Konflik antara Iran dan koalisi Amerika Serikat (AS)-Israel memicu kekhawatiran luas di berbagai kawasan dunia, menyusul rangkaian serangan dan serangan balasan yang berdampak pada korban sipil, gangguan penerbangan, hingga ancaman terhadap stabilitas ekonomi global. Sejumlah organisasi dan forum internasional, termasuk ASEAN, Developing Eight (D-8), Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), mendorong pihak-pihak terkait untuk menahan diri dan membuka jalur diplomasi.
Pada 28 Februari 2026, AS dan Israel melancarkan serangkaian serangan terhadap sejumlah target di Iran, termasuk di Teheran, yang dilaporkan menyebabkan kerusakan dan korban sipil. Televisi pemerintah Iran mengonfirmasi Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei termasuk di antara korban tewas dalam serangan tersebut.
Iran kemudian meluncurkan serangan rudal balasan ke wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah. Serangan itu juga berdampak pada sejumlah bandara internasional di kawasan. Dalam hitungan jam setelah eskalasi, banyak negara di Timur Tengah menutup atau membatasi wilayah udara mereka. Uni Emirat Arab, Qatar, Bahrain, Irak, Oman, dan Kuwait termasuk negara yang membatasi atau menutup operasional ruang udara setelah serangan rudal dan drone terjadi di kawasan tersebut.
Iran juga mengambil langkah menutup Selat Hormuz. Seorang komandan senior Garda Revolusi Iran pada Senin (2/3) menyatakan selat tersebut telah ditutup dan memperingatkan bahwa setiap kapal yang mencoba melintasi jalur air itu akan menjadi sasaran. Penutupan Selat Hormuz, salah satu koridor energi paling vital di dunia, meningkatkan kekhawatiran terhadap terganggunya rantai pasok energi serta aktivitas perdagangan global.
Dampak konflik meluas ke sektor ekonomi dan mobilitas. Penutupan wilayah udara di sebagian besar Timur Tengah mengganggu penerbangan sipil, yang berpotensi memengaruhi aktivitas ekonomi dan sosial. Di sisi lain, kapal-kapal tanker minyak dilaporkan masih tertahan di sekitar Selat Hormuz, sementara sejumlah operator pelayaran menghentikan transit akibat melonjaknya biaya asuransi dan meningkatnya kekhawatiran keamanan.
Situasi tersebut mendorong tekanan internasional agar ketegangan segera diturunkan. Negara-negara dan organisasi di berbagai kawasan menilai eskalasi berisiko memperparah korban jiwa dan memperluas ketidakstabilan, sekaligus menambah beban ekonomi global.
Seruan ASEAN
Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) menyampaikan seruan tegas agar semua pihak menahan diri dan mengedepankan perundingan. Dalam pernyataan bersama yang dikeluarkan pada Rabu (4/3), ASEAN menyatakan keprihatinan serius atas eskalasi konflik di Timur Tengah, serta menyerukan gencatan senjata dan deeskalasi melalui diplomasi.
Para Menteri Luar Negeri ASEAN mendesak semua pihak menghormati hukum internasional dan mematuhi Piagam PBB. ASEAN juga menyayangkan peningkatan konflik yang terjadi di tengah perundingan nuklir secara tidak langsung antara AS dan Iran yang dimediasi oleh Oman.
Kekhawatiran atas keselamatan warga negara di kawasan Timur Tengah serta kebutuhan menjaga stabilitas regional menjadi perhatian utama ASEAN. Negara-negara anggota disebut melakukan kesiapsiagaan, memperhitungkan dampak ekonomi, menyiapkan respons cepat, dan memantau perkembangan secara cermat.
Indonesia menekankan kesiapan untuk berperan sebagai mediator. Presiden Prabowo Subianto disebut siap bertolak ke Iran untuk memfasilitasi dialog demi terciptanya kembali kondisi keamanan yang kondusif. Selain itu, Duta Besar Indonesia untuk Iran dan negara-negara Timur Tengah melakukan koordinasi intensif dengan komunitas internasional untuk mendorong jalur diplomasi dan penyelesaian damai.
Di antara anggota ASEAN, Malaysia dan Brunei Darussalam mengecam serangan AS-Israel ke Iran. Singapura menyatakan kekhawatiran mendalam dan memperketat pengamanan di pos-pos pemeriksaan perbatasan sambil memantau situasi. Filipina menekankan keselamatan warganya di Timur Tengah, memastikan koordinasi dengan pemerintah setempat, serta menyiapkan langkah evakuasi jika diperlukan. Thailand menyiapkan rencana evakuasi, memperkuat keamanan, dan mengarahkan warganya agar tetap waspada. Vietnam menyuarakan kekhawatiran mendalam dan mendorong semua pihak menahan diri, mengutamakan keselamatan warga, serta melanjutkan jalur diplomasi. Kamboja mendesak pengendalian diri dan menekankan perlunya dialog untuk mencegah konflik meluas.
Respons D-8 dan dorongan sikap kolektif
Kecaman keras terhadap serangan AS-Israel ke Iran juga datang dari sebagian negara anggota Developing Eight (D-8), yakni Malaysia, Turki, Pakistan, dan Iran. Turki menilai serangan itu sebagai pelanggaran hukum internasional dan menyerukan diplomasi serta gencatan senjata. Malaysia dan Pakistan juga mendesak diplomasi dan menyerukan penghentian eskalasi.
Duta Besar Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi menyatakan harapannya agar D-8 secara kolektif dan tegas mengecam serangan AS-Israel ke Iran, yang dinilai penting untuk menunjukkan dukungan terhadap kedaulatan dan keamanan Iran. Malaysia menyoroti potensi negara-negara D-8 untuk membantu pemulihan pascakonflik di kawasan Timur Tengah. Indonesia, dengan kebijakan luar negeri bebas dan aktif, disebut berfokus pada penurunan ketegangan dan upaya diplomasi; inisiatif Indonesia untuk menjadi mediator didukung oleh Malaysia dan diapresiasi oleh Iran.
D-8 merupakan organisasi kerja sama pembangunan yang beranggotakan Bangladesh, Mesir, Indonesia, Iran, Malaysia, Nigeria, Pakistan, Turki, dan sejak Desember 2024, Azerbaijan. Didirikan pada 1997, forum ini berfokus pada peningkatan kerja sama ekonomi, perdagangan, dan investasi, dengan harapan koordinasi antaranggota memperkuat posisi kolektif negara-negara berkembang dalam menghadapi krisis internasional.
OKI dan PBB menyerukan deeskalasi
Sehari sebelum serangan besar pada 28 Februari 2026, Komite Eksekutif OKI menyampaikan kekhawatiran atas ancaman yang meningkat terhadap Iran dan mengecam setiap tindakan yang melanggar kedaulatan negara. OKI menegaskan bahwa penggunaan kekerasan terhadap negara berdaulat, termasuk Iran, merupakan pelanggaran nyata terhadap hukum internasional, serta menyerukan penahanan diri dan langkah-langkah diplomasi untuk meredam ketegangan.
PBB juga mendesak deeskalasi segera dan penghentian permusuhan di Timur Tengah, dengan seruan agar semua pihak kembali ke meja perundingan.
Tekanan internasional untuk menahan diri
Meluasnya konflik Israel-AS-Iran ke berbagai titik di Timur Tengah memicu keprihatinan global. Tekanan diplomatik dari ASEAN, D-8, OKI, dan PBB mencerminkan upaya kolektif untuk menahan ketegangan, mengutamakan keselamatan warga sipil, dan mencegah dampak ekonomi yang lebih parah.
Berbagai pihak menilai pengendalian diri menjadi kunci agar saling serang tidak terus meningkatkan ketegangan dan menimbulkan ancaman serius terhadap keselamatan warga sipil, serta terhadap perdamaian dan stabilitas regional dan global. Seruan internasional untuk menghentikan aksi militer, menurunkan ketegangan, dan membuka jalur diplomasi terus menguat, di tengah kekhawatiran konflik berkembang menjadi perang regional.
Selain langkah diplomasi, agenda mendesak yang turut disorot mencakup bantuan kemanusiaan, jalur komunikasi darurat, serta koordinasi evakuasi warga sipil. Konflik ini kembali menegaskan bahwa eskalasi bersenjata di satu kawasan dapat memicu efek domino yang luas terhadap keamanan dan perekonomian global.

