Jakarta — Duta Besar Malaysia untuk Indonesia Dato' Syed Mohamad Hasrin Tengku Hussin menilai organisasi kerja sama ekonomi Developing Eight (D-8) memiliki peluang besar untuk menjadi pasar alternatif bagi negara-negara anggotanya di tengah ketidakpastian ekonomi global.
"Harapan kita agar dalam keadaan ekonomi yang tidak menentu ini, D-8 bisa menjadi satu pasar alternatif yang lebih bermanfaat untuk negara-negara D-8," kata Dubes Hasrin saat ditemui usai menghadiri agenda buka puasa bersama Kedutaan Besar Malaysia di Jakarta, Rabu malam (4/3).
Menurut Hasrin, sebagai entitas ekonomi, D-8 perlu terus meningkatkan kerja sama antaranggota, termasuk dengan menciptakan peluang kolaborasi baru di berbagai sektor. Ia juga menyinggung target perdagangan antaranggota D-8 yang dipatok mencapai 500 miliar dolar AS pada 2030. Sementara itu, pada 2024 nilai perdagangan internal D-8 baru mencapai 150 miliar dolar AS.
Hasrin mengakui capaian tersebut masih jauh dari target. Karena itu, ia menilai masih banyak hal yang perlu dilakukan negara-negara anggota, salah satunya dengan mengurangi lapisan hambatan perdagangan untuk memfasilitasi perdagangan di antara sesama anggota D-8.
Sebelumnya, dalam wawancara khusus di Jakarta pada Selasa (3/3), Hasrin menyampaikan bahwa Malaysia menjadikan penguatan perdagangan dan investasi, termasuk sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), sebagai prioritas yang akan didorong selama Indonesia memimpin D-8.
"Kekuatan industri Malaysia umumnya disokong UMKM. Karena itu, kami ingin D-8 berperan menguatkan potensi UMKM di negara kami, begitu pula UMKM di negara D-8 lain," ujarnya.
Ia menambahkan, Malaysia mendorong peningkatan perdagangan dan investasi antarnegara anggota D-8 dengan mengoptimalkan kesepakatan perdagangan preferensial serta memperkuat kolaborasi antarpelaku usaha melalui forum bisnis.
D-8 merupakan kelompok kerja sama ekonomi yang dibentuk pada 1997 oleh delapan negara berkembang, yakni Indonesia, Bangladesh, Mesir, Iran, Malaysia, Nigeria, Pakistan, dan Turki. Pada 2025, Azerbaijan bergabung sebagai anggota ke-9.
Saat ini Indonesia memegang keketuaan D-8 dengan tema "Menavigasi Pergeseran Global: Memperkuat Kesetaraan, Solidaritas, dan Kerja Sama untuk Kemakmuran Bersama" yang menekankan adaptasi terhadap dinamika ekonomi global, inklusivitas, dan ketahanan. Indonesia juga dijadwalkan menjadi tuan rumah KTT D-8 di Jakarta pada April mendatang.

