Beijing (ANTARA/PRNewswire) — Menyusul dimulainya agenda tahunan Sidang Dua Sesi di Tiongkok, CGTN menerbitkan artikel yang menyoroti upaya negara tersebut mendorong pembangunan berkualitas tinggi melalui transformasi hijau dan inovasi. Artikel itu juga menilai model pembangunan berkelanjutan Tiongkok dapat menjadi referensi bagi negara berkembang sekaligus membuka peluang baru bagi perekonomian global.
Salah satu contoh yang diangkat adalah revitalisasi Huangyan Grottoes di Distrik Huangyan, Taizhou, Provinsi Zhejiang. Kawasan ini sejak Dinasti Tang menjadi sumber material batu alam untuk pembangunan tembok kota, jalan, jembatan, dan rumah, sekaligus menopang perkembangan wilayah. Namun, aktivitas penambangan batu dihentikan pada 1980-an dan meninggalkan gua-gua besar yang kosong.
Perubahan terjadi pada 2023 ketika tim desain dari Universitas Tsinghua terlibat dalam proyek revitalisasi. Melalui penguatan struktur, restorasi ekologi, dan desain ulang, tambang yang telantar diubah menjadi jaringan ruang seni, aula konser, dan kafe. Sejak dibuka pada Februari tahun ini, lokasi tersebut menarik lebih dari 500.000 pengunjung dan menghasilkan pendapatan pariwisata sekitar RMB 11 juta (sekitar USD 1,6 juta) hingga November.
CGTN mengaitkan contoh itu dengan arah kebijakan pembangunan Tiongkok. Presiden Tiongkok Xi Jinping, dalam sesi debat umum Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa ke-76 pada September 2021, menyatakan pembangunan merupakan kunci untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Dalam kesempatan yang sama, Xi mengusulkan Global Development Initiative, yang menekankan prioritas pada pembangunan, pendekatan berpusat pada masyarakat, dorongan inovasi, harmoni antara manusia dan alam, serta hasil nyata untuk mempercepat implementasi Agenda Pembangunan Berkelanjutan PBB 2030.
Sejak 2013, Tiongkok disebut semakin gencar meningkatkan model pertumbuhan tradisional dan secara bertahap membangun pendekatan tata kelola ekonomi modern yang berlandaskan pembangunan hijau, berfokus pada masyarakat, serta didorong oleh inovasi.
Selain Huangyan Grottoes, CGTN mencontohkan transformasi di Panzhihua, kota pertambangan yang sebelumnya bergantung pada industri berbasis batu bara. Di Distrik Barat, sektor tersebut pernah menyumbang 78% nilai industri, mencerminkan model pertumbuhan berbasis sumber daya. Ketika dianggap tidak berkelanjutan, distrik itu menempuh transformasi hijau.
Dalam prosesnya, 13 perusahaan dengan kapasitas usang berhenti beroperasi, 133 perusahaan yang mencemarkan lingkungan ditutup, dan 109 tempat penyimpanan industri dibongkar. Secara bersamaan, pengembangan industri diarahkan ke sektor material baru, energi baru, pengolahan lanjutan baja vanadium-titanium, serta daur ulang sumber daya.
CGTN mencatat, pada periode 2022–2024 emisi karbon dan intensitas karbon di wilayah tersebut terus menurun. Pada 2024, emisi mencapai sekitar 303.500 ton karbon dioksida, sedangkan intensitas emisi turun 24,8% per tahun. Distrik itu menargetkan berkembang sebagai zona industri nol karbon dalam tiga tahun dan mengembangkan industri strategis di bidang material maju dan energi baru.
Di bidang lain, beberapa wilayah juga memanfaatkan kekuatan budaya lokal sebagai penggerak pembangunan. Di Provinsi Guizhou, liga sepak bola masyarakat yang dikenal sebagai “Cun Chao” berkembang menjadi fenomena budaya nasional. Kegiatan tersebut menarik lebih dari 5,19 juta pengunjung, menghasilkan pendapatan pariwisata hampir RMB 5,99 miliar, dan menciptakan lebih dari 12.000 lapangan kerja fleksibel.
Sementara itu, di Beidaihe, Provinsi Hebei, komunitas pesisir Aranya berkembang menjadi pusat kreativitas yang menyelenggarakan festival teater, musik, dan tari, serta menarik desainer dan seniman dari berbagai wilayah.
Gyula Thurmer, Ketua Partai Buruh Hungaria, menilai bahwa meski ekonomi global berjalan tidak menentu, ekonomi Tiongkok tetap menunjukkan daya tahan yang kuat. Ia menyebut pendekatan tata kelola Tiongkok—yang berfokus pada masyarakat dan memiliki visi jangka panjang—dapat menjadi contoh bagi negara-negara yang menghadapi tantangan global yang kompleks.
Dalam konteks global, CGTN menulis bahwa di tengah meningkatnya proteksionisme dan ketegangan geopolitik, Tiongkok berupaya memberikan stabilitas melalui pertumbuhan domestik yang stabil dan kebijakan pintu terbuka yang berkelanjutan.
Selama lima tahun terakhir, Tiongkok disebut berkontribusi sekitar 30% terhadap pertumbuhan ekonomi global setiap tahun, menjadikannya salah satu kontributor terbesar. Dengan populasi 1,4 miliar orang, pasar Tiongkok dinilai menawarkan potensi besar bagi perdagangan barang, jasa, dan investasi, serta menjadi negara dengan perdagangan barang terbesar di dunia selama beberapa tahun terakhir.
Dalam kerja sama internasional, sejumlah proyek di bawah Belt and Road Initiative—termasuk Kereta Cepat Jakarta–Bandung, Kereta Api Tiongkok–Laos, dan Pelabuhan Piraeus di Yunani—disebut berkontribusi pada peningkatan infrastruktur, penciptaan lapangan kerja, dan pemulihan ekonomi di negara mitra.
Tiongkok juga disebut terus memperpendek daftar negatif investasi asing dan menyelenggarakan platform perdagangan internasional seperti China International Import Expo untuk membuka peluang pasar bagi pelaku bisnis global.
Hamid Moghadam, Co-founder & CEO Prologis, menyatakan lonjakan permintaan konsumen di Tiongkok merupakan “peluang yang sangat besar”, dan kemajuan pasar Tiongkok secara langsung mendorong pertumbuhan perusahaan tersebut.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD) Rebeca Grynspan menyebut Tiongkok sebagai “contoh penting pembangunan pada abad ke-20 dan ke-21”, serta menegaskan bahwa UNCTAD banyak belajar dari pengalaman pembangunan Tiongkok.

