Teheran — Eskalasi konflik antara Amerika Serikat-Israel dan Iran memicu gejolak di pasar ekonomi global. Ketegangan geopolitik yang meningkat dalam sepekan terakhir mendorong harga minyak dunia melonjak tajam, sementara indeks saham internasional bergerak melemah.
Dampak paling cepat terlihat pada pasar energi. Harga minyak mentah Brent North Sea dilaporkan naik ke US$92,69 per barel, menguat 8,5% dalam satu hari dan hampir 30% dalam satu pekan. Kenaikan tersebut dikaitkan dengan penutupan efektif Selat Hormuz, jalur pengiriman strategis yang menyalurkan sekitar seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam cair dunia.
Kepala Makro Global ING, Carsten Brzeski, menilai situasi ini mempertegas besarnya ketidakpastian yang menyelimuti perekonomian. Ia menyebut kondisi geopolitik dunia sebagai “kuali ketidakpastian yang mendidih” dan menggambarkan ketegangan semacam ini sebagai “normal baru” bagi ekonomi global.
Di pasar keuangan, saham-saham di Eropa dan Amerika Serikat dilaporkan merosot setelah Presiden Donald Trump meminta Iran melakukan “penyerahan tanpa syarat”. Sejumlah ekonom juga memperingatkan bahwa lonjakan harga energi berisiko memicu kembali tekanan inflasi di negara-negara maju, yang sebelumnya diperkirakan akan mereda pada 2026.
Kepala Ekonom Inggris di Barclays, Jack Meaning, menyoroti rapuhnya prospek ekonomi di tengah rangkaian guncangan yang berulang. Menurutnya, dunia memasuki fase di mana selalu ada peluang guncangan baru menghantam sistem keuangan global.
Konflik ini juga disebut mulai berimbas pada sektor ketenagakerjaan. Amerika Serikat dilaporkan kehilangan 92.000 pekerjaan pada Februari, tepat sebelum konflik dengan Iran pecah secara terbuka. Di Inggris, tingkat pengangguran tercatat mencapai 5,1%, level tertinggi di luar masa pandemi dalam hampir satu dekade.
Ekonom senior Resolution Foundation, Hannah Slaughter, memperingatkan risiko memburuknya kondisi pasar kerja di Inggris. Ia menyebut negara itu berpotensi memasuki 2026 dengan pengangguran yang meningkat dan risiko pendapatan atau upah mulai menyusut kembali.
Di sisi lain, gangguan pada aktivitas transportasi dan perdagangan turut menambah tekanan. Dengan puluhan ribu penerbangan dibatalkan serta rantai pasokan global yang kian terfragmentasi, para ahli memproyeksikan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) global dapat melambat secara signifikan sepanjang 2026.
Ketidakpastian semakin tajam seiring sikap keras para pemimpin politik. Presiden Iran Masoud Pezeshkian menanggapi tuntutan penyerahan diri dari Amerika Serikat dengan menyebutnya sebagai “mimpi yang harus mereka bawa ke liang lahat”.

