BERITA TERKINI
Di Tengah Tarif dan Gejolak Global, Jerman Dinilai Perlu Perkuat Diversifikasi Rantai Pasok, Bukan Memutusnya

Di Tengah Tarif dan Gejolak Global, Jerman Dinilai Perlu Perkuat Diversifikasi Rantai Pasok, Bukan Memutusnya

Ekonomi global tengah menghadapi tekanan berlapis—mulai dari tarif, ketegangan geopolitik, hingga persaingan dari negara-negara yang kian mengejar kemandirian industri seperti Tiongkok. Di tengah situasi ini, seruan untuk pemisahan ekonomi (decoupling) kembali menguat. Namun bagi Jerman sebagai negara pengekspor, memutus keterkaitan rantai nilai global dinilai berisiko besar terhadap basis kemakmuran dan lapangan kerja.

Data tahun pelaporan 2023 menunjukkan, 59% perusahaan Jerman dengan setidaknya 50 karyawan terintegrasi dalam rantai nilai global—setara 34.641 dari 59.127 perusahaan. Dari kelompok itu, 27.395 perusahaan terlibat dalam perdagangan internasional barang dan 22.181 dalam perdagangan internasional jasa. Perdagangan barang terutama berlangsung antarsesama negara Uni Eropa, yang menegaskan peran pasar regional tersebut sebagai penopang utama perdagangan Jerman.

Meski demikian, keterkaitan ini berada di bawah tekanan. Studi BDI pada November 2025 menggambarkan tantangan yang membesar: 92% perusahaan melaporkan biaya ketahanan (resilience) yang meningkat, sementara 68% berencana memindahkan produksi ke luar negeri. Proteksionisme, tarif, dan ketidakpastian geopolitik disebut membebani industri. Studi itu juga menilai bahwa transformasi menyeluruh masih kurang, termasuk pembenahan rantai pasokan dan proses produksi yang dinilai belum cukup mengambil pelajaran dari pandemi Covid-19.

Di sisi lain, dinamika perdagangan dengan Tiongkok memperlihatkan perubahan yang tajam. Pada 2025, Tiongkok kembali menjadi mitra dagang terpenting Jerman, melampaui Amerika Serikat. Namun neraca perdagangan makin timpang: impor dari Tiongkok naik 8,8% menjadi €170,6 miliar, sedangkan ekspor Jerman ke Tiongkok turun 9,7% menjadi €81,3 miliar. Sejak 2022, ekspor barang Jerman ke Tiongkok dilaporkan anjlok seperempat, dan pada tiga kuartal pertama 2025 ekspor itu lebih rendah lebih dari 12% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Berbagai faktor disebut mendorong pelemahan ekspor, mulai dari pemasok Tiongkok yang mengejar ketertinggalan di industri kunci, subsidi negara, hingga nilai tukar yuan yang rendah terhadap euro. Jürgen Matthes, ahli perdagangan luar negeri di Institut Ekonomi Jerman (IW), menyatakan bahwa Tiongkok semakin memainkan “permainan yang tidak adil” yang merugikan sektor ekspor Jerman melalui distorsi persaingan, termasuk subsidi dan nilai tukar yang rendah, serta hambatan dalam penjualan domestik. Selain itu, dorongan swasembada Tiongkok membuat perusahaan Jerman ditekan untuk melayani pasar setempat lewat produksi dan pasokan lokal, bukan melalui ekspor.

Dampak pada pasar tenaga kerja Jerman kini dapat dihitung. Pada puncak boom ekspor ke Tiongkok pada 2021, sekitar 1,1 juta pekerjaan bergantung langsung atau tidak langsung pada konsumsi akhir di Tiongkok. Pada 2025, angka itu turun lebih dari 400.000 menjadi kurang dari 700.000—penurunan sekitar 40%. Porsi pekerjaan yang bergantung pada ekspor ke Tiongkok turun dari hampir 2,5% pada 2021 menjadi sekitar 1,5% pada 2025.

Angka ini memberi konteks bahwa bahkan pada puncaknya, Tiongkok bukan satu-satunya penggerak utama lapangan kerja di Jerman. Namun penurunan tetap terasa bagi industri dan wilayah tertentu. Pada 2025, ekspor kendaraan bermotor dan suku cadang ke AS juga turun 17,8%, meski AS tetap menjadi penerima ekspor Jerman yang paling penting. Secara keseluruhan, ekspor Jerman masih naik 0,25% pada periode Januari–September, dengan Polandia, Swiss, dan Spanyol disebut mampu mengimbangi sebagian penurunan di pasar lain.

Contoh dari industri penerbangan menunjukkan bagaimana saling ketergantungan global bekerja dalam praktik. Sebuah unggahan LinkedIn oleh Xiaolong Hu, Managing Partner China-Team GmbH di Hanover, menyoroti keterkaitan yang kerap luput dibahas: proyek pesawat penumpang COMAC C919. Pesawat yang disertifikasi otoritas penerbangan sipil Tiongkok (CAAC) pada 2022 itu dirancang mengangkut 158 hingga 192 penumpang dengan jangkauan hingga 5.555 kilometer, dan diposisikan bersaing langsung dengan Airbus A320 serta Boeing 737.

Meski dipromosikan sebagai tonggak teknologi, produksi C919 masih bergantung pada pemasok dan lisensi manufaktur Barat. Sistem roda pendaratan dan saluran masuk udara, termasuk pendingin udara, berasal dari perusahaan Jerman Liebherr yang membentuk usaha patungan dengan Landing-Gear Advanced Manufacturing di Changsha untuk pengembangan dan produksi roda pendaratan. Mesin CFM LEAP-1C berasal dari usaha patungan GE Aerospace dan Safran (Prancis). Sementara badan pesawat, sayap, dan ekor diproduksi di Tiongkok, sistem penerbangan inti, avionik, dan mesin disebut berasal dari pemasok Amerika atau Eropa.

Kerentanan ketergantungan ini terlihat pada 2025. Pada Mei, Washington menghentikan izin ekspor komponen utama, termasuk mesin LEAP-1C serta suku cadang dari Parker dan Honeywell, yang membuat produksi C919 terhenti. Pembatasan itu baru dicabut pada Juli. Dampaknya besar: dari target awal 75 pengiriman, COMAC hanya mampu mengirim sekitar 25 unit C919 pada 2025, atau turun sekitar dua pertiga.

Kasus ini menegaskan dua hal. Pertama, ketergantungan teknologi Tiongkok pada pemasok Barat masih signifikan di sektor strategis seperti penerbangan—C919 tidak dapat beroperasi tanpa komponen dari Eropa. Kedua, ketergantungan itu bukan risiko sepihak karena pemasok seperti Liebherr, GE, dan Safran memperoleh pendapatan besar sekaligus akses ke pasar penerbangan yang disebut tumbuh paling cepat di dunia. Di saat yang sama, dinyatakan pula bahwa Tiongkok terus mengembangkan mesin sendiri, tetapi kemandirian teknologi di bidang ini masih membutuhkan waktu bertahun-tahun. Meski COMAC disebut telah membangun stok mesin untuk sekitar dua tahun, ketergantungan jangka panjang pada pemasok asing tetap ada.

Di tengah tekanan global, pendekatan yang dinilai lebih relevan bukanlah menarik diri dari rantai pasokan, melainkan memperluas diversifikasi. Setengah dari perusahaan disebut berniat meningkatkan diversifikasi pengadaan melalui multisourcing untuk memperkuat kemandirian dan ketahanan. Sejumlah strategi seperti nearshoring di Eropa, pengadaan lokal dan regional, friendshoring, serta reshoring kembali ke Eropa disebut kian penting.

Meningkatnya proteksionisme dan tarif juga mendorong rencana relokasi produksi yang lebih luas dibanding dua tahun sebelumnya, dengan wilayah target utama meliputi AS, Eropa Timur, dan sebagian Asia. Relokasi tidak hanya menyasar produksi, tetapi juga pra-perakitan dan perakitan akhir, bahkan fungsi inti perusahaan serta penelitian dan pengembangan disebut semakin sering dipindahkan.

Meski begitu, Eropa tetap digambarkan sebagai jangkar stabilitas. Mitra dagang di Eropa kini menyumbang hampir 70% ekspor Jerman. Peningkatan perdagangan intra-Eropa menunjukkan diversifikasi telah berlangsung, meski tidak selalu tampak menonjol dalam perdebatan publik yang kerap berfokus pada Tiongkok dan AS.

Ketidakpastian juga meningkat akibat kebijakan tarif AS di bawah Presiden Trump. Tarif hingga 50% disebut menarget sektor kunci ekonomi ekspor Jerman, seperti otomotif dan teknik mesin, sehingga menciptakan dilema strategis: mempertahankan pasar non-Eropa terpenting tanpa kehilangan daya saing akibat beban tarif. Sejumlah perusahaan merespons dengan berinvestasi lebih besar pada lokasi produksi di AS untuk menghindari tarif, sembari menempatkan investasi di lokasi berbiaya lebih rendah di Eropa Timur untuk menjaga margin. Strategi ganda ini dinilai mahal dalam jangka pendek, tetapi dianggap penting untuk daya tahan jangka panjang.

Untuk menghadapi kompleksitas rantai pasokan, digitalisasi disebut sebagai salah satu jawaban. Perusahaan didorong menerapkan sistem peringatan dini digital dan perencanaan berbasis AI, dengan prasyarat peningkatan infrastruktur TI dan kualitas data. Keamanan siber juga ditekankan sebagai bagian dari strategi rantai pasokan. Selain itu, pemikiran berbasis skenario krisis disebut semakin menjadi bagian dari pengambilan keputusan sehari-hari, seiring kebutuhan pemantauan dan penilaian risiko yang lebih menyeluruh.

Di tengah narasi krisis, terdapat indikator yang menunjukkan tidak semua sektor berada dalam kondisi terpuruk. Disebutkan bahwa banyak perusahaan Jerman masih mencetak keuntungan yang baik di dalam negeri; laba industri pada 2023 meningkat jauh lebih cepat daripada upah, dan indeks saham Jerman berada pada level tertinggi sepanjang masa. Relokasi produksi ke luar negeri juga tidak otomatis mencerminkan lemahnya lokasi bisnis Jerman, karena sejumlah perusahaan besar justru mempertahankan produksi domestik dengan cara mendiversifikasi jaringan pasok dan mengembangkan pasar luar negeri melalui fasilitas produksi lokal.

Namun, kebutuhan akan strategi industri yang lebih terarah tetap ditekankan. Subsidi harga energi secara menyeluruh atau keringanan pajak umum dinilai bukan solusi yang tepat. Sebaliknya, pengurangan hambatan perdagangan di dalam pasar tunggal Uni Eropa disebut perlu dipercepat agar potensi Eropa dapat dimanfaatkan lebih baik.

Peran usaha kecil dan menengah (UKM) juga mendapat sorotan. UKM—perusahaan dengan 50 hingga 500 karyawan—disebut sebagai tulang punggung ekonomi Jerman dan dalam beberapa hal lebih siap menghadapi gejolak global dibanding perusahaan besar. Alasannya antara lain fleksibilitas pengambilan keputusan, kedekatan hubungan dengan mitra internasional, serta kemampuan merespons perubahan lebih cepat. Dari perusahaan yang terlibat dalam perdagangan internasional pada 2023, hampir setengahnya membeli bahan baku dari luar negeri untuk diproses lebih lanjut, dan 40% lainnya membeli produk setengah jadi.

Pandangan lain yang mengemuka adalah bahwa hubungan UKM Jerman dengan pasar Asia tidak lagi satu arah. Jika sebelumnya fokus utama adalah menjual produk, kini pasar seperti Tiongkok juga dipandang sebagai sumber inspirasi inovasi, pengembangan produk baru, dan pembelajaran untuk memperkuat daya saing, termasuk di pasar domestik.

Kesimpulan yang ditarik dari berbagai data dan contoh tersebut menekankan bahwa rantai pasokan global bagi perusahaan Jerman bukan semata persoalan risiko, melainkan bagian dari solusi untuk menjaga lapangan kerja dan penciptaan nilai. Memutus keterkaitan rantai nilai global dinilai berpotensi melemahkan posisi Jerman sebagai lokasi bisnis. Strategi yang disorot adalah mengelola keterkaitan secara cerdas: mendiversifikasi ketergantungan, memperkuat kedaulatan teknologi, serta mempertahankan keunggulan pada teknologi kunci melalui investasi riset dan pengembangan, pelatihan tenaga kerja terampil, dan modernisasi infrastruktur produksi dalam negeri.