Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencermati eskalasi konflik geopolitik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat karena berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi global. Pemerintah menilai dampaknya dapat merembet ke sektor energi, logistik internasional, serta rantai pasok bahan baku industri.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan konflik di kawasan Timur Tengah dapat memicu volatilitas harga energi dunia, gangguan jalur perdagangan internasional, serta kenaikan biaya logistik dan bahan baku. Kondisi tersebut dinilai berpotensi memberi dampak tidak langsung terhadap kinerja industri manufaktur nasional.
Menurut Agus, salah satu faktor yang paling berpengaruh adalah potensi gangguan distribusi energi global. Ia menyoroti posisi Timur Tengah—termasuk Selat Hormuz—sebagai jalur vital perdagangan minyak dunia. Sekitar seperlima pasokan minyak global melewati jalur tersebut sehingga gangguan di kawasan itu dapat memicu lonjakan harga energi internasional.
Dalam beberapa hari terakhir, eskalasi konflik juga menimbulkan kekhawatiran terhadap aktivitas pelayaran dan distribusi energi di kawasan tersebut. Ancaman keamanan maritim dan serangan militer disebut berdampak pada menurunnya lalu lintas kapal tanker serta meningkatnya risiko bagi perusahaan pelayaran dan asuransi maritim. Situasi ini turut mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia akibat gangguan pasokan energi dari Timur Tengah dan meningkatnya risiko geopolitik.
Agus menjelaskan, kenaikan harga energi global dapat berdampak langsung terhadap sektor manufaktur karena energi merupakan komponen utama biaya produksi di banyak subsektor. Sejumlah industri seperti petrokimia, logam dasar, semen, pupuk, dan berbagai industri pengolahan lainnya dinilai sensitif terhadap fluktuasi harga energi.
“Jika harga energi global meningkat dalam jangka waktu panjang, maka biaya produksi industri manufaktur juga berpotensi naik. Hal ini dapat memengaruhi efisiensi produksi serta daya saing produk industri di pasar domestik maupun ekspor,” ujarnya.
Selain energi, konflik geopolitik juga dinilai berpotensi memengaruhi ketersediaan bahan baku industri dari pasar global. Agus menyebut beberapa sektor yang masih bergantung pada bahan baku impor antara lain industri kimia, petrokimia, tekstil, logam, serta makanan dan minuman. Ketidakpastian geopolitik dapat meningkatkan biaya pengadaan bahan baku dan memperpanjang waktu pengiriman akibat perubahan jalur logistik internasional.
Gangguan jalur perdagangan global juga berpotensi memengaruhi ekspor manufaktur Indonesia. Agus mengatakan, konflik geopolitik biasanya memicu volatilitas pasar global sehingga permintaan dari negara tujuan ekspor dapat berfluktuasi.
Meski demikian, Agus menegaskan pemerintah menyiapkan langkah antisipatif untuk menjaga ketahanan industri nasional. Strategi yang disiapkan meliputi penguatan struktur industri hulu, peningkatan penggunaan bahan baku dalam negeri, serta diversifikasi pasar ekspor.
“Penguatan industri hulu dan peningkatan penggunaan produk dalam negeri menjadi sangat penting agar industri manufaktur Indonesia tidak terlalu bergantung pada pasokan global yang rentan terhadap gejolak geopolitik,” kata Agus.
Pemerintah juga mendorong peningkatan efisiensi energi di sektor industri serta percepatan transformasi menuju industri hijau untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil yang dinilai sangat dipengaruhi dinamika geopolitik global. Agus menyatakan optimistis industri manufaktur nasional memiliki ketahanan yang cukup kuat, didukung struktur industri yang semakin terdiversifikasi serta peran manufaktur sebagai tulang punggung perekonomian.
Kemenperin, lanjut Agus, akan terus berkoordinasi dengan pelaku industri, asosiasi, serta kementerian dan lembaga terkait guna memastikan industri manufaktur tetap tumbuh dan berdaya saing di tengah dinamika ekonomi global.
Dalam kesempatan yang sama, Agus menegaskan pemerintah juga memperkuat ketahanan pangan dan energi nasional yang menjadi program prioritas Presiden Prabowo Subianto. Ia menilai swasembada pangan dan energi membutuhkan dukungan kuat dari industri manufaktur, termasuk industri pupuk, alat dan mesin pertanian, pengolahan pangan, serta industri kemasan.
Di sektor energi, Agus menyebut industri berperan strategis dalam pengembangan energi baru dan terbarukan, produksi komponen pembangkit listrik, pengembangan kendaraan listrik, hingga industri petrokimia sebagai bagian dari rantai pasok energi nasional.
Agus menambahkan, pemerintah memperkuat kebijakan peningkatan penggunaan produk dalam negeri (P3DN) serta pengembangan rantai pasok domestik untuk mengurangi ketergantungan impor bahan baku sekaligus meningkatkan nilai tambah industri nasional. Ia menyatakan optimistis penguatan struktur industri dan dukungan terhadap program ketahanan pangan serta energi akan membantu manufaktur Indonesia tetap tumbuh dan berdaya saing di tengah tantangan global.

