BERITA TERKINI
Industri Pindar Menguat sebagai Infrastruktur Pembiayaan, Perluas Inklusi dan Dorong Ekonomi

Industri Pindar Menguat sebagai Infrastruktur Pembiayaan, Perluas Inklusi dan Dorong Ekonomi

JAKARTA — Industri pinjaman daring (pindar) di Indonesia kian menegaskan pergeserannya dari sekadar alternatif pembiayaan menjadi salah satu infrastruktur keuangan strategis yang menopang perekonomian nasional. Peran tersebut terlihat dalam dukungannya terhadap likuiditas rumah tangga, perluasan inklusi keuangan, hingga aktivitas ekonomi pada segmen yang selama ini sulit dijangkau perbankan.

Gambaran transformasi itu tertuang dalam riset Katadata Insight Center berjudul “Dari Alternatif Menjadi Imperatif: Peran Vital Industri Pindar bagi Ekonomi Digital Indonesia”. Riset disusun melalui analisis data nasional serta survei terhadap ratusan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang menerima pembiayaan dari platform pindar.

Temuan riset tersebut menyoroti kontribusi pindar dalam menutup kesenjangan pembiayaan (funding gap) yang masih membayangi kelompok masyarakat unbankable dan underserved. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, hingga Agustus 2025 terdapat 25,5 juta penerima pinjaman aktif, dengan total outstanding industri mencapai Rp 87,49 triliun atau tumbuh 21,46 persen secara tahunan.

Ketua Umum Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) Entjik S. Djafar menilai data tersebut menguatkan posisi pindar sebagai bagian dari infrastruktur pembiayaan nasional. “Baik sebagai penyangga likuiditas rumah tangga maupun sebagai katalis pertumbuhan usaha, terutama UMKM,” ujarnya dalam Paparan Riset Industri Pindar dan Buka Puasa Bersama Media di Jakarta, Rabu (4/3/2026).

Pergeseran komposisi pembiayaan

Dalam dua tahun terakhir, riset mencatat adanya pergeseran komposisi pembiayaan di industri pindar. Porsi pinjaman produktif menurun dari sekitar 30 persen pada paruh akhir 2024 menjadi sekitar 20 persen pada pertengahan Agustus 2025.

Ketua Bidang Humas AFPI Kuseryansyah memandang kondisi itu menegaskan peran pendanaan konsumtif sebagai penyangga likuiditas rumah tangga di tengah tantangan perlambatan ekonomi. Ia mengaitkannya dengan struktur perekonomian nasional, di mana konsumsi rumah tangga menyumbang sekitar 52–58 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia dalam lima tahun terakhir.

“Ketika pembiayaan produktif melambat, menjaga daya beli masyarakat menjadi kunci agar permintaan domestik tidak jatuh. Di sinilah pembiayaan multiguna pindar berfungsi sebagai stabilisator,” kata Kuseryansyah.

Menurutnya, penggunaan pembiayaan multiguna di pindar tidak selalu identik dengan aktivitas non-produktif. Ia menyebut, dalam praktiknya, dana tersebut kerap dipakai untuk menunjang produktivitas harian, seperti kebutuhan komunikasi dan mobilitas kerja.

Riset juga mencatat bahwa sebagian pembiayaan konsumtif digunakan untuk kebutuhan fungsional yang mendukung produktivitas, seperti komunikasi, transportasi, serta mobilitas kerja. Penyaluran ini dinilai memiliki dampak berantai pada sektor perdagangan, transportasi, dan telekomunikasi, yang kemudian memengaruhi output nasional, pendapatan, serta penyerapan tenaga kerja.

Kontribusi bagi UMKM

Di sisi pembiayaan produktif, kontribusi pindar terhadap sektor usaha disebut tetap signifikan. Per Agustus 2025, outstanding pembiayaan kepada UMKM tercatat mencapai Rp 29,64 triliun atau sekitar 33,83 persen dari total outstanding industri.

Survei nasional terhadap 309 pelaku UMKM di 15 sektor ekonomi menunjukkan, pindar menjadi salah satu sumber pendanaan utama karena kecepatan pencairan dan kemudahan pengajuan. Sebanyak 69,3 persen responden menilai kecepatan pencairan sebagai keunggulan utama, sementara 66,3 persen menyoroti proses yang sederhana.