Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan jumlah nasabah bank bulion meningkat signifikan sejak pertama kali diluncurkan pada Februari tahun lalu. Menurutnya, kenaikan ini sejalan dengan meningkatnya minat masyarakat terhadap emas di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Airlangga menyebut, saat peluncuran bank bulion, jumlah nasabah tercatat sekitar 3,2 juta. Dalam kurun satu tahun, angka tersebut naik menjadi 5,7 juta nasabah.
“Yang tahun lalu diluncurkan Bapak Presiden seperti bank bulion di Februari tahun lalu jumlah nasabahnya 3,2 juta, sekarang sudah mencapai 5,7 juta. Jadi itu meningkat dengan pesat,” ujar Airlangga di Jakarta, Jumat, 6 Maret 2026.
Selain pertumbuhan nasabah, Airlangga menyoroti peningkatan aktivitas gadai emas di Pegadaian. Ia menyampaikan nilai emas yang digadaikan naik menjadi 144,7 ton dari sebelumnya 94 ton.
“Dan jumlah yang digadaikan di Pegadaian nilai emasnya meningkat menjadi 144,7 ton dari 94 ton. Dan juga mereka yang sudah memanfaatkan itu menjadi pinjaman itu juga naik sebesar 38,5 ton atau senilai Rp102 triliun,” kata Airlangga.
Ia menambahkan, pemanfaatan emas sebagai jaminan pinjaman juga meningkat. Volume pinjaman berbasis emas tercatat mencapai 38,5 ton atau setara sekitar Rp102 triliun.
Tren serupa, menurut Airlangga, juga terlihat pada perbankan syariah. Bank Syariah Indonesia (BSI) disebut telah mengelola sekitar 22 ton emas melalui berbagai layanan berbasis emas.
Airlangga menilai meningkatnya minat masyarakat terhadap emas tidak terlepas dari kondisi global yang tidak menentu, sehingga investor cenderung mencari instrumen yang dianggap lebih aman. Ia juga menyinggung kenaikan harga emas sejak peluncuran bank bulion, dari sekitar US$3.000 menjadi US$5.000.
“Nah demikian pula di BSI itu juga meningkat, sekarang sudah mencapai 22 ton. Dan memang salah satu dari inflasi akibat daripada pembelian emas karena harga emas pada saat peluncuran bank bulion itu masih di angka US$3.000 dan sekarang sudah US$5.000,” ujarnya.
Menurut Airlangga, lonjakan harga emas turut dipengaruhi meningkatnya ketegangan geopolitik dan perang yang mendorong emas kembali dipandang sebagai instrumen safe haven. Dalam situasi ketidakpastian global, emas dinilai menjadi salah satu pilihan utama masyarakat untuk menyimpan nilai kekayaan.
Di tengah dinamika tersebut, Airlangga menambahkan pemerintah terus mencermati stabilitas ekonomi makro, termasuk menjaga kestabilan nilai tukar rupiah.

