Harga minyak dunia melonjak ke level tertinggi dalam lebih dari dua tahun, di tengah kekhawatiran bahwa konflik yang berlanjut di Timur Tengah dapat mengganggu pasokan energi global. Peringatan datang dari pemerintah Qatar yang menyebut produksi minyak dan gas di kawasan Teluk berpotensi berhenti dalam beberapa hari ke depan apabila eskalasi tidak mereda.
Dikutip dari Financial Times, Sabtu (7/3/2026), Menteri Energi Qatar sekaligus CEO QatarEnergy, Saad al-Kaabi, menyatakan konflik di Timur Tengah—wilayah yang menjadi pusat pasokan energi dunia—berisiko mengguncang ekonomi global. Ia menilai perang di kawasan tersebut dapat “menjatuhkan ekonomi dunia”.
Lonjakan harga terlihat pada perdagangan Jumat, ketika minyak mentah Brent naik lebih dari 9 persen dan menembus 93 dollar AS per barel. Level ini merupakan yang tertinggi sejak musim gugur 2023. Kenaikan tersebut kembali menempatkan harga minyak sebagai perhatian utama karena dampaknya luas, mulai dari biaya bahan bakar kendaraan hingga harga pemanas, makanan, dan barang impor.
Secara kasar, satu barel minyak setara sekitar 159 liter. Dengan harga 93 dollar AS per barel, harga minyak dunia per liter berada di kisaran sekitar 0,58 dollar AS.
Kekhawatiran inflasi global
Mengutip BBC, lonjakan harga minyak dunia terkini, bersamaan dengan harga gas yang juga meningkat tajam pekan ini, memunculkan kekhawatiran terhadap inflasi di sejumlah ekonomi besar seperti Inggris dan Amerika Serikat. Padahal, inflasi di kedua negara tersebut sebelumnya berada dalam tren penurunan.
Al-Kaabi memperkirakan harga minyak dapat melonjak hingga 150 dollar AS per barel apabila konflik dengan Iran berlanjut dalam beberapa minggu ke depan. “Jika perang ini berlangsung beberapa minggu, pertumbuhan PDB di seluruh dunia akan terdampak,” kata Al-Kaabi. Ia menambahkan, kenaikan harga energi berpotensi memicu kekurangan beberapa produk dan menciptakan reaksi berantai ketika pabrik tidak dapat memasok barang.
Dampaknya mulai terlihat di Inggris. Berdasarkan data RAC, harga bensin di pompa BBM naik sekitar 3,7 pence per liter sejak Sabtu lalu, sementara harga solar meningkat 6 pence hingga mencapai level tertinggi dalam 16 bulan.
Sementara itu, pengawas persaingan usaha Inggris, Competition and Markets Authority, menyatakan sedang memantau perkembangan harga BBM di SPBU. Tagihan energi rumah tangga juga berpotensi meningkat, meski dampaknya diperkirakan baru terasa setelah Juli karena batas harga energi yang ditetapkan regulator Ofgem masih berlaku hingga saat itu.
Sejumlah pihak mengkhawatirkan krisis ini dapat memicu dampak serupa dengan lonjakan harga energi setelah invasi Rusia ke Ukraina pada 2022.

