Optimisme masyarakat terhadap ketahanan ekonomi Indonesia dinilai masih kuat di tengah ketidakpastian global, termasuk memanasnya konflik di Timur Tengah. Gambaran tersebut tercermin dalam hasil Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) yang menunjukkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) tetap berada pada zona optimistis.
Berdasarkan survei BI yang dikutip Selasa, 10 Maret 2026, IKK pada Februari 2026 tercatat sebesar 125,2 atau berada di atas level 100 yang menandakan kondisi optimistis. Angka ini menunjukkan keyakinan masyarakat terhadap perekonomian tetap terjaga.
Keyakinan konsumen pada Februari 2026 ditopang oleh Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) yang tercatat 115,9, meningkat dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 115,1. Sementara itu, Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) tetap optimistis di level 134,4, meski turun dari 138,8 pada bulan sebelumnya.
BI juga mencatat penguatan keyakinan konsumen terjadi pada seluruh kelompok pengeluaran. Pada kelompok pengeluaran Rp4 juta–Rp5 juta per bulan, indeks meningkat menjadi 125,5. Kondisi tersebut mencerminkan masyarakat masih melakukan belanja seiring keyakinan bahwa perekonomian berada dalam kondisi baik.
Selain itu, keyakinan terhadap ketersediaan lapangan pekerjaan saat ini juga tetap tinggi, baik berdasarkan tingkat pendidikan maupun kelompok usia. Pada responden dengan pendidikan terakhir SMA, keyakinan terhadap ketersediaan lapangan kerja meningkat menjadi 107,9 pada akhir Februari 2026. Optimisme serupa juga terlihat pada kelompok usia 20–30 tahun yang dinilai sangat yakin terhadap ketersediaan lapangan pekerjaan di dalam negeri, meski situasi geopolitik global tengah bergejolak.
Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution, Ronny P. Sasmita, menilai optimisme konsumen masih terjaga karena banyak masyarakat menilai kondisi ekonomi dari situasi domestik sehari-hari, bukan dari dinamika geopolitik global seperti perang.
“Selama harga kebutuhan pokok relatif terkendali, aktivitas ekonomi berjalan, dan lapangan kerja masih tersedia, maka persepsi optimisme akan tetap terjaga,” kata Ronny.
Ronny juga menilai struktur ekonomi Indonesia yang ditopang konsumsi domestik menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas sentimen. Dengan kontribusi konsumsi rumah tangga sekitar 53–55 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), perekonomian nasional dinilai relatif lebih tahan terhadap perlambatan ekonomi global.
“Selama daya beli masyarakat belum terpukul terlalu dalam, sentimen konsumen biasanya tetap positif,” ujarnya.
Di sisi lain, Ronny menyebut Indonesia memiliki keunggulan struktural dalam menghadapi ketidakpastian global, salah satunya besarnya pasar domestik dengan jumlah penduduk lebih dari 270 juta orang. Menurut dia, negara yang sangat bergantung pada ekspor cenderung lebih terpukul ketika ekonomi global melambat, sementara Indonesia masih memiliki penyangga konsumsi domestik yang relatif kuat.
Ia juga menilai sektor keuangan Indonesia cukup stabil menghadapi guncangan global. Ronny menyebut sistem perbankan nasional memiliki rasio permodalan yang relatif kuat sehingga tidak terlalu rentan terhadap gejolak eksternal.
Selain itu, Indonesia masih memiliki basis komoditas strategis yang menopang neraca perdagangan. Komoditas seperti nikel, batu bara, dan minyak kelapa sawit (CPO) dalam beberapa tahun terakhir disebut berperan dalam menjaga surplus perdagangan.
“Kondisi-kondisi ini memberi ruang bernapas bagi ekonomi nasional ketika terjadi tekanan global,” pungkas Ronny.

