BERITA TERKINI
Ketegangan Global Bergeser ke Perang Ekonomi, Indonesia Diminta Siapkan “Mode Ekonomi Perang”

Ketegangan Global Bergeser ke Perang Ekonomi, Indonesia Diminta Siapkan “Mode Ekonomi Perang”

Dunia dinilai tengah memasuki fase baru konflik global yang ditandai dengan menguatnya perang ekonomi. Ketegangan geopolitik tidak lagi berhenti pada retorika diplomatik atau unjuk kekuatan militer, melainkan bergeser ke instrumen yang lebih halus namun berdampak luas, seperti blokade jalur logistik, sanksi ekonomi, manipulasi rantai pasok, hingga guncangan harga komoditas strategis.

Dalam situasi tersebut, dinamika pasar global disebut tidak lagi berdiri semata sebagai mekanisme ekonomi, melainkan telah menjadi alat tekanan terhadap kedaulatan ekonomi suatu negara. Kondisi ini membuat negara-negara perlu menyesuaikan cara pandang dalam merumuskan kebijakan, karena asumsi dunia yang stabil—perdagangan global yang lancar dan pasokan energi yang relatif terjamin—dinilai perlahan menghilang.

Indonesia, dalam konteks ini, dinilai tidak bisa lagi menjalankan kebijakan dengan mentalitas “masa damai”. Negara disebut perlu mulai berpikir dalam kerangka “Mode Ekonomi Perang”, yang dimaknai sebagai mobilisasi seluruh kapasitas ekonomi nasional untuk menjaga ketahanan dan kelangsungan hidup negara di tengah turbulensi global yang semakin tidak menentu.

Konsep tersebut ditegaskan bukan berarti mobilisasi militer atau penerapan ekonomi komando secara ekstrem. Penekanannya adalah pada kemampuan negara mengerahkan sumber daya ekonomi untuk memastikan ketahanan nasional ketika guncangan global terjadi, terutama yang berkaitan dengan pasokan dan harga barang strategis.

Dalam perang ekonomi, dampak terbesar disebut kerap muncul bukan melalui kerusakan fisik seperti pada perang konvensional, melainkan melalui tekanan inflasi. Ketika konflik global mengganggu jalur perdagangan, harga energi, pangan, dan bahan baku strategis dapat melonjak. Dampaknya tidak tampak dalam bentuk kehancuran, tetapi perlahan menggerus daya beli masyarakat.

Negara-negara yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap impor strategis disebut akan merasakan tekanan paling besar. Indonesia memang memiliki kekayaan sumber daya alam, namun perekonomian nasional tetap terhubung erat dengan rantai pasok global, mulai dari energi, pupuk, hingga komponen industri. Ketika jalur pasokan global terganggu, ketergantungan tersebut dapat berubah menjadi kerentanan struktural.

Contoh yang disorot adalah kenaikan harga minyak mentah dunia yang dapat langsung meningkatkan biaya logistik nasional. Pada saat yang sama, gangguan pasokan pupuk global berpotensi menaikkan biaya produksi petani. Kombinasi keduanya dinilai dapat menciptakan tekanan inflasi yang merembes hingga ke tingkat rumah tangga.