Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai literasi keuangan syariah di Indonesia lebih tinggi dibandingkan keuangan konvensional. Namun, tingkat inklusi atau akses dan penggunaan produk keuangan syariah masih tergolong rendah.
Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Perlindungan Konsumen (PEPK) OJK, Dicky Kartikoyono, mengatakan pemahaman umat Islam mengenai ekonomi dan keuangan syariah pada dasarnya sudah cukup baik. Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK), tingkat literasi keuangan syariah tercatat sebesar 43,4%.
Dicky menjelaskan, literasi mencerminkan tingkat pemahaman atau pengetahuan individu terhadap produk dan layanan keuangan, sedangkan inklusi menggambarkan tingkat akses dan penggunaan produk tersebut secara nyata. “Literasinya 43,4. Kemudian inklusinya masih rendah. Artinya apa? Pemahaman umat Islam cukup baik tentang bagaimana ekonomi keuangan syariah,” ujarnya dalam acara Penutupan Genyar Ramadan Keuangan Syariah 2026 di Jakarta, Kamis (2/4/2026).
Ia menambahkan, kondisi berbeda terlihat pada keuangan konvensional, khususnya layanan keuangan digital. Menurut Dicky, literasi terhadap keuangan digital masih menjadi tantangan, tetapi tingkat inklusinya besar karena kemudahan akses melalui ponsel. “Karena semuanya bisa diakses melalui mobile phone. Gampang sekali pinjem tapi literasinya masih menjadi tantangan,” katanya.
Data OJK menunjukkan, indeks literasi keuangan nasional pada 2025 mencapai 66,46% berdasarkan metode keberlanjutan, meningkat dari 65,43% pada 2024. Jika dirinci, literasi keuangan konvensional berada di 66,45% dengan inklusi keuangan konvensional mencapai 79,71%.
Sementara itu, literasi keuangan syariah tercatat 43,42% dengan inklusi keuangan syariah sebesar 13,41%. OJK menilai kesenjangan antara literasi dan inklusi tersebut menjadi pekerjaan rumah bagi regulator dan pelaku usaha jasa keuangan untuk memperkuat edukasi serta mendorong pemanfaatan layanan keuangan syariah.
“Ini sebenarnya menjadi modal untuk kita di keuangan syariah karena literasinya baik. Terkait dengan itu kami tentunya mengajak Bapak-Ibu sekalian untuk bersama-sama melakukan gerakan nasional cerdas keuangan,” tutup Dicky.