Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI) kembali menggelar ESG Award 2026 by KEHATI sebagai bagian dari upaya memperkuat integrasi prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) di industri pasar modal dan sektor keuangan nasional.
Di tengah meningkatnya perhatian investor global terhadap tata kelola dan keberlanjutan, KEHATI menilai ESG kini menjadi variabel penting dalam penilaian risiko, valuasi, dan arus modal. Penguatan standar serta transparansi ESG dinilai akan menentukan daya saing emiten Indonesia dalam menarik investasi jangka panjang.
Direktur Eksekutif KEHATI, Riki Frindos, mengatakan ESG Award dirancang sebagai instrumen untuk mendorong peningkatan kualitas praktik ESG di tingkat emiten, manajer investasi, hingga investor.
“Integrasi ESG bukan lagi pilihan reputasional, melainkan strategi mitigasi risiko dan peningkatan valuasi. Emiten dan institusi keuangan yang adaptif terhadap standar ESG akan memiliki akses pendanaan yang lebih kompetitif,” ujar Riki.
Jejak ESG KEHATI di pasar modal
KEHATI telah terlibat dalam pengembangan inisiatif ESG di pasar modal sejak 2009 melalui peluncuran indeks SRI-KEHATI bersama Bursa Efek Indonesia. Indeks tersebut disebut sebagai indeks ESG pertama di Indonesia dan kini menjadi referensi bagi berbagai produk investasi berbasis keberlanjutan.
Pada 2021, kolaborasi diperluas dengan peluncuran indeks ESG Sector Leaders IDX KEHATI dan ESG Quality 45 IDX KEHATI.
Hingga saat ini, KEHATI menyebut telah bermitra dengan 16 manajer investasi dengan total dana kelolaan berbasis ESG melampaui Rp7 triliun. KEHATI juga menyatakan aktif mengembangkan ekosistem impact investment serta mendukung startup berdampak melalui kolaborasi dengan fund manager domestik.
Langkah tersebut disebut sejalan dengan peta jalan keuangan berkelanjutan yang diterbitkan Otoritas Jasa Keuangan, serta meningkatnya penerbitan green bond dan instrumen pembiayaan berkelanjutan di Indonesia.
Cakupan sektor dan mekanisme penilaian
Dalam pelaksanaannya, ESG Award 2026 mencakup empat sektor utama, yakni sektor capital market, impact investment, debt & project financing, serta kategori best facilitator.
Pada sektor capital market, penghargaan mencakup kategori Best Emiten dan Best Investor yang meliputi manajer investasi, asuransi, serta dana pensiun. Pada sektor impact investment, kategori yang dinilai adalah Best Impact Entrepreneur dan Best Investor on Impact Investment. Sementara di sektor debt & project financing terdapat kategori Best Issuer/Borrower Green Instrument dan Best Investor/Creditor.
Penilaian dilakukan melalui sistem scoring yang mengevaluasi aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola secara komprehensif, termasuk peningkatan skor (delta improvement) dibandingkan periode sebelumnya.
Untuk menjaga independensi dan kredibilitas, pemilihan pemenang dilakukan oleh Dewan Juri independen yang dipimpin Dr. D. Cyril Noerhadi, Dewan Pengawas Indonesia Investment Authority (INA), dengan Riki Frindos sebagai wakil ketua. Dewan juri juga didukung sejumlah tokoh pasar modal dan praktisi investasi hijau.
Indikator tambahan bagi investor
KEHATI berharap ESG Award dapat menjadi katalis peningkatan kualitas keterbukaan serta integrasi ESG dalam strategi korporasi. Bagi investor, penghargaan ini diharapkan dapat menjadi indikator tambahan dalam proses seleksi portofolio berbasis keberlanjutan.
“Penguatan praktik ESG akan berdampak pada cost of capital, persepsi risiko, dan akses ke investor global. Indonesia memiliki momentum untuk mempercepat transisi menuju ekonomi rendah karbon melalui pasar modal,” kata Riki.
Pendaftaran ESG Award 2026 dibuka hingga 22 Mei 2026 pukul 24.00 WIB. Malam penganugerahan dijadwalkan berlangsung pada 30 Juli 2026. Informasi lebih lanjut dapat diakses melalui situs resmi KEHATI di www.kehati.or.id.
Tentang KEHATI
KEHATI didirikan pada 12 Januari 1994 dengan tujuan menghimpun dan mengelola sumber daya yang disalurkan dalam bentuk dana hibah, fasilitasi, konsultasi, serta dukungan lain untuk menunjang pelestarian keanekaragaman hayati Indonesia secara adil dan berkelanjutan.
Sejumlah tokoh yang berperan dalam pembentukan KEHATI antara lain Emil Salim, Koesnadi Hardjasoemantri, Ismid Hadad, Erna Witoelar, M.S. Kismadi, dan Nono Anwar Makarim.
Selama lebih dari dua dekade, KEHATI bekerja sama dengan berbagai lembaga lokal dari Aceh hingga Papua melalui enam pilar pendekatan program, yakni ekosistem kehutanan, pertanian, kelautan, perubahan iklim dan ekonomi sirkular, ekonomi berkelanjutan, serta Biodiversity Warriors. KEHATI juga mengelola sejumlah program khusus seperti Tropical Forest Conservation Action (TFCA) Sumatera dan Kalimantan, Blue Abadi Fund (BAF), Ananta Fund, serta SOLUSI (Solutions for Integrated Land-and Seascape Management in Indonesia).

