Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, mulai mengantisipasi potensi dampak ekonomi yang dapat timbul akibat konflik geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel dengan Iran. Kekhawatiran utama pelaku usaha di kawasan industri adalah kemungkinan munculnya efek domino terhadap aktivitas manufaktur di daerah.
Ketua Apindo Kabupaten Bekasi M. Yusuf Wibisono mengatakan pelaku usaha saat ini mencermati potensi guncangan ekonomi global yang dapat merembet ke sektor industri di Kabupaten Bekasi. Menurut dia, kekhawatiran pengusaha terkait perang Iran-Israel terutama menyangkut dampak ekonomi yang mungkin terjadi.
Kabupaten Bekasi diketahui memiliki 11 kawasan industri dengan lebih dari 7.000 perusahaan yang beroperasi. Kawasan ini menjadi salah satu pusat manufaktur nasional sekaligus penopang perekonomian di Indonesia.
Yusuf menilai sektor manufaktur menjadi yang paling rentan terdampak, terutama bagi perusahaan yang masih bergantung pada bahan baku impor. Gangguan jalur perdagangan internasional dinilai berpotensi mendorong kenaikan biaya produksi.
Selain manufaktur, ia menyebut sejumlah sektor lain juga berisiko terdampak, mulai dari energi, pertambangan, hingga pertanian dan pangan. Di kalangan pelaku usaha, sejumlah risiko yang kini mulai diperhitungkan meliputi kenaikan harga minyak dunia yang dapat meningkatkan biaya produksi dan transportasi, serta guncangan pasar keuangan global yang berpengaruh pada nilai tukar rupiah.
Risiko lain yang menjadi perhatian adalah gangguan rantai pasok yang dapat memengaruhi ketersediaan bahan baku dan komponen, serta kenaikan inflasi yang berpotensi menekan daya beli masyarakat.
Apindo Kabupaten Bekasi menyatakan masih terus memantau perkembangan situasi. Hingga saat ini belum ada laporan administratif mengenai lonjakan biaya logistik secara signifikan, meski beberapa pelaku usaha mulai merasakan kenaikan biaya operasional.
“Saat ini, belum ada laporan resmi tentang kenaikan biaya logistik akibat perang Iran-Israel. Namun, beberapa pengusaha telah melaporkan kenaikan harga bahan bakar maupun biaya transportasi,” kata Yusuf.
Untuk mengantisipasi kemungkinan konflik berkepanjangan, Apindo menginstruksikan anggotanya memperkuat ketahanan internal perusahaan. Langkah mitigasi disiapkan untuk meminimalkan potensi dampak terhadap kegiatan industri.
Strategi yang disampaikan antara lain diversifikasi sumber energi dan bahan baku, peningkatan efisiensi dan produktivitas, optimalisasi rantai pasok dan logistik, serta peningkatan kesadaran dalam menghadapi risiko geopolitik.
Yusuf menambahkan situasi global masih dinamis sehingga dunia usaha diminta tetap waspada dan bersiap menghadapi berbagai kemungkinan yang dapat terjadi.

