BERITA TERKINI
Dolar AS Kembali Menguat Saat Konflik Israel–Iran Memicu Permintaan Safe Haven

Dolar AS Kembali Menguat Saat Konflik Israel–Iran Memicu Permintaan Safe Haven

Dolar Amerika Serikat menguat pada Kamis (5/3/2026) setelah sempat terkoreksi dari posisi tertinggi dalam lebih dari tiga bulan. Penguatan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan akibat perang Israel–Iran yang mengguncang pasar keuangan global dan mendorong permintaan terhadap aset safe haven.

Pada awal perdagangan, reli dolar sempat tertahan karena sebagian investor masih berharap konflik di Timur Tengah tidak berlangsung lama serta adanya potensi dimulainya kembali pengiriman minyak melalui Selat Hormuz. Namun sentimen pasar tetap rapuh karena konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah memasuki hari keenam.

Ketegangan meningkat setelah Iran meluncurkan gelombang serangan rudal ke wilayah Israel, yang memaksa jutaan warga mencari perlindungan di bunker. Situasi ini kembali mendorong penguatan dolar, yang dengan cepat membalikkan pelemahan awal dan diperdagangkan lebih tinggi.

Euro tercatat turun 0,2% menjadi US$1,1608, sementara poundsterling melemah 0,27% ke level US$1,3335. Terhadap sekeranjang mata uang utama, indeks dolar AS naik 0,2% ke level 99,00 dan kembali mendekati posisi tertinggi lebih dari tiga bulan yang sempat dicapai pada awal pekan.

Senior Macro Strategist Rabobank, Bas van Geffen, menilai kondisi pasar saat ini menunjukkan dominasi dolar sebagai sumber likuiditas global. Menurutnya, aset safe haven tradisional seperti emas tidak memainkan peran seperti biasanya. Ia menambahkan, melihat apresiasi tajam indeks DXY, likuiditas dolar tampaknya menjadi faktor utama.

Sepanjang pekan ini, dolar telah menguat hampir 1,4% dan menjadi salah satu dari sedikit aset yang mencatat kinerja positif di tengah volatilitas tinggi yang menyeret pasar saham, obligasi, bahkan logam mulia. Lonjakan harga energi akibat konflik Timur Tengah juga memicu kekhawatiran akan kembalinya tekanan inflasi global, yang berpotensi mengganggu prospek kebijakan suku bunga bank sentral utama dunia.

Berdasarkan data alat pemantau suku bunga CME Group, peluang penurunan suku bunga oleh Federal Reserve pada Juni kini sekitar 34%, turun dari hampir 46% pada pekan lalu. Penurunan peluang tersebut turut dipengaruhi data ekonomi Amerika Serikat yang kuat pada Rabu.

Ekspektasi pelonggaran kebijakan oleh Bank of England juga mulai berkurang. Sementara itu, pasar uang meningkatkan taruhan bahwa European Central Bank berpotensi menaikkan suku bunga lebih cepat, bahkan dalam tahun ini.

Global FX and Rates Strategist Macquarie Group, Thierry Wizman, mengatakan para pembuat kebijakan moneter kini semakin mencermati risiko inflasi yang kembali meningkat. Ia menyebut prospek suku bunga AS dinilai paling berpotensi berubah jika terjadi lonjakan inflasi global pada 2026, terutama bila pasokan energi terganggu.

Di pasar valuta lain, yen Jepang yang sempat menguat pada awal sesi akhirnya kembali melemah dan terakhir diperdagangkan di level 157,08 per dolar. Dolar Australia turun 0,35% menjadi US$0,7050 setelah pada sesi sebelumnya sempat menguat 0,57% saat dolar AS melemah. Dolar Selandia Baru turun 0,2% menjadi US$0,5930.

Sepanjang pekan ini, dolar Australia bergerak dalam rentang yang lebar. Mata uang tersebut kerap digunakan sebagai indikator sentimen risiko global, namun pada beberapa kesempatan juga mendapat aliran dana safe haven karena melimpahnya sumber energi di negara tersebut yang membantu meredam dampak kenaikan harga minyak.

Dari Asia, China menetapkan target pertumbuhan ekonomi 2026 sebesar 4,5% hingga 5%, sedikit lebih rendah dibandingkan pertumbuhan sekitar 5% pada tahun sebelumnya. Target yang lebih moderat ini dinilai memberi ruang bagi pemerintah untuk meningkatkan upaya menekan kelebihan kapasitas industri dan menyeimbangkan kembali struktur ekonomi.

Yuan sempat pulih dari posisi terendah dalam satu bulan dan terakhir menguat 0,1% ke level 6,8904 per dolar. Penguatan terjadi setelah People’s Bank of China menetapkan panduan nilai tukar pada level terkuat dalam hampir tiga tahun.

Regional Economist untuk Asia Utara di Coface, Junyu Tan, menilai Beijing masih akan berupaya mengejar target pertumbuhan di batas atas kisaran tersebut. Menurutnya, target yang lebih konservatif tidak boleh diartikan sebagai perubahan dari orientasi pro-pertumbuhan, meski pendekatan pemerintah dinilai lebih pragmatis dan fleksibel.

Sementara itu, di pasar kripto, dua aset digital terbesar—Bitcoin dan Ether—masing-masing turun lebih dari 1%, menghapus sebagian penguatan kuat yang tercatat pada sesi sebelumnya.