TEHERAN — Iran menyatakan siap menghadapi perang gesekan jangka panjang yang, menurut pejabat militernya, berpotensi menghancurkan ekonomi Amerika Serikat dan ekonomi dunia. Pernyataan itu muncul di tengah meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis bagi perdagangan energi global, setelah Teheran menembaki dua kapal dagang dan mengancam kapal-kapal Amerika Serikat (AS) maupun sekutunya.
Ali Fadavi, penasihat panglima tertinggi Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), mengatakan AS dan Israel perlu mempertimbangkan kemungkinan terlibat dalam perang berkepanjangan. “AS dan Israel harus mempertimbangkan kemungkinan bahwa mereka akan terlibat dalam perang gesekan jangka panjang yang akan menghancurkan seluruh ekonomi Amerika dan ekonomi dunia,” kata Fadavi kepada televisi pemerintah Iran.
Situasi memanas ketika Iran menyatakan pasukannya menyerang kapal kontainer berbendera Liberia, Express Rome, serta kapal pengangkut minyak curah Thailand, Mayuree Naree. Iran menyebut kedua kapal itu memasuki Selat Hormuz setelah mengabaikan peringatan dari Angkatan Laut IRGC.
Angkatan Laut Oman dilaporkan menyelamatkan 20 awak kapal. Upaya pencarian masih dilakukan terhadap tiga orang lainnya. Sementara itu, gambar yang dibagikan Angkatan Laut Thailand menunjukkan asap hitam mengepul dari salah satu kapal.
Konflik yang disebut telah memasuki hari ke-13 pada Kamis (12/3/2026) juga disertai ancaman IRGC untuk menargetkan “pusat ekonomi dan bank” yang dianggap terkait dengan kepentingan AS dan Israel. Ancaman tersebut mendorong lebih banyak perusahaan internasional mengevakuasi karyawan dari Dubai.
Perhatian utama tertuju pada Selat Hormuz, yang dilalui sekitar 20% minyak mentah dan LNG global. Para analis menilai penutupan selat secara berkepanjangan akan berdampak berat bagi perekonomian dunia, terutama di Asia dan Eropa. Selat ini juga disebut menjadi jalur perlintasan sepertiga pupuk untuk produksi pangan dunia.
Di tengah kekhawatiran gangguan pasokan energi, harga minyak dilaporkan melonjak sejak 28 Februari, ketika AS dan Israel menyerang Iran. Dalam laporan yang sama disebutkan serangan tersebut menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khemenei, dan menjerumuskan Timur Tengah ke dalam perang.
Untuk meredam lonjakan harga minyak, Badan Energi Internasional menyatakan negara-negara anggotanya akan melepaskan 400 juta barel minyak dari cadangan mereka, yang disebut sebagai pelepasan terbesar yang pernah dilakukan.
Dari pihak AS, Presiden Donald Trump menyatakan perang akan segera berakhir karena hanya sedikit yang tersisa untuk ditargetkan oleh pasukan AS di Iran, di saat Teheran disebut memperketat cengkeramannya di Selat Hormuz.
Di tingkat diplomasi, Presiden Prancis Emmanuel Macron mendesak para pemimpin G7 bertindak untuk memulihkan navigasi di selat tersebut sesegera mungkin. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga meminta semua pihak mengizinkan kargo kemanusiaan untuk transit.
Iran juga disebut memperburuk dampak ekonomi dengan menargetkan sekutu AS di kawasan Teluk. Pada Rabu, sebuah drone jatuh di dekat bandara Dubai dan melukai empat orang, menurut pemerintah kota setempat.

