Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali menempatkan ekonomi global dalam posisi rapuh. Eskalasi konflik yang melibatkan Iran serta negara-negara Barat memicu kekhawatiran terhadap stabilitas harga energi, laju inflasi global, hingga prospek pertumbuhan ekonomi dunia.
Sejumlah lembaga keuangan dan organisasi internasional menilai dampak ekonomi dari konflik ini sangat bergantung pada durasi perang serta sejauh mana pasokan energi global terganggu. Jika konflik berlarut-larut, lonjakan harga minyak dan gas berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi dunia sekaligus memperburuk tekanan inflasi.
Berbagai laporan mencatat pasar global mulai merespons meningkatnya ketegangan melalui kenaikan harga energi, volatilitas pasar keuangan, dan bertambahnya ketidakpastian terkait kebijakan moneter.
Salah satu jalur utama yang membuat konflik Timur Tengah berdampak besar pada perekonomian global adalah pasar energi. Kawasan tersebut merupakan pusat produksi minyak dan gas dunia, sekaligus jalur distribusi energi yang krusial bagi banyak negara.
Konflik yang melibatkan Iran dinilai berpotensi mengganggu jalur perdagangan energi strategis seperti Selat Hormuz. Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia yang diperdagangkan melalui laut melewati jalur ini, sehingga setiap gangguan dapat memicu lonjakan harga energi global.
Serangan militer dan aksi balasan yang terjadi sejak akhir Februari 2026 juga dilaporkan telah mendorong kenaikan harga minyak secara signifikan. Harga minyak mentah Brent disebut melonjak sekitar 10 hingga 13 persen, dari sekitar 70 dollar AS per barel menjadi lebih dari 80 dollar AS dalam hitungan hari. Saat ini, harga minyak mentah Brent berada di kisaran 92 dollar AS per barel.
Kenaikan harga energi tersebut memunculkan kekhawatiran baru terhadap inflasi global, mengingat energi merupakan komponen biaya penting di berbagai sektor. Reuters mengutip analis Goldman Sachs yang memperkirakan lonjakan harga minyak hingga 100 dollar AS per barel dapat menurunkan pertumbuhan ekonomi global sebesar 0,4 poin persentase.
Lonjakan harga minyak dan gas juga meningkatkan risiko inflasi global. Ketika harga energi naik, biaya produksi dan transportasi ikut terdorong, lalu merembet ke berbagai sektor ekonomi, termasuk industri manufaktur, logistik, hingga harga pangan.

