BERITA TERKINI
Arab Saudi Tak Sekadar Haji-Umrah, Peluang Ekonomi RI Menguat di Pasar Muslim Global

Arab Saudi Tak Sekadar Haji-Umrah, Peluang Ekonomi RI Menguat di Pasar Muslim Global

Ramadan kerap dipandang sebagai momen ibadah dan refleksi spiritual. Namun bagi pelaku usaha dan pengamat ekonomi, periode ini juga menjadi kesempatan membaca arah pasar Muslim dunia yang nilainya terus membesar hingga triliunan dolar.

Gambaran tersebut mengemuka dalam Bloomberg Technoz Podcast – Ramadan Spark 2026 Season 2, saat Sisi Aspasia dan Winda Mizwar berbincang dengan pengusaha yang memiliki pengalaman bisnis di Timur Tengah, Katrin Windari. Dalam percakapan itu, Katrin menilai perubahan dinamika ekonomi global justru membuka ruang peluang yang lebih luas bagi Indonesia, termasuk melalui hubungan ekonomi dengan Arab Saudi.

Katrin mengatakan, selama ini banyak orang mengasosiasikan Arab Saudi terutama dengan ibadah haji dan umrah. Padahal, menurut dia, potensi hubungan ekonomi Indonesia dengan kawasan tersebut jauh melampaui sektor perjalanan religi. “Bisnis haji dan umrah itu justru datang belakangan,” ujarnya. Ia menjelaskan, aktivitas bisnisnya di kawasan itu bermula dari penanaman modal asing (PMA) dan pembukaan kantor di Indonesia yang terkait dengan kegiatan bisnis di Arab Saudi.

Salah satu pendorong peluang tersebut adalah besarnya pasar Muslim global. Berdasarkan riset yang dibahas dalam podcast itu, nilai Muslim market global disebut mencapai sekitar US$19,2 triliun. Populasi Muslim diperkirakan sekitar 25% dari populasi dunia dan terus bertambah, sehingga kebutuhan terhadap produk dan layanan yang sesuai gaya hidup Muslim ikut meningkat.

Katrin mencontohkan kebutuhan yang makin spesifik, mulai dari makanan halal, kosmetik, obat-obatan, hingga layanan perjalanan serta hiburan dan media yang ramah bagi Muslim. Ia juga menyebut belanja konsumen Muslim di berbagai sektor mencapai hampir US$2,5 triliun per tahun, sebuah angka yang mendorong banyak negara dan perusahaan global semakin serius menggarap pasar ini.

Dalam konteks tersebut, Indonesia dinilai memiliki posisi strategis. Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, Indonesia bukan hanya pasar konsumen, tetapi juga berpotensi menjadi pemain penting dalam ekosistem ekonomi Muslim global. Pada 2024, Indonesia disebut mendapatkan pengakuan internasional sebagai destinasi wisata Muslim-friendly nomor satu di dunia, yang menjadi indikator daya tarik Indonesia dalam industri halal dan pariwisata berbasis kebutuhan Muslim.

Meski demikian, tantangan yang disorot bukan sekadar mempertahankan posisi sebagai pasar besar, melainkan mendorong Indonesia naik kelas menjadi produsen utama dalam berbagai sektor ekonomi halal global.

Pembahasan di podcast itu juga menyinggung perubahan ekonomi di Timur Tengah, termasuk transformasi di Arab Saudi, yang membuka peluang kolaborasi baru. Negara-negara di kawasan tersebut disebut tidak lagi hanya berfokus pada energi, tetapi mulai mengembangkan sektor lain seperti pariwisata, investasi, teknologi, hingga ekonomi kreatif. Bagi pelaku usaha Indonesia, momentum ini dinilai dapat dimanfaatkan untuk memperluas jaringan bisnis, memperkuat ekspor produk halal, serta membangun kemitraan strategis dengan perusahaan dan investor dari Timur Tengah.

Dengan kombinasi populasi Muslim terbesar, potensi industri halal, serta pengakuan dalam wisata ramah Muslim, Indonesia dipandang memiliki modal untuk mengambil peran lebih besar dalam ekonomi Muslim dunia. Ramadan pun menjadi pengingat bahwa peluang ekonomi tidak hanya hadir di pasar domestik, tetapi juga di panggung global yang lebih luas.