BERITA TERKINI
AC Milan dalam Dua Era: Stabilitas Keuangan Elliott dan Ekspansi RedBird

AC Milan dalam Dua Era: Stabilitas Keuangan Elliott dan Ekspansi RedBird

AC Milan mengalami perubahan besar dalam tata kelola dan kondisi keuangan dalam beberapa tahun terakhir. Setelah periode ketidakstabilan, klub memasuki fase pemulihan di bawah Elliott Management yang menekankan disiplin finansial, reformasi tata kelola, dan strategi olahraga yang disesuaikan. Periode ini mencapai puncak ketika Milan menjuarai Serie A pada musim 2021/22 dan kembali tampil di Liga Champions UEFA, yang sekaligus memperkuat posisi klub secara kompetitif dan finansial.

Transformasi tersebut mencerminkan tren yang semakin menonjol di sepak bola modern: stabilitas keuangan tidak lagi sekadar syarat bertahan hidup, melainkan fondasi untuk prestasi di lapangan. Dalam konteks regulasi seperti Financial Fair Play (FFP) dan Profitability and Sustainability Rules (PSR), model pendanaan tanpa batas dari pemilik klub menjadi semakin sulit dipertahankan. Klub dituntut membangun pendapatan yang berkelanjutan untuk menopang daya saing.

Di tengah perubahan lanskap itu, AC Milan memasuki babak baru pada 2022. Jika fase Elliott ditandai oleh stabilisasi, tahap berikutnya diarahkan pada skala pertumbuhan. Pada 31 Agustus 2022, RedBird Capital Partners menyelesaikan akuisisi klub dalam transaksi yang menilai AC Milan sekitar €1,2 miliar. RedBird datang dengan mandat memperluas pendapatan, memperkuat posisi komersial, dan mendorong investasi jangka panjang, termasuk infrastruktur.

Struktur akuisisi dan peran Elliott setelah penjualan

Kesepakatan yang membawa RedBird ke Milan tidak disusun sebagai pembelian konvensional yang sepenuhnya dibiayai ekuitas. RedBird menyuntikkan sekitar €681 juta dalam bentuk ekuitas, dengan sekitar setengahnya dilaporkan disusun sebagai modal mezzanine atau modal preferen yang disediakan Ares Management. Sisa harga pembelian diperkirakan dibiayai melalui pembiayaan vendor dari Elliott Management sekitar €550 juta, yang membuat Elliott beralih dari pemegang saham pengendali menjadi pemberi pinjaman utama bagi entitas kepemilikan baru.

Elliott juga mempertahankan dua kursi di dewan klub. Selain itu, pinjaman vendor dirancang agar beban utang terkait akuisisi berada di tingkat entitas kepemilikan, bukan langsung pada neraca operasional AC Milan. Pendekatan ini dimaksudkan untuk menjaga kehati-hatian finansial yang telah dibangun pada fase sebelumnya.

Siapa RedBird dan arah strateginya

RedBird Capital Partners adalah firma ekuitas swasta berbasis di Amerika Serikat yang didirikan pada 2014 oleh Gerry Cardinale, mantan mitra Goldman Sachs. Perusahaan ini mengelola aset sekitar $10–14 miliar di lebih dari 50 perusahaan portofolio, dengan porsi besar investasi ditempatkan pada sektor olahraga, media, dan hiburan. Dalam pendekatannya, klub olahraga dipandang bukan hanya sebagai tim kompetitif, tetapi juga sebagai merek dan “mesin konten” yang dapat dimonetisasi melalui hak siar, sponsor, keterlibatan digital, dan optimalisasi kekayaan intelektual.

Dalam ekosistem olahraga yang lebih luas, RedBird tercatat memiliki Toulouse FC, berinvestasi di Alpine F1 Team, serta menjalin kemitraan strategis dengan New York Yankees. Kerangka ini menjadi konteks mengapa AC Milan diposisikan sebagai aset global yang dapat diskalakan, bukan sekadar klub sepak bola yang berdiri sendiri.

Dari stabilisasi ke ekspansi: prioritas RedBird

RedBird mengambil alih klub yang sudah lebih stabil dibanding era sebelumnya. Fokus kemudian bergeser ke ekspansi yang mencakup pertumbuhan komersial, optimasi olahraga, tata kelola, pengembangan infrastruktur, dan disiplin modal. Salah satu hasil yang disorot adalah kenaikan pendapatan komersial dan sponsor dalam tiga musim terakhir dari €82,1 juta menjadi €143,4 juta.

Dalam strategi sponsor, Milan disebut menjalin kemitraan dengan merek global seperti Coca-Cola, Emirates, dan MSC, serta memperpanjang kerja sama dengan Puma. RedBird juga melihat peluang di pasar Amerika Serikat dan memfasilitasi kemitraan dengan Yankee Global Enterprises (YGE), yang juga mengambil saham minoritas di AC Milan. Di sisi digital, klub memperluas monetisasi penggemar melalui kemitraan dengan Socios.com dan partisipasi awal dalam inisiatif berbasis NFT, meski pendapatan dari aset digital dinilai fluktuatif.

Perubahan di area olahraga dan hasil yang berfluktuasi

Di ranah olahraga, periode RedBird dinilai lebih kompleks. Pernyataan Carlo Ancelotti pada Juni 2023 muncul setelah pemecatan Paolo Maldini sebagai direktur teknis, yang dipandang sebagai sinyal pergeseran tata kelola menuju model yang lebih terstruktur dan berbasis data. Pendekatan ini kerap dikaitkan dengan strategi perekrutan ala “Moneyball”, termasuk penguatan peran analitik.

Di bawah model tersebut, struktur pengambilan keputusan disebut menempatkan CEO Giorgio Furlani sebagai pemegang keputusan akhir, dengan Geoffrey Moncada memimpin identifikasi pemain, dukungan analisis data di bawah Hendrik Almstadt, serta masukan analitik dari Zelus Analytics. Strategi olahraga yang dijelaskan meliputi perekrutan berbasis data, fokus pada pemain usia pra-puncak atau puncak, penekanan pada kedalaman skuad, disiplin gaji relatif terhadap pendapatan, serta daur ulang modal lewat perdagangan pemain.

Namun hasil di lapangan selama tiga musim terakhir disebut campuran: Milan finis ke-4 pada 2022/23, naik ke posisi ke-2 pada 2023/24, lalu turun ke posisi ke-8 pada 2024/25. Dalam periode yang sama, klub berganti empat pelatih kepala. Dari sisi transfer, disebutkan Milan menghabiskan sekitar €440 juta dan memperoleh sekitar €304 juta dari penjualan pemain dalam tiga musim terakhir, yang menggambarkan arus keluar bersih dan menuntut pertumbuhan pendapatan agar tetap terkelola.

Stadion sebagai kunci pendapatan jangka panjang

Selain komersial, infrastruktur—terutama stadion—dipandang sebagai pengungkit pendapatan strategis. Meski Milan dan Inter konsisten menarik lebih dari 70.000 penonton per pertandingan, pendapatan hari pertandingan Milan dinilai tertinggal dari klub-klub dengan stadion modern. Pada 2023/24, pendapatan pertandingan Milan sekitar €69,3 juta, naik dari €32,5 juta pada 2021/22 dan sedikit turun dari €72,8 juta pada 2022/23.

Masalah utama disebut terkait keterbatasan struktural San Siro yang membatasi pengembangan hospitality premium, inventaris VIP, properti komersial terintegrasi, monetisasi acara di luar hari pertandingan, dan optimalisasi hak penamaan. Analisis RevPEPAS (Pendapatan per Acara per Kursi Tersedia) menempatkan AC Milan di angka €40,2, jauh di bawah PSG (€136,5) dan Real Madrid (€123,7).

Dalam rencana stadion, dua jalur proyek muncul: Proyek San Donato dan rencana baru stadion bersama di kawasan San Siro. Untuk San Donato, RedBird dilaporkan telah menginvestasikan sekitar €55 juta untuk upaya pengembangan, meski konfigurasi akhirnya disebut belum pasti. Sementara itu, Milan dan Inter disebut memperoleh persetujuan dewan untuk akuisisi lahan senilai €197 juta terkait kawasan San Siro, dengan rencana stadion baru berkapasitas 71.500 kursi yang dirancang Foster + Partners dan MANICA, serta pembiayaan yang disusun oleh Goldman Sachs, JPMorgan, Banco BPM, dan BPER Banca.

Keberlanjutan finansial dan disiplin biaya

Di bawah RedBird, Milan melanjutkan pendekatan keberlanjutan finansial yang dibangun sejak era Elliott. Klub disebut mencatat laba bersih tiga musim berturut-turut: +€6 juta (2022/23), +€4 juta (2023/24), dan +€3 juta (2024/25). Utang klub tercatat €93 juta, meningkat €43 juta secara tahunan, sementara ekuitas mencapai €199 juta. Posisi ekuitas ini dikaitkan dengan akumulasi laba dan suntikan modal sebesar €565 juta yang diberikan pada masa kepemimpinan Elliott untuk merekapitalisasi klub.

Indikator lain yang disorot adalah pengelolaan gaji. Biaya skuad Milan disebut berada di angka €244 juta, dibanding Juventus €337 juta dan Inter €280 juta. Dalam tren sejak 2019/20, pengeluaran gaji Milan meningkat dari €145 juta menjadi €160 juta, sementara pendapatan naik dari €164 juta menjadi €411 juta, menunjukkan pertumbuhan pendapatan yang melampaui pertumbuhan gaji.

Kesimpulan: fondasi finansial menguat, pertanyaan olahraga terbuka

Perjalanan AC Milan dari stabilisasi Elliott menuju ekspansi RedBird menunjukkan bagaimana arsitektur keuangan dan tata kelola menjadi faktor kunci dalam sepak bola modern. Pendapatan klub disebut meningkat dari €297,6 juta pada FY2021/22 menjadi €456,9 juta pada FY2023/24, disertai pergeseran dari kerugian €66,5 juta menuju laba berturut-turut. Di sisi lain, performa olahraga dinilai lebih fluktuatif, terlihat dari perubahan posisi liga dan pergantian pelatih.

Dengan fondasi finansial yang dinilai lebih kokoh, pertanyaan utama ke depan bukan lagi soal stabilitas keuangan, melainkan apakah model institusional yang menekankan pendapatan berulang, tata kelola terstruktur, dan pengembangan infrastruktur dapat diterjemahkan menjadi kesuksesan olahraga yang konsisten.