Ketegangan yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel memicu kekhawatiran akan pecahnya perang berkepanjangan yang dapat mengganggu stabilitas ekonomi global. Sorotan utama tertuju pada situasi di sekitar Selat Hormuz, jalur strategis bagi pengiriman minyak dunia, yang dinilai berisiko mengalami gangguan berkepanjangan.
Harga minyak dilaporkan melonjak sejak 28 Februari setelah serangan udara AS dan Israel ke Iran. Serangan tersebut disebut menewaskan seorang pemimpin penting dan memperdalam konflik yang telah berlangsung selama 12 hari.
Garda Revolusi Iran (IRGC) menyatakan akan menargetkan pusat-pusat ekonomi dan bank yang terkait dengan kepentingan AS dan Israel. Di tengah perkembangan itu, evakuasi staf perusahaan internasional dari Dubai dilaporkan terjadi.
Ali Fadavi, penasihat komandan utama Pengawal, memperingatkan bahwa AS dan Israel berisiko terseret dalam perang yang dapat menghancurkan ekonomi mereka sendiri sekaligus ekonomi global.
Iran mengklaim telah menyerang dua kapal komersial di Teluk karena mengabaikan peringatan angkatan lautnya saat memasuki Selat Hormuz. IRGC juga menegaskan memiliki kontrol penuh atas jalur air tersebut. Para analis menilai gangguan pengiriman yang berkepanjangan melalui selat itu dapat memicu guncangan ekonomi besar, terutama bagi Asia dan Eropa, mengingat jalur tersebut juga disebut mengangkut sepertiga pupuk global.
Di ranah diplomasi, Dewan Keamanan PBB mengeluarkan resolusi yang menuntut Iran menghentikan serangan terhadap negara-negara Teluk. Namun, duta besar Iran untuk PBB menuduh dewan tersebut menyalahgunakan mandatnya. Di sisi lain, konflik dilaporkan telah mengganggu produksi energi dan penerbangan komersial di kawasan Teluk.
Situasi keamanan di wilayah tersebut juga memburuk. Sebuah drone jatuh di dekat bandara Dubai pada hari Rabu dan melukai empat orang. Serangan lain dilaporkan menargetkan tangki bahan bakar di pelabuhan Salalah, Oman.
Israel dilaporkan menyerang target di Teheran pada Rabu malam, yang menurut kantor berita Fars Iran menewaskan anggota pasukan keamanan. IRGC kemudian mengklaim melakukan operasi rudal bersama Hizbullah terhadap target di Israel setelah tengah malam pada hari Kamis.
Di Amerika Serikat, pejabat Pentagon dilaporkan memberi tahu para pembuat undang-undang bahwa biaya perang telah melampaui US$1,3 miliar dalam enam hari pertama, menurut laporan The New York Times.
Sementara itu, Lebanon melaporkan lebih dari 630 orang tewas akibat pertempuran antara Israel dan Hezbollah, dengan lebih dari 800.000 orang terdaftar sebagai pengungsi. Hezbollah disebut menyerang Israel setelah pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, yang kemudian menyeret Lebanon ke dalam perang.
Serangan Israel dilaporkan menghantam sebuah gedung apartemen di Beirut, disusul serangan balasan yang menewaskan delapan orang di Lebanon timur.
Rangkaian serangan AS-Israel disebut dimulai setelah pihak berwenang Iran menumpas protes massal. Kepala Polisi Iran Ahmad-Reza Radan menyatakan pengunjuk rasa akan dianggap sebagai “musuh”. Dalam perkembangan lain, pemimpin tertinggi baru Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, dilaporkan terluka namun dinyatakan “aman”. Kementerian kesehatan Iran melaporkan lebih dari 1.200 orang tewas dalam serangan AS dan Israel pada 8 Maret.
Ribuan pelayat berkumpul di Teheran untuk memperingati para komandan yang tewas. Di tengah ketegangan, Yahya Rahim Safavi, penasihat senior pemimpin tertinggi yang baru, melontarkan pernyataan keras terhadap Presiden AS Donald Trump.
Dampak konflik terhadap jalur perdagangan energi kian terasa setelah serangan rudal dan drone Iran disebut menghentikan pengiriman melalui Selat Hormuz. Trump menyatakan Washington akan memanfaatkan cadangan strategis AS untuk menstabilkan pasar, sementara Badan Energi Internasional disebut menyepakati pelepasan 400 juta barel. Trump juga mengatakan pasukan AS telah menyerang 28 kapal penambang ranjau Iran dan mengklaim “hampir tidak ada yang tersisa untuk dijadikan target”, seraya menambahkan, “Setiap kali saya ingin itu berakhir, itu akan berakhir.”

