BERITA TERKINI
Sektor IKFT Tumbuh 5,11 Persen pada 2025, Dorong Kinerja Industri Pengolahan

Sektor IKFT Tumbuh 5,11 Persen pada 2025, Dorong Kinerja Industri Pengolahan

Sektor industri pengolahan kembali menegaskan perannya dalam perekonomian nasional. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan industri pengolahan menjadi kontributor terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), dengan pertumbuhan yang relatif stabil dalam tiga tahun terakhir dan tetap signifikan hingga mencapai 5,30 persen pada 2025.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan capaian industri pengolahan tidak terlepas dari kontribusi sektor industri dalam negeri yang bertahan di tengah dinamika ekonomi global. Menurutnya, industri pengolahan secara konsisten menjadi penyumbang terbesar dalam pertumbuhan ekonomi nasional dibandingkan sektor lainnya.

Kontribusi tersebut turut ditopang kinerja sektor Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT) yang mencatat pertumbuhan positif sepanjang 2025. Sektor IKFT tumbuh 5,11 persen, meningkat dari 4,21 persen pada tahun sebelumnya. Dari sisi kontribusi terhadap PDB, sektor ini menyumbang 3,87 persen, dengan porsi terbesar berasal dari subsektor industri kimia, farmasi, dan obat tradisional sebesar 1,83 persen.

Sekretaris Direktorat Jenderal IKFT, Sri Bimo Pratomo, menilai pertumbuhan IKFT yang sejalan dengan pertumbuhan nasional menunjukkan sektor ini tetap menjadi penopang penting bagi industri pengolahan nonmigas sekaligus menjaga momentum pertumbuhan industri nasional.

Kinerja IKFT pada 2025 ditopang sejumlah subsektor yang tumbuh tinggi. Sub-sektor industri kimia, farmasi, dan obat tradisional mencatat pertumbuhan 8,35 persen, naik dari 5,86 persen pada 2024. Sementara itu, subsektor industri barang galian bukan logam tumbuh 6,16 persen, berbalik dari kondisi 2024 yang sempat terkontraksi 0,6 persen.

Dari sisi perdagangan, sektor IKFT mencatat neraca surplus sepanjang Januari–November 2025. Nilai ekspor mencapai USD 49,15 miliar, naik USD 6,26 miliar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Salah satu penopang ekspor berasal dari subsektor industri bahan kimia dan barang dari kimia dengan nilai ekspor USD 20,79 miliar.

Ekspor subsektor industri kimia berbasis pertanian juga meningkat signifikan, dari USD 6,25 miliar menjadi USD 9,25 miliar. Peningkatan turut terjadi pada subsektor industri alas kaki keperluan sehari-hari yang naik dari USD 2 miliar menjadi USD 3 miliar. Sri Bimo menyebut, di tengah dinamika global, permintaan dunia terhadap produk IKFT dari dalam negeri justru meningkat, mencerminkan daya tahan sektor tersebut dalam rantai pasok global.

Di sisi investasi, realisasi penanaman modal sektor IKFT pada Januari–September 2025 mencapai Rp142,15 triliun, meningkat dari Rp116,54 triliun pada periode yang sama 2024. Investasi terbesar berasal dari subsektor industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia sebesar Rp58,4 triliun.

Sentimen awal 2026 juga dinilai masih positif. Indeks Kepercayaan Industri (IKI) pada Januari 2026 tercatat berada pada fase ekspansif di level 54,12, lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di level 51,90. Sri Bimo menyatakan sinyal tersebut menunjukkan optimisme pelaku industri sekaligus menjadi dorongan bagi pemerintah untuk menjaga iklim usaha yang kondusif agar kinerja sektor IKFT terus meningkat.

Untuk menjaga keberlanjutan capaian, Kementerian Perindustrian menegaskan komitmen mengakselerasi berbagai program prioritas guna meningkatkan daya saing industri nasional, termasuk sektor IKFT. Pemerintah juga mendorong pendalaman struktur industri di sisi hulu dan hilir, serta pengembangan industrialisasi berkelanjutan untuk mempercepat substitusi impor dan meningkatkan nilai tambah produk dalam negeri.