BERITA TERKINI
Rupiah Tertekan hingga Tembus Rp17.000 per Dolar AS di Tengah Ketidakpastian Global

Rupiah Tertekan hingga Tembus Rp17.000 per Dolar AS di Tengah Ketidakpastian Global

BANDUNG — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali melemah pada perdagangan Senin, 9 Maret 2026. Rupiah bergerak turun hingga menyentuh kisaran Rp17.000 per dolar AS, level yang menjadi perhatian pelaku pasar karena kerap dianggap sebagai ambang psikologis penting.

Pada awal perdagangan, rupiah dilaporkan dibuka di sekitar Rp17.001 per dolar AS. Pergerakan ini memperpanjang tren pelemahan dalam beberapa hari terakhir. Sebelumnya, rupiah masih berada di kisaran Rp16.905 hingga Rp16.930 per dolar AS sebelum kembali tertekan dan bergerak ke level yang lebih tinggi terhadap dolar.

Sejumlah pengamat menilai, tekanan pada rupiah tidak terlepas dari ketidakpastian ekonomi global. Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah disebut turut memengaruhi sentimen pasar internasional dan mendorong kenaikan harga minyak dunia, yang kemudian berdampak pada pasar keuangan global.

Bagi Indonesia, kenaikan harga energi memiliki konsekuensi tersendiri mengingat ketergantungan terhadap impor minyak untuk memenuhi kebutuhan energi. Kondisi ini berpotensi menambah tekanan pada neraca perdagangan dan nilai tukar negara pengimpor minyak, sekaligus memengaruhi persepsi risiko investor terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Dari dalam negeri, pelaku pasar juga mencermati perubahan outlook kredit Indonesia oleh Fitch Ratings dari stabil menjadi negatif. Penilaian tersebut dinilai mendorong sebagian investor bersikap lebih hati-hati dalam menempatkan dana di pasar keuangan Indonesia. Dalam situasi ketika risiko dipersepsikan meningkat, investor cenderung mengalihkan aset ke instrumen yang dianggap lebih aman, seperti dolar AS.

Dalam beberapa sesi terakhir, pelemahan rupiah terlihat berlangsung bertahap sebagai respons atas kombinasi faktor eksternal dan dinamika domestik. Meski demikian, pergerakan nilai tukar tidak selalu mencerminkan keseluruhan kinerja ekonomi nasional. Sejumlah indikator domestik, seperti inflasi dan aktivitas ekonomi, masih disebut berada dalam kondisi relatif stabil.

Ke depan, arah rupiah diperkirakan tetap dipengaruhi perkembangan ekonomi global serta sentimen investor terhadap kebijakan ekonomi dalam negeri. Pelaku pasar terus memantau dinamika geopolitik dan kondisi pasar keuangan internasional yang dapat memengaruhi stabilitas nilai tukar.