Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz melalui siaran radio frekuensi pada Sabtu (28/2/2026), setelah Iran disebut diserang oleh Amerika Serikat dan Israel. Langkah ini segera memicu gejolak di pasar energi global.
Seiring kabar penutupan tersebut, harga minyak dilaporkan melonjak hampir dua kali lipat. Kenaikan tajam ini menandai meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar terhadap gangguan pasokan dan distribusi energi, mengingat Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran strategis yang memengaruhi arus perdagangan minyak dunia.
Dampak ekonomi dari lonjakan harga minyak diperkirakan tidak merata bagi setiap negara. Rusia dan Amerika Serikat berisiko berada pada posisi yang diuntungkan oleh kenaikan harga, sementara Indonesia disebut berpotensi mengalami kerugian. Situasi ini menegaskan kembali peran Selat Hormuz sebagai salah satu titik krusial yang dapat menentukan arah perekonomian dunia ketika terjadi eskalasi konflik dan gangguan jalur perdagangan.

