Suasana Hunian Sementara (Huntara) Simpang Empat Opak, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, tampak berbeda pada Sabtu (14/2/2026). Sejak pukul 08.00, warga bergegas mendaftarkan diri untuk memperoleh layanan kesehatan gratis yang diselenggarakan Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) bersama Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara (Ditjen Minerba) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Huntara yang terdiri dari 10 blok ini menjadi tempat tinggal sekitar 600 kepala keluarga terdampak bencana. Pelayanan dipusatkan di tenda berukuran 84 meter persegi, dengan area antrean di fasilitas umum Huntara. Di samping tenda utama tersedia ruang pengambilan obat-obatan dan vitamin, serta tempat tunggu bagi warga yang menanti giliran pemeriksaan dan hasil diagnosis.
Mulai pukul 08.30, dokter dan tenaga kesehatan memanggil warga satu per satu untuk pemeriksaan. Warga terus berdatangan hingga siang hari. Di area Huntara, anak-anak turut meramaikan suasana dengan bermain di taman yang tersedia. Setelah pemeriksaan dan pengambilan obat, warga menerima paket berisi beras 3 kilogram, biskuit, dan sereal.
Layanan kesehatan ini tidak hanya menyasar penghuni Huntara. Mustika (34), warga Desa Bundar, Karang Baru, yang tinggal sekitar 10 kilometer dari Huntara, datang setelah mengetahui informasi kegiatan melalui aplikasi percakapan. Ia mengaku terbantu dengan adanya posko kesehatan tersebut. “Saya alergi gatal-gatal, bisa jadi karena air dan ada debu. Pernah ada (layanan kesehatan gratis) tapi tidak sebesar ini. Posko kesehatan ini membantu kami. Pengobatan juga sangat membantu,” ujarnya.
Mauliani (63), warga Kampung Sukajadi, Kecamatan Karang Baru, menempuh perjalanan sekitar 12 kilometer untuk mendapatkan pengobatan gratis. Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan. “Kegiatan seperti ini diadakan terus pengobatannya. Dokternya ramah-ramah. Alhamdulillah dikasih obatnya. Kami minta seterusnya bisa begini,” tuturnya.
Kepala BPH Migas Wahyudi Anas, yang hadir bersama Anggota Komite BPH Migas Baskara Agung Wibawa, menyampaikan bahwa BPH Migas sebagai bagian dari Tim ESDM Siaga Bencana menghadirkan pemeriksaan umum dan gigi dasar, pemberian obat-obatan, edukasi kesehatan, hingga trauma healing bagi anak-anak di Huntara dan lokasi pengungsian.
Di lokasi, Wahyudi turut memanggil nama warga berdasarkan formulir pendaftaran serta menanyakan keluhan yang dialami. Ia menyebut keluhan yang banyak ditemukan pada warga antara lain batuk, flu, demam, gangguan saluran cerna atau asam lambung, alergi, dan kenaikan tekanan darah. Pada anak-anak, keluhan yang dominan adalah demam, batuk, pilek, dan alergi.
“BPH Migas menjalankan amanah negara, hadir untuk memberikan bantuan. Artinya, ini bentuk perhatian Pemerintah pusat hadir di tengah-tengah masyarakat terdampak bencana,” kata Wahyudi.
Program layanan kesehatan gratis ini dijadwalkan berlangsung selama tiga hari, 14–16 Februari 2026, dengan target penerima layanan sekitar 5.000 orang dari berbagai kelompok usia. Kegiatan melibatkan 35 tenaga kesehatan—dokter, apoteker, dan asisten dokter—yang berasal dari BPH Migas, Ditjen Minerba, Dinas Kesehatan Aceh Tamiang, serta 10 relawan.
Menurut Wahyudi, target layanan pada Sabtu di Huntara mencapai 3.000 orang. Pada Minggu (15/2/2026), kegiatan dilaksanakan di Kecamatan Manyak Payed dengan target sekitar 1.000 orang. Selanjutnya pada Senin (16/2/2026), layanan digelar di Kampung Tanjung Mancang, Kecamatan Kejuruan Muda, dengan target sekitar 1.000 orang.
Selain pemeriksaan kesehatan, panitia juga menyiapkan 3.000 paket beras ukuran 3 kilogram serta 2.000 biskuit dan sereal bagi warga yang mendapat layanan. Bantuan lain berupa 200 kasur angin disalurkan untuk warga di pengungsian wilayah Manyak Payed dan Tanjung Mancang. Untuk anak-anak, disediakan kegiatan mewarnai, edukasi kesehatan, permainan, dan buku bacaan.
Wahyudi menyebut dukungan Pemerintah Daerah Kabupaten Aceh Tamiang, kepolisian, serta Babinsa setempat membantu pelaksanaan kegiatan berjalan lancar. Ia juga mengatakan obat yang disiapkan, mulai dari obat sirup, tablet, oralit, obat oles, obat gatal, hingga vitamin, tersedia dalam jumlah memadai. Rata-rata warga yang diperiksa memperoleh 2 hingga 5 jenis obat sesuai hasil pemeriksaan.
“Kami BPH Migas dan Ditjen Minerba menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Daerah Aceh Tamiang atas kerja sama yang baik ini. InsyaAllah BPH Migas bisa hadir kembali, agar masyarakat tenang, kesehatan terjaga untuk menyongsong bulan Ramadan dan Idul Fitri 1447 Hijriyah bisa dilaksanakan dengan baik,” ujar Wahyudi.
Ia menambahkan, sebelumnya BPH Migas juga telah menyalurkan bantuan bagi korban bencana di Kampung Tanjung Genteng, Aceh Tamiang, pada 18 Desember 2025. Bantuan lainnya diserahkan di Kabupaten Aceh Utara dan Kabupaten Bener Meriah pada pertengahan Januari 2026.
Sementara itu, Wakil Bupati Aceh Tamiang Ismail, didampingi Kepala Dinas Kesehatan Aceh Tamiang Mustakim, menyampaikan apresiasi atas dukungan layanan kesehatan dari BPH Migas dan Ditjen Minerba. “Sekarang kita sama-sama menyaksikan kegiatan (layanan Kesehatan). Ini artinya Pemerintah hadir bersama kita, Pemerintah hadir di Aceh Tamiang, Pemerintah hadir di pengungsian (Aceh) Tamiang,” kata Ismail.
Ia menyebut Aceh Tamiang masih terus berbenah pascabencana, meski infrastruktur dan pelayanan belum sepenuhnya pulih. Ismail juga meminta warga tetap sabar dan tabah seraya meyakini kondisi akan berangsur normal. “Kita yakin, kita percaya Tuhan bersama kita, Allah bersama kita. Mudah-mudahan dalam waktu yang tidak lama kita akan normal kembali sebagaimana semestinya,” pungkasnya.

