BERITA TERKINI
Kemenperin Antisipasi Dampak Konflik Iran–Israel–AS dengan Perkuat Ketahanan Industri

Kemenperin Antisipasi Dampak Konflik Iran–Israel–AS dengan Perkuat Ketahanan Industri

Eskalasi konflik geopolitik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat (AS) memunculkan kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi global, terutama pada sektor energi, logistik internasional, serta rantai pasok bahan baku industri. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyatakan terus mencermati perkembangan tersebut karena berpotensi memberi dampak tidak langsung terhadap kinerja industri manufaktur nasional.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan konflik di Timur Tengah dapat memicu volatilitas harga energi global, gangguan jalur perdagangan internasional, serta peningkatan biaya logistik dan bahan baku. Menurutnya, kondisi ini pada akhirnya dapat memengaruhi daya saing industri manufaktur di berbagai negara, termasuk Indonesia.

“Kami terus memonitor perkembangan konflik di Timur Tengah karena kawasan tersebut merupakan salah satu pusat energi dunia sekaligus jalur logistik global yang sangat penting. Setiap eskalasi konflik berpotensi memengaruhi harga energi, kelancaran rantai pasok bahan baku industri, serta biaya logistik yang digunakan oleh sektor manufaktur,” ujar Agus dalam keterangan pers, Jumat (6/3/2026).

Agus menilai salah satu faktor yang paling berpengaruh terhadap sektor industri adalah potensi gangguan distribusi energi global. Ia menyoroti posisi Timur Tengah, khususnya Selat Hormuz, sebagai jalur vital perdagangan minyak dunia. Sekitar seperlima pasokan minyak global disebut melewati jalur tersebut, sehingga gangguan keamanan di kawasan itu berisiko memicu lonjakan harga energi internasional.

Dalam beberapa hari terakhir, eskalasi konflik juga menimbulkan kekhawatiran terhadap aktivitas pelayaran dan distribusi energi. Serangan militer serta ancaman keamanan maritim disebut menyebabkan lalu lintas kapal tanker menurun drastis dan meningkatkan risiko bagi perusahaan pelayaran maupun industri asuransi maritim. Situasi itu turut memicu kenaikan harga minyak global.

Agus menjelaskan bahwa kenaikan harga energi global dapat berdampak langsung pada industri manufaktur karena energi merupakan salah satu komponen utama biaya produksi. Sejumlah subsektor seperti petrokimia, logam dasar, semen, pupuk, serta industri pengolahan lainnya dinilai sensitif terhadap fluktuasi harga energi.

“Jika harga energi global meningkat dalam jangka waktu panjang, biaya produksi industri manufaktur juga berpotensi naik. Hal ini tentu dapat memengaruhi efisiensi produksi serta daya saing produk industri di pasar domestik maupun ekspor,” kata Agus.

Selain energi, konflik geopolitik juga berpotensi memengaruhi ketersediaan bahan baku industri dari pasar global. Sejumlah pengamat ekonomi menilai konflik di Timur Tengah dapat mengganggu perdagangan internasional, memicu kenaikan harga komoditas, serta berdampak pada kinerja ekspor berbagai negara. Bagi Indonesia, dampaknya dapat dirasakan pada industri yang bergantung pada bahan baku impor, seperti kimia, petrokimia, tekstil, logam, hingga makanan dan minuman.

Ketidakpastian geopolitik juga dinilai dapat meningkatkan biaya pengadaan bahan baku dan memperpanjang waktu pengiriman akibat perubahan jalur logistik global. Agus menambahkan, gangguan jalur perdagangan internasional dapat memengaruhi kinerja ekspor industri manufaktur karena konflik geopolitik kerap memicu volatilitas pasar global dan fluktuasi permintaan dari negara tujuan ekspor.

“Perkembangan situasi geopolitik global tentu perlu kita antisipasi bersama. Kinerja ekspor industri manufaktur Indonesia selama ini sangat dipengaruhi oleh stabilitas ekonomi global dan permintaan pasar internasional,” ujarnya.

Meski demikian, Agus menyatakan pemerintah menyiapkan langkah antisipatif untuk menjaga ketahanan industri nasional. Strategi yang disebut antara lain memperkuat struktur industri hulu, meningkatkan penggunaan bahan baku dalam negeri, serta memperluas diversifikasi pasar ekspor.

“Penguatan industri hulu dan peningkatan penggunaan produk dalam negeri menjadi sangat penting agar industri manufaktur Indonesia tidak terlalu bergantung pada pasokan global yang rentan terhadap gejolak geopolitik,” kata Agus.

Pemerintah juga mendorong peningkatan efisiensi energi di sektor industri serta percepatan transformasi menuju industri hijau untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil yang harganya dipengaruhi dinamika geopolitik global. Agus menyampaikan keyakinannya bahwa industri manufaktur nasional memiliki ketahanan yang cukup kuat, didukung struktur industri yang semakin terdiversifikasi dan peran manufaktur sebagai tulang punggung perekonomian.

Agus menambahkan Kemenperin akan terus berkoordinasi dengan pelaku industri, asosiasi, serta kementerian dan lembaga terkait guna memastikan sektor manufaktur tetap tumbuh dan berdaya saing di tengah dinamika ekonomi global.

Dalam konteks mitigasi dampak konflik, Agus juga mengaitkan langkah pemerintah dengan penguatan ketahanan pangan dan ketahanan energi nasional yang menjadi program prioritas Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, ketahanan pangan dan energi penting dalam menghadapi ketidakpastian geopolitik, serta membutuhkan dukungan kuat dari sektor industri manufaktur.

“Program ketahanan pangan dan energi yang menjadi prioritas Presiden Prabowo merupakan langkah strategis untuk memperkuat kemandirian ekonomi nasional. Industri manufaktur memiliki peran penting dalam mendukung upaya tersebut, mulai dari penyediaan sarana produksi pertanian, industri pupuk, alat dan mesin pertanian, hingga pengembangan teknologi energi,” ujar Agus.

Ia menegaskan sektor industri berkontribusi dalam mendukung swasembada pangan melalui industri pupuk, alat dan mesin pertanian (alsintan), pengolahan pangan, serta kemasan. Di bidang energi, industri manufaktur disebut berperan dalam pengembangan teknologi energi baru dan terbarukan, produksi komponen pembangkit listrik, pengembangan kendaraan listrik, hingga industri petrokimia sebagai bagian dari rantai pasok energi.

Agus mengatakan Kemenperin juga memperkuat kebijakan peningkatan penggunaan produk dalam negeri (P3DN) serta pengembangan rantai pasok domestik untuk mengurangi ketergantungan impor bahan baku dan meningkatkan nilai tambah di dalam negeri. Pemerintah turut mendorong transformasi industri menuju industri hijau dan peningkatan efisiensi energi di sektor manufaktur.

“Kami optimistis bahwa dengan penguatan struktur industri nasional serta dukungan terhadap program ketahanan pangan dan energi, sektor industri manufaktur Indonesia akan tetap mampu tumbuh dan berdaya saing meskipun menghadapi berbagai tantangan global,” pungkas Agus.