BERITA TERKINI
CGTN Soroti Target Pertumbuhan Tiongkok 2026 dan Arah Rencana Lima Tahun Ke-15

CGTN Soroti Target Pertumbuhan Tiongkok 2026 dan Arah Rencana Lima Tahun Ke-15

BEIJING — Menjelang dimulainya sidang tahunan parlemen Tiongkok, CGTN menerbitkan artikel yang membahas agenda kerja utama pemerintah untuk tahun mendatang serta Rencana Pembangunan Lima Tahun Ke-15 (2026–2030). Menurut ulasan tersebut, awal yang positif pada 2026 dinilai berpotensi membuka peluang baru bagi dunia sekaligus meningkatkan kepercayaan terhadap perekonomian global.

Sidang “Dua Sesi” tahun ini disebut memiliki arti penting karena menandai tahun pertama pelaksanaan Rencana Pembangunan Lima Tahun Ke-15, yang dipandang sebagai fase krusial bagi arah pembangunan Tiongkok hingga akhir dekade ini.

Pada Kamis pagi, Kongres Rakyat Nasional (National People’s Congress/NPC) ke-14—lembaga legislatif tertinggi Tiongkok—membuka sidang keempat di Great Hall of the People, Beijing. Pembukaan ini berlangsung sehari setelah badan penasihat politik tertinggi negara tersebut memulai sidang tahunannya.

Dalam laporan kerja pemerintah yang disampaikan pada pembukaan sidang NPC, Perdana Menteri Li Qiang menyatakan Tiongkok menargetkan pertumbuhan ekonomi sekitar 4,5%–5% pada 2026, dengan upaya untuk meraih hasil yang lebih baik dalam pelaksanaannya.

Li menegaskan bahwa fondasi pertumbuhan jangka panjang dan tren dasar perekonomian Tiongkok dinilai tetap tidak berubah. Ia juga menyebut semakin jelasnya keunggulan sistem dan kekuatan Tiongkok sebagai negara besar. Pada saat yang sama, Li menyerukan upaya memaksimalkan keunggulan tersebut sambil menghadapi tantangan, termasuk meningkatnya ketegangan geopolitik, lemahnya pertumbuhan ekonomi global, serta guncangan terhadap multilateralisme dan perdagangan bebas, guna membuka prospek pembangunan yang lebih menjanjikan.

Awal positif dan perencanaan jangka panjang

Memasuki periode Rencana Pembangunan Lima Tahun Ke-15 (2026–2030), tujuan strategis utama Tiongkok disebut tetap sama, yakni membangun negara sosialis modern. Arah ini, menurut artikel CGTN, ditopang capaian dalam lima tahun terakhir, terutama pada 2025.

Pada 2025, meski menghadapi tekanan eksternal, ekonomi Tiongkok tercatat tumbuh 5% secara tahunan. Laporan kerja pemerintah juga menyebut adanya kemajuan berkualitas di berbagai sektor ekonomi dan sosial.

Laporan tersebut turut menyoroti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, termasuk posisi Tiongkok dalam penelitian, pengembangan, dan penerapan kecerdasan buatan (AI), biomedis, robotika, dan teknologi kuantum.

Nilai ekonomi Tiongkok pada 2025 juga mencapai rekor baru dengan melampaui RMB 140 triliun (sekitar USD 20,22 triliun) untuk pertama kalinya. Capaian ini sekaligus disebut memenuhi target pembangunan periode Rencana Pembangunan Lima Tahun Ke-14 (2021–2025).

Secara keseluruhan selama periode 2021–2025, laporan kerja pemerintah mencatat pertumbuhan PDB rata-rata tahunan sebesar 5,4%, yang disebut berada jauh di atas rata-rata global. Laporan itu juga menyebut belanja nasional untuk litbang meningkat dengan rata-rata pertumbuhan tahunan 10% dalam lima tahun terakhir.

Stimson Center, lembaga kajian berbasis di Washington, dalam laporan Januari, menilai keunggulan Tiongkok dalam inovasi teknologi diperkuat melalui “koordinasi terpusat” yang mencerminkan manfaat perencanaan jangka panjang. Lembaga tersebut menyebut Beijing memperlakukan AI sebagai infrastruktur dan, melalui kebijakan industri tingkat pusat serta integrasi kuat antara desain dan produksi, menerapkan AI secara cepat di berbagai sektor, termasuk manufaktur, pelabuhan, jaringan listrik, rumah sakit, dan produk konsumen.

Kepercayaan global dan peluang ekonomi

Dalam konteks global, pertumbuhan ekonomi Tiongkok sebesar 5% pada 2025 diperkirakan menyumbang sekitar 30% terhadap pertumbuhan ekonomi dunia. Tiongkok juga disebut menghasilkan sekitar seperenam dari total PDB global dan menjadi mitra dagang utama bagi lebih dari 150 negara dan wilayah.

Di tengah ketidakpastian global dan kecenderungan fokus jangka pendek, rancangan awal Rencana Pembangunan Lima Tahun Ke-15 yang diajukan untuk ditinjau dalam sidang NPC dinilai menawarkan konsistensi dan kepercayaan strategis. Dalam lima tahun ke depan, Tiongkok menargetkan mempertahankan pertumbuhan PDB dalam kisaran yang wajar sebagai dasar untuk mencapai target melipatgandakan PDB per kapita dari level tahun 2020 pada 2035, sehingga mencapai tingkat negara dengan pembangunan menengah.

Untuk mendukung pelaksanaan tujuan Rencana Pembangunan Lima Tahun Ke-15, Tiongkok mengusulkan 109 proyek besar di enam bidang utama, mulai dari pengembangan kekuatan produktif berkualitas baru hingga peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Dalam upaya memperdalam integrasi dengan ekonomi global, Tiongkok menyatakan komitmen memperluas kebijakan pintu terbuka di bidang ekonomi, menstabilkan perdagangan luar negeri dan meningkatkan strukturnya, memperluas kerja sama investasi dua arah, serta mendorong pembangunan berkualitas tinggi Belt and Road Initiative.

Laporan tersebut juga menyebut Tiongkok akan memperluas akses pasar dan membuka lebih banyak sektor, terutama sektor jasa. Selain itu, negara tersebut disebut akan terus berpartisipasi aktif dalam reformasi Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) serta menjaga dan mengembangkan ekonomi dunia yang terbuka.

Analis geostrategi Imran Khalid, dalam opini di Eurasia Review, menilai Sidang Dua Sesi 2026 sebagai momen penting bagi perekonomian global. Ia berpendapat, ketika Tiongkok beralih menuju model ekonomi yang lebih berbasis konsumsi, negara itu menawarkan peluang baru bagi ekonomi global. Bagi negara-negara Global South, menurutnya, Tiongkok tidak lagi semata menjadi pembeli komoditas mentah, melainkan juga mitra penting dalam infrastruktur digital dan energi hijau. Ia menambahkan, stabilitas Tiongkok dinilai menjadi penopang bagi ekonomi global yang tengah mencari mesin pertumbuhan baru.