Pasar keuangan Indonesia bergejolak pada awal pekan ini. Nilai tukar rupiah terdepresiasi signifikan hingga menembus level psikologis Rp17.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Pada saat yang sama, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat melemah hampir 3% pada sesi pembukaan perdagangan.
Gejolak tersebut dikaitkan dengan kombinasi sentimen eksternal dan kekhawatiran domestik. Dari sisi global, situasi di Timur Tengah dilaporkan memanas, sementara dari dalam negeri muncul kekhawatiran terkait kondisi fiskal yang turut membebani persepsi pelaku pasar.
Di tengah eskalasi global itu, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto disebut telah mengeluarkan perintah Siaga Tingkat 1 kepada seluruh jajaran. Kebijakan tersebut disampaikan sebagai langkah antisipasi dini terhadap potensi dampak dan perkembangan situasi di dalam negeri yang dapat timbul akibat gejolak di Timur Tengah.
Pengamat pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai salah satu pemicu kegaduhan pasar adalah kabar terpilihnya Mojtaba Khameini sebagai pemimpin tertinggi Iran menggantikan Ayatullah Khameini. Ibrahim menyebut karakter Mojtaba yang dianggap fundamentalis berpotensi memperparah dan memperpanjang eskalasi konflik di kawasan.
Kekhawatiran pasar juga disebut meningkat setelah pernyataan keras dari mantan Presiden AS Donald Trump. Menurut Ibrahim, Trump secara eksplisit mengancam akan “memusnahkan” atau “mengganti rezim” yang berkuasa di Iran, yang dinilai dapat mendorong lonjakan ketegangan di Timur Tengah dan memunculkan risiko penutupan Selat Hormuz.
Ibrahim menambahkan, sejumlah analis memproyeksikan harga minyak mentah global dapat melonjak hingga USD200 per barel apabila krisis di Timur Tengah tidak menemukan titik terang dalam satu bulan ke depan. Saat ini, harga minyak mentah disebut berada di kisaran USD117 per barel.
Dengan risiko gangguan pasokan energi global, termasuk kemungkinan penutupan Selat Hormuz, situasi tersebut dikhawatirkan dapat memicu krisis ekonomi berskala global yang dinilai memiliki kemiripan dengan resesi 2008. Kondisi ini mendorong meningkatnya kewaspadaan di kalangan pembuat kebijakan dan pelaku pasar.

