh 6,60% secara tahunan (year on year/yoy) dan diproyeksikan tetap menjadi penggerak pertumbuhan kredit ke depan. Dari sisi penghimpunan dana, responden memperkirakan DPK pada triwulan I 2026 juga tumbuh, sejalan dengan upaya bank memperoleh sumber dana untuk mendukung pertumbuhan kredit dan menjaga likuiditas.
SBPO dilakukan pada Januari 2026 dengan melibatkan 93 bank responden, dengan porsi total aset mencapai 94,17% dari total aset bank umum berdasarkan data Desember 2025. Dalam survei periode ini, OJK juga menghimpun pandangan responden terkait outlook ekonomi global dan Indonesia pada 2026 serta pertumbuhan kredit UMKM.
Menurut hasil survei, ekonomi global diperkirakan tumbuh moderat di tengah tingginya ketidakpastian dan dinamika geopolitik. Sementara itu, sebagian besar bank responden optimistis kredit UMKM pada triwulan I 2026 akan tumbuh dengan porsi yang meningkat dibandingkan total kredit.

