Pemerintah China menargetkan perekonomiannya tetap bertambah pada 2026 dengan tambahan output lebih dari 6 triliun yuan, atau sekitar Rp13.000–14.000 triliun. Target tersebut menegaskan bahwa meski laju pertumbuhan melambat, skala ekonomi China yang sangat besar masih mampu menghasilkan tambahan nilai ekonomi tahunan yang signifikan dan berpengaruh luas.
Sasaran itu sejalan dengan target pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) sebesar 4,5–5 persen pada 2026, sebagaimana disampaikan dalam laporan kerja pemerintah pada sidang parlemen tahunan China. Pemerintah menilai angka tersebut lebih realistis di tengah tantangan global dan domestik, termasuk lemahnya permintaan dalam negeri serta tekanan di sektor properti.
Pada 2025, ukuran ekonomi China disebut telah melampaui 140 triliun yuan atau sekitar US$20 triliun. Dengan basis sebesar itu, pertumbuhan yang moderat tetap berpotensi menghasilkan tambahan output ekonomi yang besar setiap tahun.
Untuk mengejar target 2026, Beijing mulai menggeser strategi dari pertumbuhan cepat menuju “high-quality growth” atau pertumbuhan berkualitas. Fokus diarahkan pada pengembangan sektor teknologi tinggi seperti kecerdasan buatan, semikonduktor, dan industri manufaktur maju, disertai peningkatan investasi riset serta inovasi guna memperkuat daya saing industri domestik.
Di sisi permintaan, China juga berupaya memperkuat konsumsi domestik agar tidak terlalu bergantung pada ekspor. Salah satu langkahnya melalui stimulus konsumsi, termasuk subsidi dan program tukar tambah kendaraan, peralatan rumah tangga, serta produk digital. Program ini disebut mendorong penjualan barang konsumsi hingga 2,6 triliun yuan pada 2025, dengan partisipasi lebih dari 360 juta konsumen.
Pemerintah turut memperkuat sektor keuangan untuk menopang perekonomian, antara lain melalui rencana injeksi sekitar 300 miliar yuan ke bank milik negara. Langkah ini ditujukan untuk menjaga stabilitas sistem keuangan sekaligus memperkuat pembiayaan sektor teknologi.
Berbagai kebijakan tersebut menjadi bagian dari transisi menuju Rencana Lima Tahun ke-15 (2026–2030) yang menekankan inovasi teknologi, digitalisasi ekonomi, serta penguatan konsumsi domestik.
Target pertumbuhan China juga berpotensi berdampak pada perdagangan kawasan Asia. Sebagai mitra dagang terbesar bagi banyak negara di Asia, peningkatan output ekonomi China dapat mendorong permintaan impor berbagai komoditas dan produk industri. Negara-negara di kawasan umumnya memasok kebutuhan industri China, mulai dari bahan baku logam, energi, komponen elektronik, hingga produk manufaktur menengah.
Selain itu, peran China dalam rantai pasok global membuat aktivitas ekonominya kerap memengaruhi industri di Asia yang terintegrasi dengan basis produksi China, terutama pada sektor elektronik, otomotif, dan mesin industri. Jika aktivitas ekonomi meningkat, rantai pasok regional dan perdagangan intra-Asia berpeluang ikut menguat.
Bagi negara berkembang, pertumbuhan China juga dinilai membuka peluang ekspor yang lebih luas. China tetap menjadi pembeli utama berbagai komoditas dunia, termasuk batu bara, bijih logam, minyak sawit, gas alam, hingga produk pertanian. Peningkatan aktivitas industri dan konsumsi domestik berpotensi memperbesar kebutuhan impor tersebut, sekaligus memperluas peluang pada sektor manufaktur menengah seperti bahan kimia, logam industri, dan komponen elektronik.
Dengan demikian, meski pertumbuhan China tidak lagi setinggi satu dekade lalu, besarnya skala ekonomi membuat kenaikan yang relatif kecil sekalipun tetap dapat memunculkan dampak besar bagi perdagangan regional dan global. Tambahan output lebih dari 6 triliun yuan dalam satu tahun bahkan digambarkan setara dengan ukuran ekonomi tahunan sejumlah negara menengah di dunia.

