JAKARTA – Eskalasi militer antara Amerika Serikat–Israel dan Iran pada 1 Maret 2026 memicu perhatian pasar global, termasuk Indonesia. CEO dan Founder Astronacci International, Gema Goeyardi, menilai peristiwa tersebut tidak bisa dibaca semata sebagai konflik regional Timur Tengah, melainkan bagian dari agenda geopolitik yang lebih luas terkait perebutan pengaruh dalam peta energi global.
Gema menyoroti kabar kematian Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan tersebut yang menjadi sorotan media internasional. Ia menyebut serangan balasan Iran ke wilayah strategis Israel dan pangkalan militer Amerika, serta keputusan menutup Selat Hormuz, langsung memicu lonjakan harga minyak dan mengguncang pasar.
Menurutnya, poin utama bukan hanya rangkaian serangan, tetapi dampak strategis yang muncul dari gangguan distribusi energi. “Selat Hormuz adalah jalur distribusi sekitar 20% pasokan minyak dunia. Gangguan sekecil apa pun langsung mengguncang harga dan stabilitas ekonomi global,” ujar Gema dalam keterangannya, Kamis (5/3/2026).
Ia juga menekankan posisi Iran sebagai salah satu pemasok energi penting bagi China. Gema menyebut sekitar 89% ekspor minyak Iran mengalir ke China. “Dengan melemahkan Iran dan mengganggu suplai energinya, Amerika secara efektif menekan denyut energi ekonomi China,” katanya.
Dari sudut pandang tersebut, Gema menilai konflik ini terkait strategi Amerika untuk membatasi ruang gerak China dalam rantai pasok energi dunia. Ia menyebut narasi “pembebasan dari tirani” kerap muncul sebagai legitimasi moral, sementara kepentingan energi dinilai menjadi fondasi utama dalam pengaturan ulang arus minyak global.
Gema mengaitkan situasi itu dengan dinamika internal Iran sejak akhir 2025 yang disebutnya dilanda gelombang protes besar terkait dugaan pelanggaran HAM dan pembatasan kebebasan sipil. Menurutnya, perubahan politik dapat menjadi momentum bagi rakyat Iran, tetapi dalam kerangka geopolitik juga membuka ruang bagi Amerika untuk memperkuat pijakan strategis dalam mengamankan kepentingan energi.
Ia menilai sejarah menunjukkan intervensi Amerika kerap bersinggungan dengan negara-negara yang memiliki cadangan energi besar, termasuk Venezuela dan Iran. Isu HAM dan stabilitas sering menjadi pintu masuk diplomatik, sementara variabel energi dan pengaruh geopolitik disebutnya hampir selalu menjadi faktor penentu.
Dampaknya, kata Gema, segera terasa di pasar keuangan. Minyak dan emas menjadi aset yang pertama bereaksi: ancaman gangguan pasokan mendorong harga minyak naik, sementara emas menguat sebagai aset safe haven di tengah ketidakpastian global. “Volatilitas bukan lagi risiko tambahan, melainkan karakter utama pasar dalam fase seperti ini,” jelasnya.
Untuk pasar domestik, Gema memperkirakan IHSG berpotensi tertekan dalam jangka pendek akibat sentimen risk-off dan potensi capital outflow. Meski demikian, ia menilai sektor energi dan pertambangan emas dapat menjadi penopang defensif. Dalam konteks itu, ia menyebut strategi akumulasi pada saham berbasis emas dan energi relevan, serta menyinggung rekomendasi beli pada emiten emas seperti ANTM dan ARCI yang sebelumnya disampaikan sebagai bagian dari positioning defensif terhadap eskalasi geopolitik.
Gema menegaskan, membaca konflik secara dangkal hanya akan menghasilkan narasi perang Iran–Israel, sementara secara strategis ia melihatnya sebagai babak baru rivalitas Amerika dan China. Menurutnya, energi merupakan sumber daya kunci dalam ekonomi modern, dan pihak yang mengendalikan aliran energi akan memegang pengaruh besar terhadap keseimbangan kekuatan dunia. Ia juga menyebut pada 5 Maret 2026 IHSG mulai menunjukkan rebound di tengah tekanan global.

