BERITA TERKINI
Israel Luncurkan Serangan Udara Besar ke Teheran, Konflik AS–Iran Meluas dan Mengguncang Pasar Global

Israel Luncurkan Serangan Udara Besar ke Teheran, Konflik AS–Iran Meluas dan Mengguncang Pasar Global

Konflik antara Amerika Serikat dan Iran memasuki hari keenam dengan eskalasi baru setelah Israel melancarkan gelombang besar serangan udara ke ibu kota Iran, Teheran, pada Kamis (5/3/2026). Serangan tersebut disebut menargetkan infrastruktur yang terkait dengan otoritas Iran.

Serangan Israel terjadi setelah rentetan rudal Iran memaksa jutaan warga Israel bergegas ke bunker perlindungan. Perang yang awalnya berpusat di kawasan Teluk kini meluas hingga ke Asia, memicu gejolak di pasar keuangan global dan mendorong ribuan wisatawan serta warga asing berupaya meninggalkan kawasan Timur Tengah.

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran mengecam tenggelamnya kapal perang Iran di lepas pantai Sri Lanka pada Rabu (4/3) yang menewaskan sedikitnya 80 orang. Ia menyebut insiden itu sebagai “kekejaman di laut”. Menurutnya, fregat Iran Dena—yang sedang menjadi tamu Angkatan Laut India dan membawa hampir 130 awak—diserang tanpa peringatan di perairan internasional.

Teheran memperingatkan Washington akan “menyesali” preseden yang telah diciptakannya. Seorang komandan Islamic Revolutionary Guard Corps, Jenderal Kioumars Heydari, mengatakan Iran siap melawan Amerika Serikat di mana pun. “Kami telah memutuskan untuk melawan Amerika di mana pun mereka berada,” kata Heydari kepada televisi pemerintah Iran, seraya menambahkan Iran tidak mempermasalahkan berapa lama perang akan berlangsung.

Pada Kamis, Garda Revolusi Iran juga mengklaim telah menyerang sebuah kapal tanker Amerika Serikat di bagian utara Teluk yang disebut-sebut terbakar. Dalam pernyataan yang disiarkan media pemerintah, pasukan tersebut menegaskan bahwa selama masa perang, lalu lintas kapal di Selat Hormuz akan berada di bawah kendali Republik Islam Iran.

Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran strategis yang menjadi pintu keluar utama ekspor minyak dan gas dari Timur Tengah. Pada Kamis, pengiriman kapal melalui selat itu dilaporkan masih lumpuh, menghambat arus minyak dan gas vital dari kawasan tersebut. Harga minyak dunia kembali naik, sementara setidaknya 200 kapal disebut masih berlabuh di sekitar kawasan menunggu situasi keamanan membaik.

Perkembangan konflik juga menyeret Turki. Pemerintah Turki menyatakan sistem pertahanan udara NATO berhasil menghancurkan rudal balistik Iran yang mengarah ke wilayahnya pada Rabu. Ini menjadi pertama kalinya negara anggota NATO yang berbatasan dengan Asia tersebut terseret langsung dalam konflik Timur Tengah, meningkatkan risiko perluasan perang yang melibatkan aliansi militer Barat.

Namun, Staf Umum Angkatan Bersenjata Iran membantah telah menembakkan rudal ke Turki. Dalam pernyataan yang disiarkan media Iran, Teheran menyatakan tetap menghormati kedaulatan Turki sebagai negara “sahabat”.

Di Washington, D.C., senator dari Partai Republik pada Rabu malam menggagalkan upaya untuk menghentikan kampanye udara Amerika Serikat terhadap Iran. Penolakan itu membuat kewenangan Presiden Donald Trump dalam mengarahkan perang tetap luas tanpa pembatasan dari Kongres.

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth juga menyatakan dukungan penuh kepada Israel dalam percakapan telepon dengan Menteri Pertahanan Israel Israel Katz. “Teruskan sampai akhir – kami bersama Anda,” ujar Hegseth, menurut pernyataan Kementerian Pertahanan Israel.

Di Iran, serangan udara berulang di Teheran dilaporkan memaksa penundaan pemakaman pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei (86), yang tewas dalam serangan awal Israel pada Sabtu sebelumnya. Putranya, Mojtaba Khamenei, disebut muncul sebagai kandidat terkuat untuk menggantikan posisi pemimpin tertinggi Iran.

Perkembangan tersebut menunjukkan Teheran tidak menampilkan tanda-tanda menyerah di tengah tekanan militer dari Amerika Serikat dan Israel yang disebut telah menewaskan ratusan orang.

Dari sisi ekonomi, Direktur Pelaksana International Monetary Fund, Kristalina Georgieva, memperingatkan konflik ini sedang menguji ketahanan ekonomi global. Ia menyatakan, bila perang berlangsung lama, dampaknya dapat meluas ke harga energi, sentimen pasar, pertumbuhan ekonomi, serta inflasi di berbagai negara.

Sementara itu, sejumlah negara mulai memulangkan warganya dari Timur Tengah melalui penerbangan repatriasi pada Rabu. Pemerintah bergegas mengevakuasi puluhan ribu warga yang terjebak akibat konflik. Namun, sebuah penerbangan repatriasi milik Inggris dari Oman dilaporkan tertunda dan dijadwalkan ulang pada Kamis.

Lalu lintas penerbangan komersial di sebagian besar kawasan juga masih sangat terbatas. Sejumlah pusat penerbangan utama di Teluk, termasuk Dubai—bandara tersibuk di dunia untuk penumpang internasional—mengalami pembatalan penerbangan secara luas.

Konflik yang terus meluas ini meningkatkan kekhawatiran akan dampak geopolitik dan ekonomi yang lebih besar bagi dunia.